Saat ini Andra dan Nadia duduk berhadapan di kantin Rumah Sakit yang lumayan ramai. Mayra dan Melisa tahu diri dengan membiarkan Nadia dan Andra untuk berbicara berdua. Namun sebelum beranjak pergi, Mayra lewat tatapan matanya memperingatkan Nadia agar jangan tergoda ataupun menggoda suami orang.
"Gimana kabar kamu selama ini, Nad?" dengan kikuk Andra membuka percakapan. "Well, maksudku sibuk apa, kerja dimana?" Andra berusaha untuk tidak terlihat kepo. Andra tidak mau kalau Nadia merasa tidak nyaman. Setelah mereka memutuskan untuk berpisah enam tahun lalu mereka hilang kontak. Baik Andra maupun Nadia tidak berusaha untuk menghubungi satu sama lain. Sama-sama mengganti nomor ponsel mereka dengan yang baru. Juga saling menutup akses ke akun sosial media masing-masing.
Nadia menghela napas kemudian menjawab, "sibuk kerja aja, masih gini-gini aja sih, staf biasa."
Andra manggut-manggut sambil pandangannya tak lepas mengamati penampilan Nadia. Nadia sedikit berubah dari terakhir mereka bertemu. Kulitnya tetap putih bersih, wajahnya yang ayu selalu dipoles make up tipis. Rambut sepunggung yang dulu berwarna hitam kini diwarna cokelat ombre dengan ujung rambut bergelombang. Hari ini rambutnya dikuncir ekor kuda dengan anak rambut yang berantakan, efek dari peristiwa kecelakaan tadi. Ingin rasanya Andra membelai dan menyelipkan anak rambut itu di telinga Nadia.
"Kalau kamu gimana?" Nadia balik bertanya. Kini giliran Nadia mengamati Andra. Tak banyak perubahan. Tubuhnya tetap atletis hanya badannya lebih berisi. Wajahnya terlihat sedikit lelah. Mungkin karena tekanan pekerjaan, atau sekarang jabatannya sudah tinggi jadi tanggung jawabnya lebih besar. Atau mungkin dia harus ekstra bagi waktu antara anak, istri dan pekerjaannya. Begitulah pikiran Nadia menganalisa.
"Ya seperti yang kamu tahu lah, rotasi sana-sini. Terakhir ini di polres. Bersyukur sih bisa sama Rendi akhirnya."
Memang pekerjaan Andra mengharuskannya siap untuk di mutasi ke mana saja. Bahkan luar pulau. Nadia tahu betul itu karena dulu mereka selalu berbagi cerita tentang pekerjaan mereka.
"Akhirnya, Ipin Upin bisa sama-sama lagi ya," kata Nadia sambil tertawa, matanya terlihat menyipit.
Duh, manis banget sih. Andra gemas sendiri.
"Iya, masih ingat aja kamu julukan kami."
"Ingatlah, kamu dulu hampir satu minggu uring-uringan kan waktu Bang Rendi mutasi ke Surabaya."
Andra tertawa, "terus akhirnya tiap hari aku datang ke kosan kamu, gangguin kamu terus, karena bingung nggak ada temen."
Mereka berdua tertawa mengingat waktu kebersamaan mereka. Tapi tiba-tiba mereka salah tingkah. Tidak seharusnya mereka mengenang masa lalu bersama seperti ini.
"Ehem," Andra berdehem setelah hening beberapa saat. Mereka terlihat sama-sama canggung.
"Kamu.." Andra menjeda sebentar, "sudah menikah?"
Hening sejenak, kemudian terdengar Nadia menjawab, "belum". Buat apa bohong toh memang kenyataannya aku belum menikah. Pikir Nadia dalam hati.
Andra terkejut mendengar jawaban Nadia, tapi dia bisa menguasai diri. Oh, oke belum menikah ya? Kalau gebetan punya nggak ya? Ingin bertanya lebih lanjut tapi takut menyinggung perasaan Nadia. Apakah Nadia baik-baik saja selama ini? Ataukah dia masih terluka karena keputusan pahit yang harus mereka ambil. Tidak mungkin Nadia yang cantik dan pintar seperti ini tanpa ada laki-laki yang mendekati.
"Aku memang fokus di karir dulu sih. Nikmatin dulu. Kalau nanti udah nikah penginnya sih di rumah aja fokus keluarga."
Nadia menjelaskan tanpa Andra tanya. Mungkin tidak ingin Andra berfikir yang tidak-tidak.
"Kamu nggak pengin tanya balik, Nad?"
"Tanya apa?" Nadia bingung. Tapi kemudian Nadia tahu maksud Andra. "Oh aku udah tahu kok, kamu udah nikah kan? Btw, selamat ya walaupun telat banget baru ngucapin sekarang."
Mata Andra terbelalak. Dari mana Nadia tahu. "Kamu stalking-in aku ya?" kata Andra sambil tersenyum simpul.
"Hah?" mata Nadia sedikit membola dan wajahnya merona, ekspresi kalau dia sedang malu. Andra tahu betul itu. Buru-buru Nadia mengklarifikasi, "dulu sih, waktu awal-awal kita putus." Lalu Nadia menunduk, menyeruput es jeruknya sampai habis.
"Oh iya, kabar Ayah sama Ibu gimana? Udah tahu kalau kamu kecelakaan?" Andra teringat pada orang tua Nadia.
"Mereka baik. Sengaja nggak aku kabarin sih, takut mereka khawatir, soalnya lagi ke Solo sama Nindy. Lagian aku juga nggak apa apa ini."
Andra mengangguk-angguk paham, "kalau Nindya apa kabar? Pasti tambah cerewet itu anak?" Nindya adalah adik Nadia. Dulu mereka sering bertemu saat Nindya berkunjung ke kos Nadia di Jakarta.
"Nindy baru lulus. Belum juga nyari kerja udah pengen nikah aja dia."
"Wah, nggak bisa gitu dong, masa kakaknya mau dilangkahin," kata Andra sambil senyum menggoda, "makanya buruan Nad, nunggu apalagi. Aku udah nggak sabar ini."
"Uhuk... uhuk..." tiba-tiba Nadia terbatuk-batuk, mungkin tersedak air liurnya sendiri. Kalimat Andra yang terakhir ambigu banget.
Andra berdiri mengambil air mineral di atas etalase samping tempat duduknya, membuka tutupnya dan menyerahkan ke Nadia. Andra jongkok di samping Nadia mengusap-usap punggung Nadia berharap bisa meredakan batuknya. Nadia meneguk air mineral sambil menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Dalam hati Nadia merutuk.
"Udah nggak apa-apa kan?" melihat Nadia sudah tidak batuk lagi Andra memastikan, "kita cek lagi aja ya, mungkin pemeriksaannya tadi ada yang terlewat. Ada yang terasa sakit nggak?"
Nadia menggeleng, "aku nggak apa apa kok, udah diperiksa menyeluruh tadi."
Andra kembali duduk di kursinya. "Nad, sori kalau kata-kataku tadi buat kamu nggak nyaman. Aku memang nggak sabar liat kamu nikah. Tapi bukan berarti aku maksa kamu loh. Menikah memang urusan pribadi masing-masing orang. Tapi yang jelas aku cuma ingin melihat kamu bahagia."
"It's okay," jawab Nadia singkat.
Saat mata mereka bertemu, Nadia segera memalingkan pandangan ke arah lain. Andra ingin mengatakan sesuatu pada Nadia, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan isyarat Andra meminta ijin untuk mengangkat telepon.
"Halo sayang."
"......."
"Iya, nanti dibelikan ya."
"....."
"Ini sudah mau pulang."
"....."
"Oke, see you."
Andra menutup teleponnya. "Nad, aku pamit dulu ya, harus balik kantor dulu nih. Semoga luka kamu cepet sembuh ya. Salam buat ayah, ibu, sama Nindy." Sebenarnya Andra masih ingin berlama-lama dengan Nadia. Rasa rindunya yang menggunung sedikit terobati setelah bertemu dan mengobrol dengan Nadia. Dan mengetahui fakta kalau Nadia belum menikah, justru membuat Andra bahagia. Entahlah, mungkin Andra terlalu egois.
Nadia mengangguk, "iya, nanti aku sampaikan."
"Sampai ketemu lagi, Nad."
Nadia menggangguk, dalam hati dia berdoa semoga ini benar-benar pertemuan terakhir mereka. Semoga dia dan Andra tidak bertemu lagi. Karena bertemu dengan Andra tidak baik untuk kesehatan hati dan jantung Nadia. Nadia melihat Andra berpamitan dengan Naufal dan yang lainnya. Nadia menatap punggung Andra yang berjalan keluar Rumah Sakit dengan wajah sendu. Nadia merasa seperti ditinggalkan untuk kedua kalinya.
* * *