Andra menarik tangannya ke atas untuk meregangkan otot-ototnya. Dia baru saja keluar dari ruang rapat bersama Direskrim. Otak dan badannya sama-sama lelah. Kasus pembunuhan seorang pegawai stasiun TV membuatnya begadang beberapa hari ini. Andra melihat jam tangannya. Dia ada janji dengan Rendi, sahabatnya. Mereka berdua rencananya akan join membuka usaha sampingan kedai kopi. Untuk bekal masa tua kalau Rendi bilang. Mereka harus membahasnya secara matang mulai dari perencanaan, biaya, sampai pengelolaan nanti. Andra mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Orang di seberang lama sekali mengangkat telepon, membuat Andra mengernyitkan dahi.
"Dimana, lo?" kata Andra begitu sambungan telepon terhubung.
"Njir, salam dulu napa, ngegas kek cewek PMS." Rendi di seberang telepon menjawab.
"Pusing nih gue, kasusnya nggak kelar-kelar. Ngopi kemana gitu kek."
"Buruan kesini deh, lo. Ada Nadia disini. Dia kecelakaan. Habis ini gue share loc."
Tunggu-tunggu, Nadia yang dimaksud bukan Nadia yang ada dipikiran gue kan. Tapi nama Nadia yang kita berdua kenal cuma satu doang. Andra ingin bertanya namun Rendi sudah mematikan sambungan telepon. Notifikasi pesan masuk di ponselnya berbunyi. Andra memeriksa maps di layar ponselnya. Andra tahu lokasi ini karena dulu pernah kesana saat Nadia jatuh dari motor. Rumah Sakit ini dekat dengan lokasi kecelakaan beruntun tadi pagi. Sebelum rapat dimulai tadi, berita kecelakaan yang memakan banyak korban itu jadi topik perbincangan. Andra mengusap dahinya yang mulai berkeringat dingin. Kecelakaan tadi lumayan parah. Melibatkan banyak kendaraan. Pikiran-pikiran jelek mulai melintas di kepala Andra. Andra merasa sangat khawatir, memikirkan kemungkinan keadaan Nadia. Dia segera berlari keluar kantor Polda tanpa menghiraukan sekitar lagi. Bahkan Pak Direktur yang sempat berpapasan dengannya lupa tidak disapa.
Andra tidak tahu lagi berapa kecepatan berkendaranya saat ini. Yang dia tahu, dia harus segera sampai di Rumah Sakit. "s**t!!" umpatnya saat dia mulai melewati jalanan yang macet.
Andra ingin segera tahu keadaan Nadia. Sambil konsentrasi menyetir, dia berusaha menelepon Rendi tapi tidak diangkat. Andra membunyikan klakson berkali-kali saat mobil depan tak kunjung bergerak. Kalau sudah begini dia lupa kalau dia seorang polisi yang seharusnya memberikan contoh yang baik saat berkendara. Baginya tahu keadaan Nadia adalah segalanya. Perempuan yang tak pernah bisa hilang dari singgasana hatinya, bagaimana pun kerasnya dia berusaha. Bahkan setelah Andra mencoba membuka lembaran baru bersama orang lain. Setelah enam tahun berpisah dan tanpa saling berkabar, kenapa harus muncul dengan berita buruk seperti ini sih Nadia. Andra mengeluh dalam hati.
Setelah memarkir mobilnya di parkiran, Andra berlari menuju IGD. Netranya menangkap sosok perempuan cantik di samping Rendi. "Itu Nadia kan?" tanya Rendi pada dirinya sendiri. Andra bernapas lega, sepertinya Nadia baik-baik saja. Setelah mendekat, Andra jongkok di depan Nadia. Sambil tersenyum lembut Andra bertanya, "Kamu nggak apa-apa kan, Nad? Mana yang luka? Parah nggak?" Andra menyentuh siku Nadia yang terluka. Andra melihat Nadia menoleh ke arah Rendi, seperti tidak nyaman.
"Aku nggak apa apa kok. Cuma lecet aja." Akhirnya terdengar Nadia menjawab, tapi dengan canggung menarik tangan yang disentuh Andra. "Syukurlah kalau nggak apa-apa."
* * *
Sekarang Andra berada di kantin Rumah Sakit, duduk semeja dengan Wildan dan Naufal. Sementara Rendi harus melanjutkan tugasnya lagi mengawasi anggotanya melakukan olah TKP. Mereka akhirnya berkenalan tadi. Mereka lanjut membicarakan bagaimana urusan dengan kantor polisi dan jasa raharja. Naufal sudah menghubungi manajer divisi tadi setelah dia menerima pengobatan. Perwakilan dari perusahaan akan segera datang untuk membantu mengurusnya.
"Terus kalian bagaimana ini selanjutnya. Mau nginep sini dulu atau balik Bandung?" tanya Andra pada Naufal dan Wildan.
"Belum tahu sih Bang, nunggu orang kantor dulu bagaimana kebijakannya," Naufal menjawab.
"Iya, Bang. Satu temen kita ternyata belum bisa pulang. Tadi sempat muntah darah dikit. Kayaknya mau CT Scan dulu. Jadi harus rawat inap." Wildan menambahkan.
"Iya sih, kalian juga lebih baik istirahat dulu kayaknya. Besok baru balik. Kalau bingung mau naik apa, pakai mobil saya aja." Andra menawarkan pada Naufal dan Wildan.
"Makasih Bang." Wildan mengucapkan terimakasih.
Andra melirik ke arah Nadia duduk, di meja seberang bersama teman-temannya yang perempuan. Siapa ya tadi namanya Andra lupa. Saat matanya bersitatap dengan mata Nadia refleks Andra tersenyum. Andra selalu menyukai mata Nadia. Bulu matanya lentik alami. Kalau tersenyum atau tertawa matanya akan menyipit, yang membuat Nadia semakin terlihat manis.
* * *
Nadia mengaduk-aduk jus jeruk dingin di hadapannya. Entah sudah berapa lama hingga es batu di dalamnya mencair. Nadia mendongak, matanya bertemu dengan mata elang Andra. Saat Andra tersenyum Nadia jadi salah tingkah. Hal itu tak lepas dari pengamatan Mayra.
"Nad, kamu punya kenalan cowok-cowok ganteng tapi masih jomblo aja kek gini? Duh, aku sampai speechless deh tadi saat kenalan. Dua-duanya ganteng banget," suara Melisa mengangetkan Nadia.
Mayra menyikut lengan Melisa. Kemudian memberi isyarat untuk diam. "Yang namanya Andra itu mantan kamu kan, Nad?"
Nadia terkejut bagaimana bisa Mayra langsung tahu.
"Omegod, pantesan kamu cuek banget sama Bang Ryan, belum bisa move on ternyata. Ganteng banget sih mantannya," lagi-lagi Melisa yang menyahut. Ryan adalah manajer keuangan baru di kantor yang mengejar-ngejar Nadia.
"Udah move on kali, Mel. Dia juga udah nikah kok," jawab Nadia sambil menunduk.
"Hah??" kali ini Mayra dan Melisa terkejut bersamaan.
"Yang bener Nad? Tadi perlakuan dia ke kamu sweet banget loh. Aku pikir dia masih sayang sama kamu." Mayra tak percaya mendengar informasi dari Nadia.
"Sayang banget udah nikah, tadinya aku mau dukung loh, kalau kamu balikan lagi sama dia. Biar aku sama Bang Rendi aja," kata Melisa sambil mengedip-ngedipkan matanya genit, kemudian melanjutkan, "eh tapi nggak apa-apa deh Nad, balikan. Jaman sekarang memang suami orang lebih menantang."
Nadia dan Mayra langsung melotot. "Gila kamu ya Mel. Secinta-cintanya aku sama Andra nggak mungkin lah aku jadi pelakor."
"Emang kamu masih cinta sama dia?" Mayra mulai menyelidik.
Nadia hanya menggidikan bahu. "Eh, Teh Hana tadi kemana ya?" Nadia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lagi nyari tempat yang agak sepi, mau ngabarin suaminya." Mayra kemudian menggenggam tangan Nadia. Menatap dengan lekat ke mata Nadia. "Nad, masih banyak cowok cakep di luar sana. Sekuat apapun godaan pesona Andra, kamu jangan sampai jadi pelakor ya, Nad. Aku akan selalu ada di sisi kamu Nad. Menemani kejombloanmu."
Nadia tertawa, "iya iya, May. Nggak usah lebay gitu deh, aku masih tahu batasan kok. Nggak mungkin aku menyakiti sesama perempuan."
"Kalian kenapa sih? Kalau emang jodohnya kita suami orang gimana? Kita kan nggak tau jodoh kita siapa. Hanya Tuhan yang tahu kan," tanpa merasa berdosa Melisa mengeluarkan pendapatnya.
"Duduknya geser sini deh, Mel. Biar aku jitak kepala kamu, biar bisa mikir dengan benar." Mayra berusaha menarik Melisa agar duduk mendekat dan menjitak kepalanya. Bukannya marah Melisa malah menjerit sambil tertawa. Nadia tersenyum, bersyukur memiliki sahabat yang mendukungnya. Sampai ada orang yang berdehem di samping mereka.
"Ehemm."
Mereka serempak menoleh. Andra sudah berdiri di samping mereka.
"Boleh bicara sama Nadia sebentar?"
* * *