Pagi berikutnya, Judas memanggil Josh ke kantornya di lantai atas kasino dengan satu perintah yang membuat sekretaris pribadinya itu berhenti di tengah langkah dan menatap tuannya seperti menatap orang asing.
“Aku ingin kamu mencari apel. Apel terbaik yang bisa ditemukan di seluruh Monaghan. Hari ini juga.”
Josh memproses kalimat itu selama beberapa detik, memastikan dia tidak salah dengar. “Apel, Tuan? Buah apel?”
“Ya, apel. Benda bulat berwarna merah atau hijau yang tumbuh di pohon. Kamu mengenalnya, kan?” Judas menjawab dengan nada sarkastik yang khas. “Jangan tanya kenapa. Cari yang terbaik. Kalau perlu, terbangkan dari kebunnya langsung.”
Josh tidak bertanya kenapa. Pengalamannya selama bertahun-tahun mengabdi pada Judas Ellington mengajarkannya bahwa ada perintah-perintah yang tidak perlu dipertanyakan, dan perintah tentang buah apel sepertinya termasuk kategori itu. Tapi di dalam hatinya, dia sudah punya satu tebakan yang kuat. Ini pasti ada hubungannya dengan Nona Ara. Semua keanehan tuan besarnya akhir-akhir ini pasti berhubungan dengan gadis itu.
“Ada spesifikasi tertentu, Tuan?” tanya Josh dengan profesionalisme yang terjaga. “Jenis, jumlah, cara pengiriman?”
“Satu apel saja.” Judas menyandarkan punggung ke kursi besarnya. “Tapi harus apel yang sempurna. Yang paling sempurna yang pernah dilihat manusia. Dan satu lagi, Josh.”
“Ya, Tuan?”
“Kirim juga satu truk penuh apel biasa ke rumahnya. Biar dia bingung sendiri, mana yang sebenarnya hadiah dariku.” Judas terkekeh, membayangkan wajah Ara ketika satu truk apel berhenti di depan rumahnya. “Itu akan sangat menghibur.”
Josh menghela napas dalam hati. Tuannya ini, kalau sudah menyangkut Nona Ara, selalu berubah menjadi anak kecil dengan anggaran tak terbatas. “Baik, Tuan. Saya kerjakan sekarang.”
Menjelang sore, misi apel itu selesai dengan standar yang hanya bisa dicapai oleh jaringan Judas Ellington. Satu truk apel dari kebun terbaik di wilayah utara Monaghan meluncur ke alamat rumah keluarga Tarrigan, diterima oleh kepala pelayan yang kebingungan setengah mati karena tidak ada seorang pun di rumah itu yang memesan satu truk buah apel.
Dan satu apel lain, satu apel yang berbeda dari semua apel di truk itu, dibawa sendiri oleh Josh dengan kotak khusus. Apel itu berasal dari kebun pribadi seorang kolektor buah langka di pegunungan Monaghan, dibudidayakan selama bertahun-tahun, dan harganya setara dengan sepeda motor baru. Warnanya merah gelap hampir keunguan, dengan kilau yang tidak wajar, seolah kulitnya dipoles oleh tangan-tangan peri.
Malamnya, Ara pulang ke rumah dan disambut oleh pemandangan yang membuatnya berhenti di depan pintu dengan kaki yang tidak bisa melangkah.
Di halaman rumahnya, di lantai beranda yang luas, berjajar kotak-kotak kayu penuh apel. Puluhan kotak. Ratusan buah apel. Aroma manis buah itu mengambang di udara malam sampai ke pagar rumah.
“Apa-apaan ini?” Ara menatap kepala pelayan dengan tatapan yang menuntut jawaban.
“Kami juga tidak tahu, Nona. Kiriman dari seseorang bernama Josh. Katanya, hadiah dari Tuan Judas Ellington.” Kepala pelayan itu menyerahkan sebuah kotak kecil yang terpisah dari truk. “Dan ini, katanya, apel yang sebenarnya. Yang di truk hanya ... pengalih perhatian, katanya begitu, Nona.”
Ara membuka kotak kecil itu dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dia jelaskan. Di dalamnya, di atas bantalan kain beludru hitam, terbaring sebuah apel yang tidak pernah dia lihat sepanjang hidupnya. Merah gelap hampir keunguan. Sempurna tanpa satu pun cacat. Dan di sampingnya, sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan yang dia kenali, tulisan yang berantakan seperti pemiliknya.
[Untuk dewi penolongku. Utang sudah lunas. Nyawaku memang hanya senilai satu apel, tapi apel yang ini setidaknya seharga nyawa yang layak. Makanlah. Atau simpan sampai busuk kalau kamu lebih suka menyimpan dendam daripada buah. — Pangeran Tampan]
Ara menatap kartu itu lama sekali. Sangat lama. Sampai kepala pelayan berdeham dua kali untuk mengembalikan kesadarannya.
“Nona, apel-apel di truk ini mau kami apakan?”
“Bagikan. Ke seluruh pelayan, ke tetangga, ke panti-panti yang bisa kalian jangkau. Jangan ada yang tersisa satu pun di rumah ini.” Ara mengambil kotak kecil berisi apel istimewa itu dan berjalan masuk ke dalam rumah.
“Semuanya, Nona? Satu pun tidak disimpan?”
“Satu pun tidak.” Ara berhenti di anak tangga pertama tanpa berbalik. “Rumah ini tidak perlu diisi kenangan dalam jumlah satu truk. Satu saja sudah cukup merepotkan.”
Di kamarnya, di lantai dua, Ara meletakkan kotak apel itu di atas nakas dan memandanginya dari tepi tempat tidur. Pria gila itu benar-benar melakukannya. Benar-benar mengirimkan apel, lengkap dengan satu truk pengalih perhatian yang tidak masuk akal, lengkap dengan kartu berisi tulisan yang separuh menghina dan separuh ... menghangatkan.
Apel. Kenapa harus apel?
Karena dia yang memintanya. Karena di malam itu, di restoran kasino, ketika Judas memaksanya menyebutkan satu permintaan untuk melunasi utang penyelamatan nyawa, apel adalah jawaban yang keluar dari mulutnya untuk mengakhiri perdebatan. Jawaban setengah bohong. Dia bilang apel adalah buah penuh kenangan tentang kedua orang tuanya, buah yang bertahun-tahun tidak mau dia makan.
Yang benar adalah: dia masih memakan apel sampai sekarang. Tapi kenangannya tidak bohong.
Ayahnya selalu membawa apel setiap pulang kerja. Satu apel setiap hari, dibelah dua, separuh untuk Ara, separuh untuk ibunya. Itu ritual kecil mereka sebelum tidur, di teras rumah kecil mereka di pinggiran Osmod, sebelum kecelakaan itu mengubah segalanya menjadi abu. Ayahnya akan menceritakan hal-hal kecil tentang hari-harinya, ibunya akan tertawa, dan Ara akan tertidur di pangkuan ibunya dengan rasa manis apel di mulutnya.
Itu kenangan terakhirnya tentang keluarga yang utuh. Sebuah apel yang dibelah dua.
Ara meraih apel merah gelap itu dari kotaknya. Dingin, halus, sempurna di genggamannya. Dia menggigitnya pelan, dan rasanya meledak di mulutnya, manis dan segar dengan cara yang tidak pernah dia rasakan dari apel mana pun sebelumnya.
“Dasar pria gila,” gumamnya, mengunyah pelan-pelan, di kamarnya yang sepi. “Siapa yang memberimu izin untuk mengirimkan apel sebagus ini?”
Ponselnya bergetar di atas meja. Satu pesan masuk dari nomor yang belum dia simpan, tapi yang isinya tidak perlu nama untuk dikenali.
[Apelnya sampai? Jangan bilang kamu menangis memakannya. — nomor tidak dikenal yang sangat tampan]
Ara membalas dengan tangan yang masih memegang apel setengah habis.
[Pengalih perhatianmu norak. Truknya sudah kubagikan ke panti. Apelnya lumayan. Jangan besar kepala.]
Balasan datang dalam hitungan detik.
[Lumayan? Aku menerbangkan apel itu dari pegunungan. LUMANYAN? Kau harus membayar penghinaan ini dengan menemaniku rapat minggu depan. Konsorsium pertama. Bersiap-siaplah, Nona.]
Ara tersenyum kecil di kamarnya yang sepi, dan untuk beberapa saat dia membiarkan senyum itu ada di sana tanpa dia hapus, tanpa dia sembunyikan, tanpa dia sangkal.
Untuk beberapa saat saja. Lalu dia menghapusnya, seperti biasa, seperti selalu.
Tapi apel itu tetap dia habiskan sampai ke bijinya.