Nadia merapikan kembali berkas yang ditelitinya sejak dua jam yang lalu. Berkas itu harus segera diserahkan ke manajer keuangan karena sudah lewat waktu tenggat penyelesaian. Hari ini Nadia baru kembali masuk kerja setelah seminggu yang lalu dia cuti. Kantor memberi dispensasi pada Nadia dan teman-teman yang mengalami kecelakaan untuk istirahat di rumah. Nadia sangat sibuk sejak dia datang sampai kini sudah waktunya makan siang, karena menyelesaikan tugas-tugas yang menumpuk.
"Nad, makan dulu yuk," ajak Mayra yang mendatangi kubikel Nadia.
"Bentar ya May, aku antar ini dulu," kata Nadia sambil menunjuk berkas di tangannya. "Makan di kantin kan? Kamu duluan aja sama Melisa ntar aku nyusul."
"Oke, mau dipesenin sekalian? Mau apa?"
"Lagi pengin batagor nih. Pedes ya. Makasih Mayang, cantiknya Naufal," kata Nadia sambil tersenyum menggoda dan segera berlari saat Mayra melotot siap menimpuk Nadia dengan buku yang ada di meja.
Perjalanan menuju ruang manajer keuangan tidak semulus bayangan Nadia. Ini waktu istirahat makan siang, Nadia bertemu beberapa karyawan yang ingin keluar makan. Mereka yang begitu melihat Nadia, langsung berhenti sebentar untuk menanyakan kabar atau konfirmasi berita kecelakaan yang dia alami. Berita memang cepat sekali menyebar.
Akhirnya sampai juga di depan ruangan manajer. Nadia mengetuk pintu. Setelah mendapat ijin dari yang punya ruangan Nadia masuk dan langsung menyerahkan berkas di tangannya.
"Permisi Pak, ini berkas proyek hotspot yang Bapak minta."
"Oh iya, nanti saya periksa. Terima kasih ya Nad."
"Sama-sama, Pak. Kalau tidak ada yang Bapak butuhkan lagi saya pamit dulu Pak."
"Kamu sudah makan siang? Kita bareng aja yuk ke kantin?"
Nadia menggeleng, "belum Pak, tapi sudah dipesenin sih sama teman."
"Udah saya bilang jangan panggil Bapak lah, kesannya saya tua banget, kayaknya kita seumuran deh."
Nadia tertawa, "ya kali saya harus manggil nama doang kan nggak sopan, Bapak kan atasan disini."
"Saya kan bukan atasan kamu langsung, Pak Adiyatma yang atasan kamu. Panggil Bang Ryan aja, yang lain juga gitu kan."
Nadia hanya meringis. Ryan adalah manajer keuangan. Dia baru bergabung di kantor ini sekitar empat bulan yang lalu. Ryan pindah dari kantor cabang Palembang karena promosi jabatan. Ryan masih muda, seumuran Nadia, tapi karirnya sudah bagus. Apalah saya yang masih gini-gini aja dari dulu. Batin Nadia.
Mereka akhirnya berjalan beriringan menuju kantin sambil mengobrol ringan.
"Bagaimana keadaan kamu Nad? Waktu saya dengar kecelakaan itu kaget banget. Tapi nggak bisa berbuat apa-apa karena rapat juga belum mulai." Ryan saat itu ada acara di Palembang kantornya yang lama.
"Sudah baik kok Pak, sudah istirahat satu minggu juga. Lagian saya kan nggak luka parah. Mas Bimo yang sampai saat ini belum sembuh."
"O iya saya juga dengar itu, patah tulang rusuk ya katanya."
"Iya, Pak. Jadi sekarang dipindah ke Rumah Sakit di Semarang biar istrinya bisa ngerawat, dekat keluarga juga."
Mereka sampai di kantin kantor. Saat jam makan siang seperti ini biasanya kantin penuh sesak. Tapi hari ini tampak berbeda, hanya beberapa kursi yang terisi. Namun, tatapan mata orang-orang yang ada saat ini tertuju pada Nadia dan Ryan yang berjalan beriringan. Walaupun tidak secara terang-terangan menatap. Pasti gosip baru bakal segera tersebar lagi. Nadia dalam hati menggerutu. Di usianya yang sekarang, pertanyaan "kapan nikah?" sudah menjadi makanan pokok baginya. Jadi ketika dia dekat dengan seseorang sudah pasti akan jadi topik yang hangat untuk acara ghibah mereka. Apalagi yang berjalan dengannya sekarang adalah Ryan, manajer ganteng, ramah dan supel. Yang digila-gilai banyak karyawan perempuan yang masih lajang disini.
"Itu temen saya Pak, saya kesana ya Pak." Nadia menunjuk meja yang berisi Melisa, Mayra, dan Naufal. Nadia berusaha agar bisa membebaskan diri dari Ryan.
"Saya boleh ikut gabung kan? Itu kursinya juga masih cukup kan?"
Nadia hanya bisa tersenyum dan mengangguk pasrah. Ya kali mau ngelarang ini kan tempat umum.
"Lama banget sih Nad, tuh batagor kamu udah anyep," kata Melisa setelah Nadia mendekat.
"Maaf, saya yang ngajak ngobrol Nadia jadi lama sampainya." Sebelum Nadia menjawab, Ryan sudah lebih dulu menjelaskan.
Mayra dan Naufal saling tatap. Kemudian sama-sama melihat Nadia untuk menuntut penjelasan. Mayra dan Naufal tahu kalau Ryan memang suka dengan Nadia. Hal itu terlihat jelas karena Ryan sering memberi perhatian lebih pada Nadia. Ryan memang ramah ke siapa saja. Tapi sebagai teman yang sering bersama-sama, Mayra dan Naufal tahu kalau ramahnya Ryan ke Nadia itu beda. Sedangkan Nadia pernah memberitahu, kalau Nadia sangat tidak nyaman dengan perhatian Ryan. Tapi, kenapa sekarang malah ngobrol dan jalan ke kantin bersama? Apa Nadia mulai luluh? Mayra berasumsi sendiri.
"Ya udah yuk makan," ujar Melisa, "Bang Ryan mau makan apa? Mau saya pesankan?"
"Oh nggak usah, saya bisa pesan sendiri kok," tolak Ryan secara halus, "kamu mau dipesankan yang lain Nad? Batagor kamu kan sudah dingin?"
"Nggak usah Pak, ini aja, mubazir kalau nggak dimakan."
Saat Ryan pergi untuk memesan makanan, kesempatan itu digunakan Mayra untuk menginterogasi Nadia. "Kok bisa sama-sama Bang Ryan? Udah lampu hijau nih?"
"Lampu hijau apaan sih May, aku kan baru dari ruangan dia, nyerahin berkas yang tadi aku bilang." Nadia menjawab sambil menyuapkan batagor ke mulutnya, "terus dia mau barengan jalan ke kantin. Ya udah gitu, sama-sama kesini."
"Bukan karena yang kemarin kan? Kamu takut jadi pelakor ya akhirnya kamu membuka hati buat Bang Riyan?" Mayra masih gigih menginterogasi.
"Hah? Nadia jadi pelakor? Laki siapa yang direbut?" Naufal kaget dengan pertanyaan Mayra.
"Cowok cakep di Jakarta kemarin, mantannya Nadia, tapi udah punya bini." Melisa yang menjawab rasa penasaran Naufal.
"Yang mana nih? Rendi apa Andra?" Naufal masih penasaran juga. Kebanyakan ikut gabung dengan Nadia, Mayra dan Melisa nih jadi tertular suka ghibah juga.
"Ya Andra lah, Fal. Apa kamu nggak liat sweet banget perhatiannya ke Nadia. Yang ngobrol sama Nadia kemarin juga Andra kan?" Mayra selalu saja sewot kalau sudah berurusan dengan Naufal.
"Aku nggak lihat, Mayang. Yang terlihat di mataku itu hanya kamu."
Mayra memutar bola mata kemudian memperlihatkan ekspresi mau muntah.
Nadia menikmati makanannya. Mengunyah batagor di mulutnya dan menelan sebelum menanggapi teman-temannya. Baru saja Nadia akan menjawab. Ryan sudah kembali bergabung dengan mereka.
"Maaf, ketemu teman sama-sama pesan makan, jadi ngobrol sebentar deh."
"Teman apa penggemarnya Bang Ryan nih?" Melisa rajin banget menanggapi Ryan.
"Waduh, udah kayak artis aja saya, punya penggemar segala."
Tiba-tiba ponsel Ryan berbunyi. Ternyata ada panggilan dari Direktur. Mau tidak mau Ryan harus menghentikan makan siangnya yang bahkan belum disentuhnya sama sekali. Ryan pamit untuk memenuhi panggilan atasan. Di saat seperti ini Nadia bersyukur jadi staf biasa, bukan orang penting yang diperlukan kehadirannya dalam keadaan apapun.
Nadia menyelesaikan makan siangnya. Namun, tatapan teman-temannya belum beralih darinya. Masih menuntut penjelasan.
"Apaan sih, kalian? Masih penasaran aja?" tak tahan Nadia akhirnya bertanya. "Udah yuk balik, waktunya kerja lagi."
Namun ketiga temannya bergeming. Nadia menyerah, "oke..., aku memang ingin membuka hatiku buat seseorang. Nggak ada salahnya kan mencobanya dengan Pak Ryan?"
"Nggak salah kok Nad, kami pasti akan dukung, asal jangan setengah hati ngejalaninnya, cuma karena nggak mau disebut pelakor aja." Mayra mulai tausyahnya.
"Kamu kenapa dulu bisa putus sama Andra, Nad?" kini Naufal yang bertanya.
"LDR," jawab Nadia singkat.
"What?? Cuma gara-gara LDR doang putus? Bandung-Jakarta?" Melisa super heboh sampai-sampai orang di meja seberang menoleh mendengar teriakan Melisa. "Hari gini lo Nad, Bandung-Jakarta deket ini, banyak pasangan LDR lebih jauh awet-awet aja."
Mayra memberi isyarat agar Melisa tidak terlalu heboh, para pengunjung kantin yang lain sudah menunjukkan rasa ingin tahu mereka.
Nadia menghela napas dalam, lalu berkata, "LDR rumah ibadah Mel."
Melisa melongo sampai tangannya yang baru saja mengoleskan lipstik di bibir berhenti bergerak.
Mayra terbelalak kaget, sedang Naufal yang tadinya bermain ponsel langsung memberikan perhatiannya pada Nadia. Hening beberapa saat.
"Berat sih kalau itu, emang lebih baik putus." Naufal akhirnya yang berbicara.
Nadia mengangguk lesu. Mayra menyikut Naufal karena merasa Naufal tidak peka. Naufal hanya meringis lalu memberikan bahasa isyarat kecupan bibir ke arah Mayra.
"Aku sependapat sama Naufal, LDR paling jauh itu mah." Akhirnya Melisa mengubah pendapatnya. Tumben-tumbenan orang ini pikirannya bener.
"Yaudah yuk balik, topiknya udah nggak enak banget, SARA nih." Naufal kemudian mengajak untuk kembali ke kantor karena waktu istirahat siang hampir habis.
Nadia berjalan gontai diapit Mayra dan Melisa. Mereka berdua merangkul Nadia memberikan semangat pada sahabatnya itu. Nadia bergantian menoleh pada Melisa dan Mayra. Nadia tersenyum, mulai menginstruksikan otak dan hatinya agar sinkron, untuk memulai awal yang baru bersama orang lain. Bersemangat untuk memulai cerita baru dalam kehidupannya.
* * *