Nurul tidak ingat kapan pertama kali dirinya bisa melihat benang-benang merah yang tersemat di jari kelingking kanan setiap orang. Yang dia tahu, sedari dia kecil dia sudah bisa melihatnya.
Pada dasarnya Nurul kecil tidak begitu peduli dengan hal di sekitarnya, selain dirinya sendiri. Sehingga dia hanya peduli pada benang merahnya. Ada waktu di mana Nurul kecil hilang saat berada di Taman Kanak-anak.
Umurnya saat itu baru menginjak 4 tahun, saat ibunya mendaftarkannya di kelas nol kecil di TK Islam dekat rumah. Dia yang selama ini kemana-mana pasti ditemani sang ibu, untuk pertama kalinya bisa bermain sendiri setelah sang ibu mengantarkannya ke TK dan kembali ke rumah. Berniat untuk beres-beres baru setelah itu menjemput Nurul kembali.
Tetapi betapa kagetnya sang ibu, saat dia datang untuk menjemput anak keduanya tersebut, dia mendapat kabar kalau anaknya itu menghilang saat jam istirahat. Semua orang panik dan berusaha mencari anak itu di sekitar lingkungan sekolah, bahkan hingga ke komplek-komplek dekat sekolah. Namun Nurul tak kunjung ditemukan.
Hari sudah semakin sore, di ruang tamu rumah mereka yang sederhana sang ibu menangis tersedu-sedu takut anak keduanya yang baru berumur 4 tahun kenapa-napa. Dia bahkan tidak bisa menghubungi suaminya, karena pada masa itu satu-satunya cara untuk menghubungi seseorang dengan cepat adalah melalui telepon umum, namun Ibu Nurul tidak ingat nomor kantor suaminya.
Ibu-ibu komplek berusaha menenangkan ibu muda tersebut. Sedangkan yang lainnya ada yang menyiapkan makanan sederhana untuk kakak dari Nurul yang ikut menangis melihat ibunya bersedih.
Suara tangisan dan kata-kata semangat di rumah itu berhenti saat pintu depan rumah di buka. Di sana berdiri seorang laki-laki muda yang merupakan Ayah Nurul. Dia menggendong anak perempuan berusia 4 tahun yang mengamati semua orang di ruangan itu dengan bingung.
“NURUL!” teriak sang ibu yang langsung berdiri tertatih-tatih berusaha memeluk putrinya tersebut. Sang ibu menciumi wajahnya yang membuat sang anak tidak suka dan berusaha mengelak. “Ya Allah nak! Kamu kemana aja? Mamah khawatir sayang!” serunya masih membelai dan menciumi anak balitanya tersebut.
“Tadi saya liat dia di jalan raya. Untung ketemu, kalau enggak gimana coba? Terus kok bisa dia ada di jalan raya sendirian? Kamu kemana?” cecar sang suami pada istrinya.
Suaranya lebih tinggi dari biasanya, membuat Nurul yang ada di antara mereka menjadi tidak nyaman. Anak berusia 4 tahun itu mungkin memang tidak peduli pada sekitarnya, namun dia mengerti kalau orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. Nurul yang tidak suka dengan keadaan tersebut mulai merengek. “Lapeerrr…” rengeknya berusaha mendapatkan perhatian dari keduanya.
Anak yang bahkan belum berusia 5 tahun itu mengamati kedua orang tuanya secara bergantian, seolah ingin mengatakan ‘daripada kalian bertengkar mending kasih aku makan!’ dan tatapan itu berhasil melembutkan ekspresi sang ayah yang awalnya mengeras.
“Iyaa, iyaa. Ayo kita makan. Dek Win udah bikin makan kan?” ujar sang ayah yang melihat ke arah anak keduanya, kemudian menatap mata istrinya.
Sebelum istrinya menjawab, salah satu ibu-ibu yang menemani Winda menjawab pertanyaan bapak 2 anak itu. “Di meja udah ada makanan kok, Pak Bagus,” ujar Bu Bejo. Perempuan yang lebih senior dari Winda itu menepuk pundak ibu muda tersebut. “Alhamdulillah Nak Nurul sudah ketemu. Kami pulang dulu ya, Bu.”
Bu Winda yang menyadari ibu-ibu kompleknya masih bersama mereka langsung memeluk Bu Bejo dan ibu-ibu yang lain. “Makasih ya bu, maaf saya ngerepotin ibu-ibu semua jadinya!”
Ibu-ibu yang hadir memeluk balik Bu Winda dan mengucap syukur. Mereka juga meyakinkan ibu dua anak itu kalau mereka pasti akan membantu kalau ada apa-apa. Hari itu Nurul menjadi sangat terkenal di antara ibu-ibu komplek. Bahkan kisahnya itu masih sering dia dengar saat menemani ibunya arisan bulanan.
Selain itu sang ibu juga menjadi lebih over protektif kepadanya. Takut anaknya itu menghilang lagi. Yang tidak pernah mereka tahu adalah alasan kenapa anak berumur 4 tahun itu bisa berakhir di jalan raya. Semua itu karena benang merah yang selalu membuatnya penasaran.
Ketika dia masuk sekolah SD lalu SMP dia masih berusaha mencari siapa pemilik ujung benang merahnya. Namun tidak pernah dia temukan. Seiring beranjak usia Nurul menjadi lebih fokus pada dunia di sekitarnya daripada benang merah yang selalu dia lihat. Dia mengabaikan benang yang tidak pernah lepas itu dan menjalani hidupnya seperti orang kebanyakan.
Nurul juga menyadari kalau hanya dialah yang bisa melihat benang berwarna merah itu. Dan saat dia bercerita pada teman SD nya, mereka hanya menganggap Nurul pembohong yang haus akan perhatian. Setelah kejadian itu Nurul tidak pernah bercerita pada siapapun, bahkan keluarganya sendiri.
Saking seringnya Nurul mengabaikan benang merah itu, dia sampai lupa dengan keberadaan ‘benang takdir’ tersebut. Setidaknya hingga dia bertemu dengan lelaki itu. Fikri Shailendra Jauhari. Pemilik dari ujung benang merahnya.
Tapi kenapa baru sekarang mereka bertemu? Setelah dia menikah dengan sepupu lelaki itu?!