Judas membenci istana. Dia selalu membencinya sejak malam sembilan belas tahun yang lalu, sejak dia membunuh dua manusia di salah satu kamarnya dan memutuskan untuk tidak pernah lagi tinggal di dalam tembok-temboknya. Tapi malam ini, dia datang. Pukul lima sore tepat, seperti janjinya kepada Ratu Moana. Bukan karena dia mendadak rindu istana. Dia datang karena ada yang harus dia minta dari sang ratu, dan permintaan itu hanya pantas disampaikan di meja makannya.
“Pangeran tampan kita akhirnya pulang.” Ratu Moana menyambutnya di pintu ruang makan kecil, ruang makan pribadi keluarga yang hanya digunakan untuk jamuan-jamuan hangat, bukan jamuan kenegaraan. Wanita berusia tujuh puluh dua tahun itu masih terlihat anggun dengan gaun sederhananya, dengan mahkota kecil yang tidak pernah lepas dari kepalanya bahkan di dalam rumah sendiri.
“Nenek memanggil, aku datang. Sesederhana itu.” Judas mencium punggung tangan sang nenek, lalu pipi kanan dan kirinya bergantian. Tradisi yang tidak pernah dia tinggalkan, betapa pun dia membenci gedung tempat tradisi itu dilakukan.
“Katakan padaku, Jud. Ada angin apa yang membawamu pulang dengan sesuatu yang penting untuk dibicarakan?” Ratu Moana menatapnya sambil tersenyum penuh arti. “Nenek mengenalmu lebih lama dari kamu mengenal dirimu sendiri. Kamu tidak pernah datang dengan ‘hal penting’ kecuali kamu menginginkan sesuatu.”
Judas tertawa kecil. Neneknya memang tidak pernah bisa dibohongi. “Baiklah. Aku memang menginginkan sesuatu, Nek. Aku ingin mengambil alih pengawasan Departemen Kelautan. Semua perizinan yang berkaitan dengan laut Monaghan, mulai sekarang melewati mejaku.”
Sendok Ratu Moana berhenti di tengah jalan menuju mulutnya. Wanita tua itu menatap cucunya lama, sangat lama, seolah sedang membaca sesuatu di balik wajah tampan itu.
“Menarik,” ucapnya akhirnya. “Selama sepuluh tahun aku memintamu terlibat dalam urusan kerajaan, dan kamu selalu menjawab dengan kalimat yang sama: bisnisku lebih menarik dari politik. Sekarang, tiba-tiba kamu menginginkan Departemen Kelautan. Departemen yang selama ini bahkan tidak pernah kamu tanyakan namanya.”
“Orang berubah, Nek.”
“Orang tidak berubah tanpa alasan, Judas.” Ratu Moana meletakkan sendoknya dan menyandarkan punggung ke kursi. “Ini tentang gadis itu, bukan? Gadis yang duduk di depanmu ketika aku menelepon tempo hari.”
Judas tidak menjawab. Senyum kecilnya yang menjawab untuknya.
“Jadi benar ada gadis.” Ratu Moana tertawa, tawa yang penuh kemenangan seorang nenek yang tebakannya terbukti benar. “Siapa dia? Dari keluarga mana? Kapan kamu akan membawanya ke sini untuk diperkenalkan dengan benar?”
“Dia bukan siapa-siapa, Nek. Hanya teman diskusi.” Judas mengangkat tangannya sebelum neneknya melanjutkan interogasi. “Dan urusan Departemen Kelautan ini urusan serius. Ada beberapa pemain bisnis mengajukan izin untuk mengeksploitasi dasar laut kita. Batubara dan minyak bumi. Aku ingin memastikan laut kita tidak diobok-obok oleh orang-orang yang salah.”
“Sejak kapan kamu peduli pada laut?”
“Sejak laut menyelamatkan nyawaku,” jawab Judas, dan untuk sekali ini, tidak ada nada bercanda dalam suaranya.
Ratu Moana memperhatikan cucunya dalam keheningan yang panjang. Ada sesuatu yang berubah dari pria itu, sesuatu halus yang hanya bisa ditangkap oleh mata seorang nenek. Ada jangkar baru di matanya, sesuatu yang membuat tatapan liarnya tidak lagi mengembara tanpa tujuan.
“Baiklah,” ucap sang ratu akhirnya. “Departemen Kelautan akan menjadi milikmu. Tapi dengarkan Nenek baik-baik, Jud. Para pemohon izin itu bukan orang-orang sembarangan. Ada dua konsorsium besar. Yang pertama, konsorsium dari dalam negeri, dipimpin oleh Grup Halvern. Yang kedua, konsorsium asing dari seberang lautan. Mereka sudah dua kali mengajukan, dan dua kali aku menunda jawaban, karena perutku mengatakan ada yang tidak beres dengan mereka.”
“Perut Nenek tidak pernah salah.” Judas menyeruput sup jamurnya. “Ceritakan tentang Grup Halvern.”
“Halvern adalah keluarga lama. Kaya, berpengaruh, dan sangat dekat dengan banyak pejabat istana.” Ratu Moana menatap cucunya dengan tatapan yang mengandung peringatan. “Dan mereka sangat dekat dengan Baron.”
Nama itu membuat tangan Judas berhenti bergerak.
Baron. Adik dari mendiang kakeknya. Pria yang sejak kecil membencinya, yang pernah dengan sengaja menceritakan kisah kelahirannya di luar pernikahan hanya untuk menyakitinya. Pria yang selama bertahun-tahun dianggap tidak berbahaya karena posisinya yang jauh dari garis takhta langsung, tapi yang tidak pernah berhenti menggerakkan bidak-bidaknya di balik layar istana.
“Sudah berapa lama mereka sedekat itu?” tanya Judas dengan nada yang sudah berubah. Lebih dingin. Lebih tajam.
“Cukup lama untuk membuatku tidak bisa tidur nyenyak.” Ratu Moana menyesap anggurnya. “Baron sudah terlalu lama berperan sebagai kerabat tua yang tidak berbahaya. Tapi akhir-akhir ini, dia terlalu sering muncul. Terlalu banyak bertanya tentang kesehatanku. Terlalu ramah pada orang-orang yang seharusnya tidak dia kenal.”
Judas mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, kebiasaannya ketika otaknya sedang menyusun sesuatu. “Kalau Grup Halvern mendapatkan izin eksploitasi laut, Baron mendapatkan sahamnya. Dan kalau Baron mendapatkan uang sebesar itu, dia bisa membeli apa saja. Termasuk loyalitas.”
“Sekarang kamu mengerti kenapa aku dua kali menunda jawaban itu.”
Judas menyeringai. Senyum pemburu yang sudah sangat dikenal oleh neneknya. Senyum yang sama yang dia pasang sebelum ruang hitam mendapatkan tamu-tamu istimewanya.
“Kalau begitu, biarkan mereka menunggu jawaban itu dariku sekarang,” ucap Judas. “Atur pertemuan dengan dua konsorsium itu. Di sini, di istana, biar terlihat resmi dan megah. Aku ingin melihat wajah-wajah mereka ketika mereka menyadari bahwa keputusan ada di tangan seorang Judas Ellington, bukan di tangan birokrat-birokrat yang bisa mereka beli.”
“Ada satu lagi yang harus kamu tahu.” Ratu Moana menurunkan suaranya, meski mereka hanya berdua di ruangan itu. “Tiga hari yang lalu, patroli laut kerajaan menemukan kapal asing tanpa bendera beroperasi di perairan timur. Mereka kabur sebelum sempat diperiksa. Tapi sebelum kabur, kapal itu sempat menurunkan alat-alat ke dasar laut. Para ahli kami yakin itu alat pemetaan dasar laut.”
Mata Judas memicing. “Mereka sudah mulai bekerja tanpa izin.”
“Itulah yang aku takutkan. Dan kalau mereka sudah berani sejauh itu, artinya mereka merasa punya pelindung yang kuat di dalam negeri ini.” Ratu Moana menatap cucunya lurus-lurus. “Berhati-hatilah, Jud. Kamu bukan hanya sedang berurusan dengan para pebisnis serakah. Kamu sedang berjalan masuk ke sarang yang jauh lebih besar dan jauh lebih gelap.”
Judas berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela yang menghadap taman istana yang gelap. Di luar sana, angin musim gugur mengguncang pepohonan dengan suara yang desir yang tidak menyenangkan.
“Aku dibesarkan di sarang yang gelap, Nek,” jawabnya tanpa berbalik. “Aku justru merasa tidak nyaman di tempat yang terlalu terang.”
Dia berbalik, dan wajahnya sudah kembali menjadi wajah Judas yang biasa, pongah dan penuh percaya diri. “Atur pertemuannya. Dan satu lagi, Nek. Aku akan membawa seorang penasihat ke pertemuan itu. Orang yang lebih mengerti laut dari seluruh departemen Nenek digabung jadi satu.”
“Gadis itu?” tebak Ratu Moana dengan senyum menggodanya.
“Nona Arandelle Tarrigan,” jawab Judas, dan nama itu keluar dari mulutnya dengan nada yang tidak biasa. Nada yang bahkan membuatnya sendiri terkejut. “Cucu dari Raja Canis Major.”
Alis Ratu Moana terangkat tinggi-tinggi. “Cucu Canis Major? Anak dari putri yang dicoret itu?”
“Kau mengenal keluarganya, Nek?”
Wajah Ratu Moana berubah, dan perubahan itu tidak luput dari mata Judas. Ada sesuatu yang lewat di wajah neneknya. Sesuatu yang mirip dengan kekhawatiran. Atau pengetahuan yang tidak menyenangkan.
“Aku mengenal ibunya,” jawab Ratu Moana pelan. “Dan aku juga mengingat bagaimana kedua orang tuanya mati, Jud. Kecelakaan yang tidak pernah terbukti sebagai kecelakaan. Kalau gadis itu adalah anak mereka, maka kamu harus tahu satu hal: orang-orang yang membunuh orang tuanya tidak pernah ditemukan. Dan mereka mungkin masih ada di luar sana.”
Judas berdiri mematung di depan jendela, dengan angin musim gugur berderu di balik kaca, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia merasa bahwa undangan makan malam ini telah memberinya jauh lebih banyak dari yang dia minta.