Pagi itu, Josh masuk ke kantor Judas di lantai atas kasino dengan dua map tebal di tangan dan wajah yang mengatakan bahwa malamnya tidak digunakan untuk tidur. Sekretaris pribadi itu meletakkan kedua map di atas meja bosnya dengan ketukan pelan: map pertama berisi kabar baik, map kedua berisi kabar yang lebih baik lagi.
“Laporan pengawasan rombongan Gustav, Tuan,” ucap Josh, membuka map pertama. “Dua pendamping Gustav berpisah begitu keluar dari gerbang istana. Yang satu kembali ke kantor Halvern seperti yang sudah kami duga. Tapi yang satunya lagi tidak. Dia meluncur ke distrik gudang di utara Nemville dan masuk ke sebuah kantor kecil tanpa nama. Kantor itu terdaftar atas nama sebuah perusahaan bernama Karisma Offshore.”
Judas mengangkat satu alisnya. “Karisma Offshore. Kedengarannya seperti perusahaan cangkang.”
“Memang cangkang, Tuan. Didirikan delapan bulan yang lalu, dengan satu karyawan tercatat, tanpa kegiatan bisnis yang bisa dilacak. Tapi rekening perusahaan itu menerima aliran dana rutin dari tiga sumber. Dan ketiga sumber itu semuanya berujung ke satu tempat: Grup Halvern.”
Judas menyandarkan punggung ke kursi besarnya, jari-jarinya bertaut di depan wajah. Perusahaan cangkang. Alat klasik untuk mencuci uang dan menyembunyikan jejak. Kapal tanpa bendera, alat pemetaan ilegal, orang-orang bersenjata di atas kapal — semua dibayar lewat jalur yang bersih dari catatan resmi.
“Ada lagi yang lebih menarik, Tuan.” Josh membuka map kedua. “Saya menarik kembali berkas penyelidikan pembakaran pabrik makanan Tuan beberapa waktu lalu. Delapan orang bertopeng di rekaman CCTV itu, yang sampai sekarang tidak pernah teridentifikasi. Saya memeriksa ulang pola pergerakan mereka sebelum dan sesudah pembakaran.”
“Dan?”
“Dua hari sebelum pembakaran, sebuah kendaraan yang sama yang mengantar mereka ke area pabrik tercatat keluar-masuk di distrik gudang utara. Tepatnya, di kantor kecil tanpa nama milik Karisma Offshore.”
Ruangan itu hening sejenak. Judas tidak bergerak sedikit pun, tapi Josh sudah cukup lama mengenal tuannya untuk tahu bahwa keheningan seperti itu adalah keheningan burung elang yang sedang menghitung jarak ke mangsanya.
“Jadi, pembakaran pabrikku dan pemetaan ilegal di laut dibiayai oleh kantong yang sama,” ucap Judas pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Josh. “Mereka membakar pabrikku supaya aku sibuk mengurus api di daratan, dan tidak melihat apa yang sedang mereka siapkan di lautan. Brenda menyabotase mobilku karena cemburu. Tapi pabrik itu dibakar oleh orang-orang yang berpikiran jauh lebih dingin daripada cemburu.”
“Dengan pola seperti itu, Tuan, besar kemungkinan kebakaran berikutnya akan datang lagi kalau mereka merasa perlu mengalihkan perhatian Tuan sekali lagi.”
“Maka kita tidak akan memberi mereka kesempatan itu.” Judas berdiri dan berjalan ke jendela kaca yang menghadap ke lantai kasino di bawah sana. “Mereka suka bermain api di gelap-gelap. Baik. Kita akan menyalakan lampu yang paling terang untuk mereka. Departemen Kelautan akan mengadakan inspeksi mendadak ke perairan timur laut. Resmi, dengan surat perintah kerajaan, dengan patroli laut istana di belakangnya. Aku ingin kapal tanpa bendera itu ditangkap di depan mata semua orang, dengan kerangka pengeboran bertuliskan Halvern sebagai buktinya.”
“Saya akan mengurus surat perintahnya hari ini juga, Tuan. Untuk patroli laut istana, Tuan perlu berbicara langsung dengan Ratu Moana.”
“Aku akan ke istana siang ini.” Judas berbalik. “Dan, Josh. Semua ini bergerak terlalu mulus untuk sebuah keluarga bisnis biasa. Halvern punya orang-orang di dalam istana yang membuat mereka merasa tidak tersentuh. Mulai sekarang, aku ingin daftar semua pejabat istana yang bertemu dengan orang-orang Halvern dalam enam bulan terakhir. Semua. Tanpa kecuali.”
“Termasuk orang-orang yang dekat dengan Tuan Baron?” tanya Josh dengan nada hati-hati.
Judas menatapnya dengan tatapan yang membuat Josh menunduk seketika. “Terutama orang-orang yang dekat dengan Baron.”
Menjelang tengah hari, Ara tiba di kasino dengan mobil merahnya, dipanggil oleh Judas lewat satu pesan singkat yang sangat khas pria itu: [Kerja, Nona. Bukan undangan makan. Tapi kalau kamu lapar, aku bisa disuap dengan menemanimu makan.]
Dia menemukan Judas di kantornya, berdiri di depan peta besar perairan Monaghan yang terpampang di salah satu dinding. Pria itu menunjuk satu titik di peta dengan ujung pulpennya.
“Palung timur laut. Titik persisnya di mana kapal itu menjatuhkan kerangka pengeboran. Informanmu bisa memastikan koordinatnya?”
Ara menatap titik itu sejenak. Informan. Ya, anggap saja informan. Dia belum siap menjelaskan kepada Judas bahwa informannya adalah makhluk-makhluk setengah ikan yang tinggal di dasar lautan, dan dia tidak yakin akan pernah siap untuk percakapan itu.
“Mereka bisa,” jawabnya singkat. “Mereka mengawasi kapal itu siang dan malam dari jarak aman. Mereka bisa memandu kapal patroli ke titik yang tepat tanpa kesalahan satu meter pun.”
“Informan yang sangat berbakat,” ucap Judas, menatapnya dengan tatapan menyelidik yang membuat Ara harus berusaha keras untuk tidak mengalihkan pandangan. “Suatu hari nanti, kau harus memperkenalkanku pada mereka. Aku selalu menghargai orang-orang yang berguna.”
“Mereka bukan tipe orang yang suka diperkenalkan,” jawab Ara datar, lalu langsung mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana rencana penyitaannya?”
Judas menjelaskan rencananya dengan ringkas dan jelas. Inspeksi mendadak dengan surat perintah kerajaan. Patroli laut istana mengawal dua kapal Departemen Kelautan. Dokumentasi lengkap dari apa pun yang ditemukan di kapal dan di dasar laut. Dan satu peraturan utama: tidak ada satu pun yang boleh tahu sebelum kapal-kapal itu berangkat, karena orang-orang Halvern punya telinga di mana-mana.
“Termasuk telinga di dalam istana,” tambah Judas. “Jadi, hanya ada empat orang yang tahu rencana ini sekarang. Aku, kau, Josh, dan Ratu Moana. Titik.”
Ara mengangguk. Lalu, setelah jeda sejenak, dia mengajukan pertanyaan yang sejak semalam mengganjal di kepalanya. “Kalau mereka menembak? Mereka punya senjata api di kapal itu.”
Judas menyeringai, dan seringai itu adalah seringai yang sudah Ara pelajari artinya: seringai orang yang tidak pernah merasa takut pada apa pun karena dia selalu menjadi hal yang paling menakutkan di ruangan mana pun.
“Mereka tidak akan menembak patroli kerajaan Monaghan, Ara. Menembak patroli kerajaan artinya perang dengan seluruh kerajaan, dan bahkan Halvern pun tidak cukup bodoh untuk itu. Mereka akan menyerah, mereka akan menyangkal, mereka akan menelepon pengacara-pengacara mereka yang mahal. Dan pada saat itulah aku akan berdiri di depan mereka dengan surat perintah kerajaan di satu tangan, dan bukti-bukti mereka di tangan yang lain.”
Ara memperhatikan wajah pongah yang menyebalkan itu sejenak, wajah yang entah sejak kapan mulai terasa seperti wajah yang bisa diandalkan.
“Ada satu permintaan dariku,” ucapnya. “Aku ikut dalam inspeksi itu.”
“Tidak.” Jawaban Judas keluar bahkan sebelum Ara menyelesaikan kalimatnya.
“Kau tidak bisa melarangku, Jud. Itu lautku.”
“Dan itu akan menjadi laut berdarah kalau ada satu saja hal yang tidak berjalan sesuai rencana.” Judas menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, tatapan yang tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. “Kau terlalu penting untuk laut itu, Ara. Kalau mereka sampai tahu siapa kau dan apa yang kau lakukan untuk laut ini, mereka akan menjadikanmu target. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau menunggu di darat. Titik.”
Ara membuka mulutnya untuk membantah, tapi kemudian menutupnya lagi. Dia mengenali tatapan itu, dan dia tahu bahwa ada tembok-tembok tertentu pada diri Judas Ellington yang tidak bisa ditembus oleh argumen mana pun.
“Baik,” jawabnya akhirnya. “Aku menunggu di darat. Tapi kau menghubungiku setiap jam. Setiap jam, Jud. Kalau ada satu jam yang terlewat tanpa kabar, aku akan datang sendiri ke sana, dan kau tahu aku bisa menemukan kapal itu lebih cepat dari seluruh patrolimu digabung jadi satu.”
Judas menatapnya lama, lalu terkekeh. “Dicintai olehmu ternyata melelahkan juga, Nona.”
“Bukan cinta. Itu pengawasan mutakhir,” jawab Ara ketus, tapi telinganya memerah, dan Judas menyimpan pemandangan itu baik-baik di salah satu bilik ingatannya yang paling sering dia buka.