Andra membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. Rumah dua lantai dengan gaya klasik modern itu tampak lengang. Andra langsung menuju halaman belakang rumah yang luas. Benar dugaan Andra ternyata anggota keluarganya sudah berkumpul di gazebo yang ada di sudut halaman. Gazebo itu terletak di samping kolam renang yang airnya berkilauan terkena sinar matahari sore.
"Papa...," teriakan gadis kecil begitu melihat kedatangan Andra, kemudian berlari menyambutnya, "Papa bawa hadiahnya? Lama banget sih datangnya."
"Maaf sayang, Papa kan harus kerja dulu," kata Andra sambil memeluk gadis kecil itu lalu mengacak-acak rambutnya. Andra menyerahkan tas putih yang berisikan mainan.
"Waow...bagus banget," gadis kecil itu mengekspresikan kegembiraannya dengan histeris sambil meletakkan tangan di kedua pipinya.
"Caca suka?"
"Suka banget Papa, ini yang aku pengin."
"Bilang apa kalau gitu?"
"Terimakasih Papa," kata gadis kecil yang bernama Caca tersebut sambil mencium pipi Andra.
Andra menatap Caca putrinya yang mulai unboxing mainannya. Tadi sepulang dari Rumah Sakit, Andra ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya. Jam kerjanya juga belum berakhir. Andra baru sempat membeli mainan yang dipesan Caca sepulang dari kerja.
"Oma, aku nggak bisa buka." Tiba-tiba Caca berteriak memanggil Bu Merry, mama Andra. Wanita paruh baya yang dari tadi hanya mengamati interaksi ayah dan anak tersebut akhirnya datang menghampiri. Membantu cucunya untuk membuka mainan.
"Andra, kami semua mau bicara sama kamu. Kamu sana dulu temui Papa sama Bang Wilen. Mama bantuin Caca dulu, nanti Mama nyusul."
"Ada apa nih? Jadi deg-degan," kata Andra sambil tertawa menggoda mamanya. "Perasaan, aku bukan ABG lagi deh, mau disidang apaan nih?". Bu Merry mencubit lengan Andra yang tidak bisa diajak serius. Andra meringis kesakitan, lalu berjalan menghampiri papa dan kakaknya yang duduk di gazebo sambil mengusap-usap lengannya.
"Anak-anak nggak ikut Bang?" Andra ikut duduk di gazebo.
"Kagak. Dari kantor langsung sini. Kalau mereka ikut pasti susah diajak pulang. Kalau udah nginep sini, paginya sekolah repot. Ujung-ujungnya gue lagi yang salah nanti," curhat Wilen yang memang anggota Suami Suami Selalu Salah.
Andra dan papanya hanya tergelak. Kemudian Bu Merry ikut bergabung setelah memastikan cucunya dapat bermain dengan mainan barunya. Raut wajah mereka terlihat serius. Dengan penuh wibawa Pak Haris, papa Andra mulai berkata, "Ndra, kamu memang sudah dewasa, sudah tua malah. Kamu sudah bisa menentukan sendiri jalan hidupmu. Tapi kamu tetap anak kami. Kami hanya ingin kamu menjalani hidup dengan baik dan bahagia."
Andra belum bisa menebak kemana arah pembicaraan papanya. Tapi pasti sesuatu hal yang besar dan penting. Karena tidak mungkin hal biasa kalau kakaknya saja juga ada disini.
"Caca sudah mulai besar, dia butuh sosok ibu yang bisa mendampinginya. Bukannya Mama tidak sanggup, tapi kedudukan Mama berbeda, Andra. Apalagi sebentar lagi Caca mulai sekolah. Pasti akan ada pertanyaan tentang mamanya nanti. Dia pasti lihat teman-temannya ada mamanya." Mama Andra menyambung perkataan papa Andra.
Oh ternyata kesitu arahnya.
"Kami hanya ingin yang terbaik buat lo, Ndra. Adik temen gue, kerja di BUMN, cantik, keluarga juga jelas. Gimana kalau lo coba kenalan dulu." Wilen melanjutkan.
Yaelah..mau ngomongin perjodohan gini aja pakai diseting segala. Sampai tiga orang dapat jatah bicara. Gue belum persiapan jawaban lagi. Tiga lawan satu nih. Mampus deh gue.
Andra menghela napas, "oke, seperti yang papa bilang tadi, Andra udah dewasa, Andra tahu Caca butuh sosok mama, tapi bukan begini caranya dong Ma, Pa. Nggak perlu lah dijodoh-jodohin kayak gini. Kalau cuma perempuan mah Andra masih bisa nyari."
"Tapi mana buktinya? Sejauh ini kami lihat kamu selalu sendiri," kata mama Andra yang sarat kekhawatiran.
Andra menunduk, mengingat kembali bagaimana perjalanan hidupnya. Setelah berpisah dengan Nadia, Andra menikah dengan seorang perempuan yang baru dikenalnya satu bulan. Namun setelah dua tahun pernikahan, biduk rumah tangga yang ia bangun hancur. Istrinya pergi dari rumah dengan laki-laki lain. Meninggalkan Caca yang masih bayi merah bersamanya. Wilen menepuk-nepuk bahu Andra untuk memberi semangat.
Setelah mengumpulkan sejuta keberaniannya Andra berkata, "Sebenarnya ada seseorang yang ingin Andra dekati. Andra butuh dukungan kalian."
"Siapapun itu kalau memang yang terbaik buatmu kami akan selalu mendukung," kata pak Haris.
"Siapa nih? Gue kenal nggak?" tanya Wilen ingin tahu.
"Kenal." Andra mengatur napas. "Nadia... Andra ingin mendekati Nadia lagi," lanjut Andra sambil mengamati ekspresi ketiga orang di depannya. Rasa terkejut terlihat di wajah mereka bertiga. Andra hanya bisa meringis.
"Nadia? Mantan kamu? Yang dulu itu?" Bu Merry memastikan.
Andra mengangguk yakin. Mereka bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing, seperti mencerna informasi yang Andra sampaikan.
"Kalian bertemu lagi? Memangnya Nadia belum menikah?" tanya pak Haris.
Andra menceritakan pertemuan singkatnya dengan Nadia tadi siang.
"Tapi Ndra, kondisi kamu sekarang sudah berbeda. Apa Nadia mau menerima kamu lagi?" mama Andra bertanya dengan keraguan.
"Belum menikah bukan berarti nggak ada calon, bro. Lagian lo dulu udah nyakitin dia dalem banget, udah nggak mau merjuangin juga, langsung ditinggal nikah pula." Wilen menambahkan.
"Ck..." Andra berdecak, "sama-sama sakit kita mah, bukan dia doang, gue juga," ralat Andra.
"Kalau memang Nadia masih mau sama kamu, Papa sih dukung-dukung aja."
Mama Andra dan Wilen juga memberi dukungan yang sama. Andra bernapas lega. Ada atau tidak ada saingan, punya atau tidak punya calon suami, Andra akan tetap berjuang. Berjuang untuk mendapatkan cinta Nadia kembali. Kata orang sebelum janur kuning melengkung apapun masih bisa terjadi.
Dulu memang Andra tidak bisa berbuat apa apa. Karena perbedaan prinsip hidup yang tidak bisa ditemukan jalan tengahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, di saat Andra berada di jalan prinsip yang sama dengan Nadia, keadaan juga telah berubah. Andra sudah memiliki anak, apakah Nadia mau menerimanya kembali? Terbersit sedikit keraguan juga di hati Andra. Apakah gue se egois itu?
* * *