Nadia menunduk di balik jok kursi. Tangannya gemetar, wajahnya pusat pasi. Mengangkat kepala berusaha melihat ke samping.
"May," bisiknya pada Mayra yang sama-sama menunduk di sisinya.
"Kamu nggak apa-apa kan Nad?"
Nadia manggeleng walau tangannya masih bergetar hebat. Keduanya beralih menatap Melisa. "Aku nggak apa-apa," Melisa bicara dengan suara gemetar dan linangan air mata.
"Guys, kalian nggak apa-apa kan? Gimana, ada yang luka? Teh Hana, Wildan, cewek-cewek di belakang, halo??" terdengar suara Naufal menanyakan keadaan teman-temannya.
"Mas Bimo!!" Belum juga ada yang menjawab, setengah berteriak Naufal memanggil Mas Bimo, yang ternyata tak sadarkan diri.
Bersyukur warga sekitar segera menolong. Mereka dibawa ke salah satu rumah warga untuk memperoleh pertolongan pertama sambil menunggu ambulans datang. Saat dikeluarkan dari mobil tadi, Nadia sempat melihat keadaan sekitar. Berderet mobil saling bertubrukan. Ternyata yang dialami Nadia tadi kecelakaan beruntun. Pantas saja suara dentuman, gesekan, benda saling bertabrakan seperti bersahutan. Entah berapa mobil yang terlibat. Sekilas Nadia juga melihat ada sepeda motor. Nadia tidak berani terus menatap. Perutnya mulai mual.
* * *
Ruang Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit terlihat riuh. Semua para korban kecelakaan dibawa ke Rumah Sakit ini karena tempatnya yang dekat dengan lokasi kecelakaan. Nadia, Mayra, Melisa dan Teh Hana duduk di ruang tunggu IGD sambil berpegangan tangan. Mereka saling menguatkan satu sama lain. Walaupun mereka hanya mengalami luka lecet, tapi syok yang dialami lebih terasa dari pada rasa perih di tubuh yang luka. Menurut Naufal yang duduk di kursi penumpang depan, kecelakaan sudah terjadi di depan mereka. Mas Bimo berusaha menghindari, namun naasnya mobil depan juga membanting setir ke arah yang sama. Beruntung mobil mereka tidak terbalik.
"Kalian sudah diobati kan?" tanya Naufal yang baru keluar dari ruang IGD.
Keempatnya mengangguk lemah. "Mas Bimo bagaimana, Fal?" tanya Nadia khawatir.
"Sudah diobati lukanya. Sudah sadar juga. Tapi harus nunggu observasi dulu. Biar ditemani Wildan di dalam. Pusing aku lama-lama di dalam, rintihan korban yang luka parah tadi bikin perut melilit."
Nadia mengamati kesibukan para tenaga kesehatan dan dokter yang menangani pasien. Ingatannya kembali ke beberapa tahun lalu. Nadia pernah berada di tempat ini. Duduk di ruang tunggu yang sama.
Nadia duduk sambil menekan-nekan lututnya yang selesai diperban. Tiba-tiba seorang laki-laki sudah jongkok di hadapannya. "Perih banget ya?" tanya laki-laki itu sambil mengipasi lutut Nadia dengan tangan kemudian meniupnya lembut. Nadia menggangguk manja. "Bisa nggak jalan ke parkiran. Aku gendong aja ya," usul laki-laki itu sambil tersenyum lembut. Senyuman yang selalu mampu membuat d**a Nadia berdesir. Nadia balas tersenyum lalu mengangguk mantap. Sebenarnya luka di lututnya tidak separah itu sampai tidak bisa berjalan. Nadia terjatuh dari motor saat akan berbelok gang menuju tempat kosnya. Sejurus kemudian Nadia sudah ada di punggung laki-laki tegap itu. Berjalan menyusuri koridor IGD sampai ke parkiran. Mengabaikan bermacam-macam jenis tatapan orang. Ada yang sinis, ada yang geli, ada juga tatapan mencemooh. Namun ada juga tatapan maklum. Orang kalau lagi jatuh cinta dunia memang serasa milik berdua.
Nadia tersadar dari lamunannya saat Teh Hana menyodorkan minuman. Rupanya Teh Hana sempat ke kantin untuk membelikan minuman teman-temannya. Nadia meneguk air mineral dalam botol kecil sampai tandas. Berharap kesegaran air bisa menghilangkan sisa-sisa rasa takutnya.
"Nadia?"
Nadia mendongakkan kepala, saat tiba-tiba terdengar seseorang memanggil. Ekspresi kaget Nadia terlihat jelas. Hal terakhir yang diinginkan Nadia saat ini adalah bertemu orang-orang di masa lalunya. Namun Nadia tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bang Rendi, apa kabar?"
Laki-laki yang menggunakan seragam dinas coklat itu melihat Nadia dengan tatapan tak percaya. "Lagi di Jakarta ya? Kok di sini, siapa yang sakit?"
"Ini. Aku sama teman-teman juga terlibat kecelakaan tadi," jawab Nadia sambil menunjukkan luka-luka yang ada di tubuhnya. Nadia menjelaskan singkat tentang acara kantornya dan kronologis kecelakaan yang dialaminya.
"Ya, Tuhan. Tapi nggak apa apa semuanya kan?"
"Nggak apa apa, Bang. Cuma, teman yang satu lagi masih diobservasi di dalam." Nadia ragu ingin bertanya kenapa Rendi ada disini. Nadia takut dianggap kepo. Walaupun dulu mereka akrab karena Rendi sahabat mantan pacarnya. Tetapi sudah lama sekali mereka tidak saling kontak.
Seolah bisa membaca pikiran Nadia, Rendi menjelaskan, "ini, aku lagi tinjau TKP sekalian liat para korban. Udah dua tahun aku dipindahkan di polres sini. Andra juga di sini. Tapi beda tempat sih. Dia di reskrim."
Mendengar nama Andra disebut, jantung Nadia mencelus. Nadia hanya bisa berdoa semoga tidak bertemu. Rendi ingin mengatakan sesuatu saat ponselnya berbunyi. "Bentar ya, aku angkat telepon dulu."
Ketika Rendi berjalan agak menjauh untuk mengangkat telepon, Melisa duduk mendekat Nadia. "Itu tadi siapa Nad? Ganteng banget sih. Udah nikah belum?"
"Kamu tu ya, kalau liat orang ganteng radarnya langsung berbunyi," Mayra dengan ketus menjawab.
"B aja aslinya tuh. Coba nggak pakai seragam." Sambil tersenyum mengejek Naufal menimpali.
"Cowok kalau emang udah pakai seragam kayak gitu, mau tentara atau polisi, level ketampanannya tuh pasti meningkat pesat." Teh Hana ikut-ikutan menimpali.
Nadia hanya geleng-geleng kepala. Mereka sudah lupa trauma kecelakaannya, hanya dengan terapi lihat orang cakep saja. Ini baru Rendi yang mereka lihat, belum Andra yang jelas-jelas gantengnya beberapa level di atas Rendi. Nadia merutuk dalam hati. Bisa-bisanya dia memikirkan kegantengan Andra, orang yang tidak boleh ada di pikirannya lagi. Gara-gara Bang Rendi nih menyebut nama Andra.
Rendi yang sudah selesai telepon, kembali berjalan mendekat ke arah Nadia. Mereka lalu membicarakan masalah mobil yang rusak dan bagaimana mengurus perkara kecelakaan ini di kantor polisi. Nadia sekilas melirik Melisa yang melongo menatap Rendi.
Tiba-tiba mata Nadia menangkap bayangan seseorang yang berlari ke arah mereka. Seseorang yang sangat Nadia hafal posturnya meskipun dari kejauhan. Jantung Nadia tiba-tiba berdegup kencang. Semakin mendekat, semakin terlihat jelas wajahnya. Tetap sama seperti dulu. Hingga orang itu berdiri di depannya. Vidiandra Wijaya, wajahnya, tatapan matanya, senyumnya bahkan aroma tubuhnya tetap sama. Apa kabar jantung? Semakin tak terkodisikan. Tenang Nadia, dia cuma orang di masa lalu. Sudah tidak ada artinya lagi. Kita sudah di frekuensi yang berbeda. Nadia menenangkan batinnya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Nad? Mana yang luka? Parah nggak?" Andra yang kemudian jongkok di depannya menyentuh siku Nadia yang terluka. Nadia seperti de javu. Refleks Nadia menarik tangan, kemudian menoleh pada Rendi. Nadia berkata melalui tatapan matanya, "pasti Bang Rendi kan yang bilang pada Andra." Rendi hanya menggidikkan bahu sambil tersenyum.
"Aku nggak apa apa kok. Cuma lecet aja." Berusaha tenang Nadia menjawab. Sadar dengan apa yang dilakukannya, Andra berdiri mengusap tengkuknya dan berkata, "syukurlah kalau nggak apa-apa."
* * *