Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian minggu, Ara pulang ke rumah sebelum jam sembilan malam. Dan untuk pertama kalinya juga, dia mendapati kakaknya duduk menunggu di ruang tengah dengan dua cangkir cokelat panas di atas meja.
“Kau menungguku?” tanya Ara, menggantung jaketnya.
“Duduklah. Ada yang ingin kubicarakan.” Reagant menepuk sofa di sampingnya. Kepala keluarga Tarrigan itu masih terlihat muda di usianya yang tiga puluh empat tahun, tapi matanya sudah mulai menunjukkan garis-garis kelelahan seorang ayah baru.
Ara duduk di ujung sofa, menjaga jarak seperti biasa. Dia dan kakaknya tidak pernah benar-benar dekat. Terpisah sejak kecil, bertemu lagi setelah remaja, dan sejak itu hidup di bawah atap yang sama seperti dua orang asing yang saling menghormati.
“Truk apel itu,” buka Reagant dengan senyum kecil. “Lima puluh kotak apel yang dibagikan ke seluruh panti di kota. Kau mau menjelaskannya kepadaku, atau aku harus menebak sendiri?”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Hadiah dari seorang teman.”
“Teman.” Reagant mengulang kata itu dengan hati-hati. “Ara, aku mendengar banyak hal akhir-akhir ini. Tentang kau yang sering terlihat di kasino besar di Nemville. Kasino milik Judas Ellington.”
Ara menegang. Tentu saja berita itu sampai juga ke kuping kakaknya. Dunia orang-orang berpunya selalu lebih kecil dari yang disangka.
“Kau menyelidikiku?”
“Aku mengkhawatirkanmu.” Reagant menatapnya dengan tatapan yang tidak marah, hanya khawatir. “Judas Ellington bukan orang sembarangan, Ara. Ada banyak cerita tentangnya, dan tidak semuanya cerita baik. Sebagian besar malah cerita yang membuat orang tidak bisa tidur. Aku tidak ingin adikku ada di dekat orang seperti itu.”
“Kau tidak mengenalnya.”
“Dan kau mengenalnya? Sejak kapan? Sebulan?” Reagant mencondongkan tubuhnya. “Ara. Kau adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Aku kehilangan Ayah dan Ibu dalam satu malam, dan aku menghabiskan bertahun-tahun mencarimu ke mana-mana sampai akhirnya kita bertemu lagi. Aku tidak akan kehilanganmu untuk kedua kalinya hanya karena kau terlibat dengan orang-orang yang hidupnya dipenuhi musuh.”
Ara menatap cangkir cokelatnya tanpa menyentuhnya. Dia ingin membantah, ingin berdiri dan pergi ke kamarnya seperti biasa. Tapi ada kejujuran kecil di dalam dadanya yang mengakui bahwa Reagant tidak sepenuhnya salah. Hidup Judas memang dipenuhi musuh, dan sekarang hidupnya juga mulai dipenuhi musuh yang sama.
“Aku tidak sedang bermain-main, Kak,” jawabnya akhirnya dengan suara yang pelan. “Ada orang-orang yang sedang merusak laut kita. Dan aku sedang berusaha menghentikannya. Itu saja.”
“Selalu laut.” Reagant menghela napas panjang, dan untuk sesaat wajahnya berubah menjadi wajah seseorang yang sedang menarik sesuatu dari tempat yang jauh di dalam ingatannya. “Kau persis seperti Ibu. Dia juga begitu. Selalu laut, selalu air, selalu ada yang harus dia jaga dan dia lindungi.”
Dia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah lemari kayu tua, dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya. Kotak kayu berukir sederhana, sudah kusam dimakan usia, dengan kunci kecil yang sudah berkarat. Dia meletakkannya di atas meja di depan Ara.
“Aku sudah lama ingin memberikan ini kepadamu. Bertahun-tahun malah. Tapi aku selalu merasa kau belum siap, atau mungkin aku yang belum siap.” Reagant menatap kotak itu seperti menatap sesuatu yang hidup. “Ini barang-barang peninggalan Ibu dan Ayah, yang berhasil kuselamatkan dari rumah kita di Osmod setelah kecelakaan itu. Sudah waktunya kau membacanya.”
Tangan Ara bergerak lebih lambat dari biasanya ketika dia membuka tutup kotak itu. Engselnya berderit pelan, seperti suara dari masa lalu.
Di dalamnya ada surat-surat. Puluhan surat dalam bundel-bundel yang diikat pita, foto-foto yang sudah menguning di pinggirnya, sebuah buku harian bersampul biru tua yang sudah pudar warnanya, dan di bawah semuanya, sebuah kotak beludru kecil berisi kalung berliontin kerang perak.
Ara mengambil kalung itu lebih dulu. Liontinnya bisa dibuka, dan di dalamnya ada foto kecil: ibunya yang muda, tersenyum, dengan laut di belakangnya.
“Itu kalung kesayangan Ibu,” ucap Reagant pelan. “Dia tidak pernah melepasnya. Satu-satunya benda yang ada di kamarnya yang tidak ikut hangus dalam kecelakaan itu, karena malam itu dia melepasnya dan menitipkannya pada pelayan untuk dibersihkan.”
Ara menggenggam kalung itu di telapak tangannya sampai logamnya terasa hangat. Kemudian, dengan tangan yang mulai bergetar, dia mengambil buku harian itu dan membukanya pada halaman yang sudutnya terlipat, seolah seseorang telah menandainya khusus untuk ditemukan. Tulisan tangan ibunya memenuhi halaman itu, tinta yang sudah memudar tapi masih terbaca jelas.
[... hari ini aku melihat lagi kapal-kapal itu di perairan kami. Ayahmu memotretnya dari tebing, dan kali ini dia yakin berhasil mendapatkan lambungnya dengan jelas. Mereka memindahkan barang-barang dari kapal ke kapal di tengah laut, jauh dari mata patroli. Bukan ikan yang mereka pindahkan. Aku tidak tahu apa, tapi aku tahu itu bukan sesuatu yang halal. Ayahmu berniat membawa foto-foto itu kepada orang yang bisa dipercaya di istana Osmod. Aku sudah memintanya untuk berhati-hati. Ada orang-orang yang tidak segan membunuh demi menjaga bisnis kotor mereka tetap tersembunyi di dasar laut. Kalau sesuatu terjadi pada kami, anak-anakku, ketahuilah bahwa itu bukan kecelakaan. Itu harga yang kami bayar karena terlalu mencintai laut yang sama yang sekarang kalian cintai ...]
Kalimat terakhir itu kabur, bukan karena tintanya yang pudar, tapi karena mata Ara yang sudah tidak bisa lagi membaca dengan jelas.
Dia membaca halaman itu tiga kali. Empat kali. Sampai kalimat-kalimatnya tercetak di kepalanya dengan huruf-huruf yang menyala. Ibunya sendiri yang menuliskannya, sebelum semuanya terjadi, seperti seorang ibu yang sudah menduga akhir hidupnya. Ayahnya memotret kapal-kapal yang memindahkan barang ilegal di tengah laut Osmod. Beberapa hari kemudian, mobil mereka terjun ke jurang dalam sebuah ‘kecelakaan’ yang tidak pernah terbukti sebagai kecelakaan.
“Aku baru menemukan buku ini beberapa tahun setelah kau kembali,” ucap Reagant pelan, membiarkan adiknya membaca dalam keheningan yang panjang. “Aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapa pun. Tidak ada gunanya. Kerajaan Osmod menutup kasusnya sebagai kecelakaan murni, dan aku tidak punya apa-apa untuk membukanya kembali selain sebuah buku harian yang bisa disebut sebagai karangan seorang ibu yang paranoid.”
“Ini bukan karangan orang paranoid, Kak.” Suara Ara terdengar berbeda. Lebih rendah. Lebih keras. “Kapal-kapal yang sama ada di laut kita sekarang. Pola yang sama. Mereka membunuh Ayah dan Ibu karena sebuah foto. Dan sekarang mereka sedang melakukan hal yang sama di perairan Monaghan.”
Reagant menatap adiknya lama. “Dan itulah yang sedang kau lawan? Bersama Judas Ellington?”
Ara mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi tatapannya tidak goyah sedikit pun. “Aku tidak bisa membiarkan laut lain kehilangan keluarga lain seperti laut kita kehilangan Ayah dan Ibu. Kalau aku harus bekerja dengan seribu Judas Ellington untuk menghentikannya, aku akan melakukannya.”
Kakak beradik itu saling menatap dalam keheningan yang panjang. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Ara merasa ada sesuatu yang akhirnya terhubung di antara mereka berdua: kesadaran bahwa keluarga mereka tidak dihancurkan oleh takdir buta, melainkan oleh orang-orang yang punya nama, punya wajah, dan suatu hari nanti harus membayarnya.
“Kalau begitu, bertarunglah,” ucap Reagant akhirnya, menutup kotak kayu itu dengan pelan, tapi membiarkan buku harian dan kalungnya di tangan Ara. “Tapi tidak sendirian lagi. Dan kalau Judas Ellington itu sampai menyakitimu, katakan padaku. Aku mungkin tidak sekuat dia, tapi aku akan tetap memukulnya. Itu pekerjaan seorang kakak.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu lagi sebagai remaja, Ara tertawa di depan kakaknya. Tawa kecil yang basah, yang keluar di tengah-tengah air mata yang tidak berhenti.
Dan malam itu, dia tidur dengan kalung berliontin kerang perak di lehernya, dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, dia tidak bermimpi tentang mobil yang terjun ke jurang.