Ara memacu mobil merahnya menembus malam, meninggalkan kasino Judas dengan perasaan yang tidak enak. Bukan karena pria gila itu. Untuk sekali ini, bukan karena Judas. Ada urusan yang jauh lebih penting, jauh lebih mendesak, jauh lebih berdarah.
Seekor duyung tertembak tombak.
Ara menepikan mobil di sisi jalan yang sepi, di hamparan pantai yang sama seperti biasa. Tempat ini adalah titik pertemuannya dengan dunia bawah sana, dunia yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh manusia biasa. Dia melepas sepatu flat-nya, menggulung celana, dan berjalan masuk ke air laut yang dingin sampai sebatas lutut.
Kelingking kanan ditempelkan ke bibir. Suara siul lirih mengalun, menembus permukaan air, menjalar turun ke dasar lautan seperti pesan rahasia yang hanya bisa dibaca oleh penghuni sana.
Tidak sampai lima menit, dua sosok muncul dari dalam air. Vaza, duyung tertua dengan jenggot panjangnya yang berkilau tertimpa cahaya bulan, datang sambil menopang seorang duyung muda berambut hitam panjang. Duyung perempuan itu pucat pasi. Lengan kanannya dibalut dengan semacam rumput laut tebal yang sudah berubah warna menjadi merah kecokelatan.
Darah. Banyak sekali darah.
“Naya.” Ara mempercepat langkahnya, air laut berdesir membelah di sisi kakinya. “Bertahanlah. Aku di sini sekarang.”
“Putri Arandelle,” bisik duyung muda itu dengan suara yang bergetar. “Maaf, hamba merepotkan.”
“Diam. Jangan bicara.” Ara menatap Vaza dengan tatapan yang meminta penjelasan.
Vaza menggeleng pelan, wajah tua itu tampak lebih keriput dari biasanya. “Tombaknya menembus lengan, Putri. Untung saja bukan siripnya. Tapi tombak itu bukan tombak biasa. Ada semacam cairan di ujungnya. Racun yang membuat lukanya tidak mau menutup. Hamba sudah mencoba mengobatinya dua kali, tapi luka itu terus membuka lagi.”
Ara merasakan amarah menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh. Tombak beracun. Ini bukan lagi perburuan hiu biasa. Para pemburu itu sudah melengkapi diri mereka dengan senjata yang dirancang khusus untuk memastikan buruan mereka tidak bisa melarikan diri. Racun yang mencegah luka menutup artinya buruan akan terus berdarah, terus melemah, dan akhirnya bisa ditarik ke permukaan tanpa perlawanan.
Kejam. Manusia memang selalu menemukan cara baru untuk menjadi lebih kejam.
“Baringkan dia di sini, di pasir.” Ara membantu Vaza membaringkan tubuh Naya di hamparan pasir basah yang landai. Dia berlutut di samping duyung muda itu, membuka balutan rumput laut dengan hati-hati.
Luka itu menganga lebar, lebih parah dari yang dia bayangkan. Daging di sekitar lubang tombak tampak menghitam, seperti terbakar dari dalam. Racun itu masih bekerja, masih terus menjalar.
“Aku perlu air laut yang banyak, Vaza. Bantu aku.”
Vaza mengangguk. Tubuh setengah ikannya meluncur kembali ke air yang lebih dalam. Kedua tangannya terentang, mulutnya berkomat-kamit membaca sesuatu dalam bahasa tua yang tidak dipahami manusia. Air laut mulai bergerak, naik perlahan, membentuk semacam kubah tipis di atas tubuh Naya.
Ara meletakkan kedua telapak tangannya di atas luka itu. Dia memejamkan mata.
Kekuatan itu datang lagi, seperti biasa, mengalir dari tempat yang tidak pernah bisa dia jelaskan. Sejak kecil, sejak dia bisa mengingat, air selalu mendengarkan dirinya. Ibunya pernah berkata, sebelum kecelakaan itu merenggut semuanya, bahwa darah mereka adalah darah laut. Bahwa suatu hari nanti, laut akan meminta balasannya atas anugerah itu.
Malam ini, Ara membayar anugerah itu lagi.
Air laut yang mengubah Naya mulai bergetar halus, berputar pelan seperti pusaran kecil. Warna air itu berubah sedikit demi sedikit, dari bening menjadi keruh kehitaman. Racun itu ditarik keluar dari luka, diserap oleh air, dibawa menjauh dari tubuh duyung muda itu. Ara terus menahan posisinya, rahangnya mengetat, keringat mulai menetes dari kening meski angin malam berhembus dingin.
Mengeluarkan racun dari tubuh makhluk laut jauh lebih berat daripada mengeringkan luka biasa. Ara merasakan kekuatannya terkuras seperti air yang disedot dari dalam tubuhnya sendiri. Tapi dia tidak boleh berhenti. Kalau dia berhenti sekarang, racun itu akan kembali menjalar, dan Naya akan mati sebelum matahari terbit.
“Aku akan mengambil alih, Putri. Kekuatanmu terbatas di daratan seperti ini.” Suara Vaza terdengar dari dalam kubah air. “Istirahatlah.”
“Belum. Sedikit lagi.” Ara menggeleng, giginya bergemeretak menahan lelah.
Beberapa menit kemudian, kubah air itu perlahan turun, meninggalkan tubuh Naya yang terbaring lemah di pasir. Tapi wajah duyung muda itu sudah tidak sepucat tadi. Luka di lengannya, meski masih menganga, sudah tidak lagi menghitam. Daging di sekitarnya kembali berwarna normal, menandakan racun itu sudah berhasil dikeluarkan sepenuhnya.
“Sekarang giliranku.” Vaza segera melanjutkan pengobatan. Air laut kembali naik, kali ini lebih lembut, menyelimuti lengan Naya seperti perban hidup. Perlahan, luka menganga itu mulai menutup, daging-daging yang terkoyak mulai menyatu kembali di bawah kerja tangan-tangan tak terlihat.
Ara menjatuhkan diri duduk di pasir, napasnya memburu. Tubuhnya terasa seperti baru saja berlari puluhan kilometer. Inilah harga yang harus dia bayar setiap kali menggunakan kekuatannya di daratan. Di dalam air, dia bisa melakukan dua kali lipat dari ini tanpa merasa lelah. Tapi di sini, di darat, kekuatannya selalu datang dengan harga yang mahal.
“Siapa yang melakukan ini, Vaza? Ceritakan semuanya.”
Vaza menyelesaikan pengobatannya sebelum menjawab. “Para pemburu hiu dari pelabuhan sebelah timur, Putri. Tapi kali ini mereka bukan pemburu biasa. Mereka datang dengan kapal-kapal besar, dengan mesin-mesin yang menggelegar di dasar laut. Bukan hanya menombak hiu. Mereka seperti sedang mencari sesuatu di dasar sana.”
Ara mengerutkan dahi. “Mencari sesuatu?”
“Mereka menurunkan alat-alat aneh ke dasar laut. Alat-alat berbunyi yang membuat ikan-ikan menjauh dan karang-karang retak. Naya tertembak ketika dia berenang mendekat untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan.” Vaza menatap Ara dengan tatapan yang dalam. “Mereka sedang memetakan dasar laut Monaghan, Putri. Tanpa izin dari siapa pun.”
Eksploitasi. Kata itu langsung meloncat di kepala Ara, menghubungkan semua kepingan yang selama ini berserakan. Perbincangannya dengan Judas siang tadi di restoran kasino. Para pebisnis yang mengajukan izin untuk mengelola kekayaan dasar laut Monaghan. Dan sekarang, kapal-kapal asing yang sudah lebih dulu bergerak, memetakan dasar laut secara ilegal, bahkan sebelum izin itu dikeluarkan.
Mereka tidak sedang menunggu izin. Mereka sudah mulai.
“Aku mengerti sekarang,” bisik Ara, lebih kepada dirinya sendiri. “Izin itu hanya kedok. Mereka sudah bergerak lebih dulu. Izin hanya untuk melegalkan apa yang sudah mereka curi.”
“Apa yang harus kami lakukan, Putri?” tanya Vaza.
“Jaga Naya sampai sembuh. Jauhi kapal-kapal itu untuk sementara. Jangan ada lagi yang terluka.” Ara berdiri, menatap ke arah laut yang gelap membentang. “Aku akan mencari tahu siapa pemilik kapal-kapal itu dari daratan. Urusan manusia biar diselesaikan dengan cara manusia. Tapi kalau mereka berani menyentuh laut lebih jauh lagi ...”
Kalimatnya menggantung di udara malam. Vaza tidak bertanya lebih jauh. Dia sudah cukup lama mengenal keluarga ini. Dia masih ingat ibu Ara, putri yang sama keras kepalanya, yang dulu juga pernah berdiri di pantai yang sama dengan tatapan yang sama.
“Aku titipkan Naya padamu,” ucap Ara.
“Dengan nyawa hamba, Putri Arandelle.”
Ara berjalan kembali ke mobilnya dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang justru makin menyala. Di dalam mobil, dia meraih ponselnya, menatap satu nama kontak yang beberapa jam lalu baru saja masuk ke sana.
Pangeran Tampan.
Untuk pertama kalinya sejak nama itu tertulis di layar ponselnya, Ara tidak berdecak kesal melihatnya. Karena untuk pertama kalinya juga, dia menyadari bahwa pertemuannya dengan pria gila itu mungkin bukan sekadar kebetulan yang menyebalkan.
Lautnya sedang dalam bahaya. Dan satu-satunya manusia di daratan ini yang punya kuasa untuk menghentikannya adalah Judas Ellington.
‘Tim Judara, ya,’ batin Ara, memulai menyalakan mesin mobilnya. ‘Baiklah, Jud. Kita lihat seberapa serius kamu dengan lautku.’