Selina terlihat gugup sambil memainkan ujung cadarnya sesekali menatap ke arah luar dari balik kaca mobil.
"Kamu tenang saja setelah kita menemuinya saya jamin rentenir itu tidak akan berani mengganggumu lagi !"ucap Bryan dengan nada pelan menoleh ke arah Selina yang duduk di jok belakangnya.
"Saya juga berharap begitu mas...saya pun tidak tau lagi harus bagaimana membalas kebaikan Mas Dewan terhadap saya".
"sudahlah..oh ya ini kukembalikan handphonemu yang tertinggal di mobil waktu itu!".ucap Bryan memberikan handphone jadul itu dari saku celananya.
"saya pikir handphone saya terjatuh dimana ternyata tertinggal dimobil ini,terima kasih mas dewan".ucap Selina menerima handphonenya.
"kalau bukan karena suara handphone ini mungkin saya tidak tau bagaimana kondisi kamu sekarang Selina!"seru Bryan."iya mas dewan benar ..dan saya tidak tau mau kemana saat itu tanpa pertolongan mas dewan dan mas Virgoun!"sahutnya pelan.
Setelah dari perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam untuk sampai di lokasi dimana kediaman rentenir itu tinggal,akhirnya mereka tiba disana.
Terlebih dahulu Virgoun memarkirkan mobil mereka agak jauh dari rumah rentenir itu dan segera turun dari dalam mobil berjalan sedikit untuk menemui rentenir itu berada.
Didepan sebuah rumah yang dihalangi oleh pagar yang menjulang tinggi terlihat dua orang pria berbadan besar dengan berpenampilan seperti preman berjaga didepannya.
"hati hati Mas Bryan..!"seru Virgoun berjalan disamping bosnya bersama Selina.
"Dimana bos kalian kami ingin bertemu dengannya ?"tanya Bryan dengan tegas menatap kedua pria itu,melihat kedatangan mereka dua pria itu saling melirik dan mengamati mereka dengan seksama.
"siapa kalian ..ada keperluan apa dengan bos kami??"tanya salah satunya.
"Saya Bryan Sebastian Darmawan ingin menemuinya!".sahut Bryan menatap mereka berdua tanpa rasa takut.
"gue sepertinya kenal sama lo keliatan familiar buat gue "celetuk pria satunya mencoba mengingat .
"Kalian tidak tau beliau siapa???apa mau kami..."."sttt ...cukup Vir tidak penting menjelaskan kepada mereka !!".seru Bryan memberi tanda kepada Virgoun yang hampir emosi.
"Baik...ikut gue sekarang!!"seru pria satunya membuka pintu gerbang itu.
Mereka berjalan mengikuti pria itu dari belakang sambil mengamati keadaan sekitar.
"kalian tunggu disini jangan kemana mana!"seru pria itu menyuruh mereka menunggu di depan rumah yang terlihat cukup besar dan mewah.
"kalian semua masuklah!!bos sudah menunggu kalian didalam!"seru pria itu muncul dan menyuruh mereka semua masuk kedalam.
Disana terlihat seorang pria paruh baya dengan topi ala koboi dikepalanya duduk dengan kaki diatas meja bersama ketiga pria berwajah sangar yang berdiri di sampingnya yang seperti siap menyerang kapan saja.
"Selina ....akhirnya kau datang juga kesini!"serunya tertawa sambil bertepuk tangan bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Selina yang berdiri ketakutan di samping Bryan dan juga Virgoun.
Saat tangan rentenir itu ingin menyentuhnya dengan cepat Bryan melangkah maju dan menghadang pria itu dengan tatapan tajam.
"Hormati wanita ini pak Ridwan..!"ucap Bryan yang tetap bersikap sopan.
"Bryan Sebastian Darmawan suatu kehormatan bagiku karena kedatanganmu...!".seru Ridwan sambil memperhatikannya.
" kami datang kesini untuk menyelesaikan Masalah hutang piutangnya Mbak Selina denganmu bapak Ridwan dan kau sudah membuatnya merasa terancam dan tidak tenang selama ini!"seru Bryan.
"Dengar bapak Bryan yang terhormat ,masalah ini tidak ada sangkut pautnya denganmu,Selina itu calon istriku dia sudah menyetujuinya dengan menandatangani surat perjanjian hutang setelah tidak sanggup membayar hutangnya senilai 250 juta padaku ditambah bunganya yang mencapai 500 juta.. "ucap Ridwan memberitahu.
"Dia bohong Mas Dewan,saya tidak pernah menyetujui untuk menikah dengannya...!"pekik Selina menahan airmatanya yang menggenang.
"Tenang Selina jangan terbawa emosi".ucap Bryan berbisik padanya.
"Pak Ridwan saya tidak mau berbasa basi,saya yang akan melunasi hutangnya dan setelah itu kembalikan rumah peninggalan suaminya yang kau sita..dan jangan pernah mengganggunya lagi,Virgoun bawa sini cek nya!"seru Bryan dengan tegas.
Virgoun segera mengeluarkan cek kosong dari dalam tas kecil yang ia bawa dan menyerahkannya pada Bryan,melihat itu tiba tiba Ridwan tertawa keras.
"Ha. ha..ha ....Pak Dewan yang terhormat aku sudah tidak memerlukan itu semua,kau tau hutangnya sudah lewat jatuh tempo dan wanita ini harus menikah denganku...benarkan itu Selina!".
Ridwan menyuruh anak buahnya membawa map berwarna merah berisi surat perjanjian hutang yang dimana jika Selina tidak bisa membayar dalam waktu yang ditentukan maka dia harus rela menikah dengan pemberian pinjaman.
"b******n kau Ridwan,sudah punya banyak istri masih mengincar wanita lain!!"seru Virgoun merasa kesal.
"ini tanda tanganmu Selina..."ucap Bryan melihat surat perjanjian itu."saya sudah ditipu mas dewan dia memaksa saya untuk menandatangani surat yang belum sempat saya baca semuanya dan juga bagaimana saya bisa membayar hutang ratusan juga dalam waktu seminggu...ini tidak adil buat saya,pak Ridwan kamu sudah mengambil rumahku yang harganya saya rasa cukup membayar hutang kami tapi kenapa kamu masih mengincarku"seru Selina menangis.
"Kau tau kan Selina dari dulu aku menyukaimu,tapi kau jual mahal malah menikah dengan pria penyakitan itu dan ini kesempatanku untuk memilikimu,kalian cepat bawa wanita itu untukku sekarang juga!"seru Ridwan dengan nada tinggi menyuruh anak buahnya bertindak.
Dengan sigap Virgoun menghadang kedua pria itu dan saling baku hantam,melihat keadaan yang terlihat kacau Bryan segera membawa Selina pergi dari rumah itu.
"cepat kita pergi dari sini!!"seru Bryan memegang lengan Selina yang gemetar."tapii...mas Virgoun gimana ?"."Virgoun bisa mengatasi semuanya...ayo!!"seru Bryan berlari keluar.
"Kejar mereka jangan sampai lolos,aku tidak akan pernah menyerah,Selinaaaaa !!!!"teriak Ridwan mengejar mereka yang kabur.
Dua orang yang berjaga didepan tiba tiba terkejut melihat Bryan dan Selina yang keluar tergesa gesa dari rumah itu,satu orang menghadangnya namun dengan satu pukulan keras dari Bryan membuat pria itu jatuh pingsan.
Mereka segera masuk kedalam mobil dan berhenti tepat didepan gerbang membunyikan klakson agar Virgoun segera naik.
Virgoun yang jago bela diri segera lari dari dalam rumah itu memberi beberapa kali pukulan kepada Ridwan dan anak buahnya yang berusaha mengejar mereka dan masuk kedalam mobil.
Tanpa pikir panjang Bryan menancapkan gas meninggalkan rumah itu.
"Syukurlah kita selamat,lintah darat itu benar benar licik memanfaatkan wanita lemah sepertimu!"ucap Bryan berbicara pada Selina yang duduk disebelahnya sambil menyetir dengan kecepatan maksimal.
"saya akan menghubungi polisi untuk menangkap mereka..ini sudah kasus pemerasan biar si tua Bangka itu mendekam dalam penjara"seru Bryan.
"kau tidak apa apa Virgoun,kita kerumah sakit sekarang"."aku tidak apa apa ini hanya luka kecil Mas.."sahutnya memegang sudut bibirnya yang sedikit lebam.
"Maafkan saya Mas dewan ,Mas Virgoun semua gara gara saya kalian jadi kaya gini"ucap Selina merasa bersalah.
"sudah Selina jangan menyalahkan dirimu...pria itu harus dihukum berat,saya khawatir akan ada banyak korban lainnya yang menderita karena ulahnya".ucap Bryan sambil menghubungi beberapa koneksinya untuk membereskan masalah rentenir itu dan kembali pulang kerumah .
Dibalik pintu gerbang tampak Sasa yang berjalan mondar mandir menunggu kedatangan mereka.
Saat mobil mereka memasuki halaman,Sasa terlihat senang ia menghampiri mereka dengan perasaan lega.
"Mas dewan syukurlah kau selamat,aku sangat khawatir padamu dan juga kalian!"seru Sasa melihat keadaan mereka yang baik baik saja.
"kami baik baik saja Sasa... untungnya aku memiliki ajudan yang jago bela diri,dalam waktu singkat mereka semua tumbang di hajarnya!"ucap Bryan tersenyum melirik ke arah Virgoun .
"yasudah saya mau mandi dulu,kalian semua beristirahatlah..!"ucap Bryan berjalan masuk kedalam rumah.
Selina hanya mengangguk pelan ,ia merasa bersalah karena membuat Bryan terlibat dalam masalah hidupnya dan ikut masuk kedalam bersama Sasa .
Virgoun yang masih berdiri diluar memandangi Selina dari kejauhan dengan sorot tajam sambil berbicara.
"Semua ini karena kehadiran wanita itu,Mas Bryan hampir saja celaka tidak seharus ia menolong wanita miskin itu!!
Titt...Tiiit...
Terdengar suara pesan masuk dari handphone yang tergeletak diatas nakas Bryan yang baru saja selesai mandi dan belum sempat berpakaian segera mengambil handphonenya dan mengecek siapa yang mengirimnya pesan.
"BRIAN MALAM INI KUTUNGGU KAMU DI CAFE TEMPAT FAVORIT KITA DULU..."
"PLEASE ...JANGAN SAMPAI KAMU ENGGAK DATANG YA KITA HARUS BICARA!!
SANDRA