Pertama kali Nurul dan Ali bertemu adalah saat mereka duduk di bangku kelas 2 SMA. Mereka berada di satu kelas yang sama dan berada dalam satu lingkarang pertemanan. Meski begitu mereka sebenarnya tidak dekat juga. Nurul lebih suka main dengan Eka dan grup perempuannya, sedangkan Ali lebih dekat dengan Pradana dan Krisna.
Bahkan jika dibandingkan, Ali sebenarnya lebih dekat dengan Eka. sampai-sampai tersebar gosip kalau mereka sama-sama suka. Nurul yang menganggap Eka sahabatnya, memastikan apakah benar Ali adalah jodoh gadis polos itu atau tidak, namun benang merah mereka tidak pernah bertemu. Setelah itu Nurul kembali mengabaikan benang takdir tersebut.
Setelah lulus SMA mereka semua berpisah. Dia juga tidak pernah berhubungan lagi dengan anak laki-laki di geng mereka kecuali Prada. Namun seolah dunia punya rencananya sendiri, dia bertemu lagi dengan Ali di salah satu meeting-nya dengan klien baru studio desain yang dia rintis bersama teman-teman kuliahnya.
Pemuda itu tumbuh dengan baik. Tubuhnya tinggi tegap, bahkan dengan kaos hitam dan jaket denim yang memeluk tubuhnya, dia bisa melihat lelaki itu tidak memiliki lemak berlebih di bagian manapun. Celana denim biru tua yang melapisi kaki jenjangnya. Kulit sawo matang khas lelaki indonesia. Dan wajahnya yang rupawan, dengan hidung mancung, garis rahang yang tegas, mata yang tajam, alis tebal, dan rambut hitam pekat yang disisir asal ke belakang, membuat lelaki itu mendapat nilai 10 dari Nurul.
Mereka mengawali meeting itu dengan formal, layaknya pertemuannya dengan klien-kliennya yg lain. Namun setelah obrolan mereka soal pekerjaan selesai, Nurul tidak bisa membendung rasa penasarannya.
“Enggak nyangka deh, kita bakal ketemu lagi,” ujar perempuan berjilbab merah muda tersebut.
“Kalau saya udah tau sih, kita bakal ketemu,” tanggap pemuda tampan itu sambil tersenyum jahil.
Nurul yang kaget mendengar tanggapan tersebut, memiringkan kepalanya seolah berpikir. “Btw, kamu tau dari mana soal studioku?”
Ali yang melihat gadis di depannya ini mulai mencocok-cocokkan puzzle di kepalanya, menyembunyikan tawanya dengan meminum kopi yang dia pesan. “Coba tebak,” tantang pemuda itu masih dengan senyum di wajahnya.
Nurul rasanya ingin sekali menghapus senyum menyebalkan itu. Masalahnya dirinya yang dia kira sudah kebal dengan jurus-jurus lelaki, ternyata lemah kalau langsung dihadapkan dengan senyum yang mengalihkan dunia seperti milik pria di depannya ini.
“Prada ya? Soalnya cuma dia yang tau aku bikin studio!” ujar perempuan itu sambil menunjuk Ali dengan jari telunjuknya.
Pemuda di depannya itu kemudian tertawa renyah. Sungguh, setelah sekian lama hati Nurul tidak berdegup melebihi batas normal, saat dia mendengar suara tawa lelaki itu dia bisa merasakan bagaimana detak jantungnya menjadi lebih cepat dan mengganggu konsentrasinya.
“Nn.. bener,” ujarnya di sela-sela tawanya yang mereda. “Dia kerja bareng sama saya sekarang. Pas kita butuh desain UI, dia bilang coba aja hubungi kamu.”
“Wah, ada gunanya juga ya aku cerita ke dia,” tanggap Nurul dibarengi tawa kecil. Sudah menjadi kebiasaannya, ketika dia tertawa dia menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Sesuatu yang banyak dianggap orang di sekitarnya dengan ‘anggun’, namun sebenarnya itu hanya kebiasaan.
Ali hanya tertawa mendengar tanggapan wanita itu. Mereka kemudian berfoto bersama untuk dipamerkan di grup geng SMA mereka. Di bawah foto itu Nurul menulis pesan ‘kencan pertama nih’ sebagai candaan dengan emoticon tertawa. Dia tidak ada niat lain saat menulis pesan tersebut, setidaknya saat ini pesannya itu hanya bercanda.
-oOo-
Pada dasarnya masa depan adalah misteri dan hidup merupakan kumpulan ujian tanpa kisi-kisi. Setelah pertemuannya kembali dengan laki-laki pemilik nama lengkap Aliando Rafi Utama itu, tiga bulan berlalu dengan cepat. Di sela-sela pergantian minggu ke minggu, keduanya beberapa kali bertemu lagi untuk menyelesaikan kolaborasi mereka.
Sesungguhnya Nurul bukanlah penggemar istilah ‘teman jadi cinta’, namun seolah hatinya memiliki pemikiran sendiri, semakin sering dia bertemu dengan pemuda tampan tersebut, semakin hatinya menjadi tidak karuan. Kadang sebelum bunyi notifikasi di gawainya berbunyi, jantungnya sudah ajep-ajep bak di diskotik. Atau semalam sebelum mereka bertemu, Nurul sudah mengobrak-abrik lemari pakaiannya berharap menemukan baju baru. Dan hal yang paling tidak dia sangka adalah bagaimana dirinya bisa secara otomatis tersenyum bodoh ketika mengingat wajah tampan pemuda itu.
Semua kelakuannya yang tidak wajar itu bahkan disadari oleh orang-orang di sekitarnya. Termasuk sang bunda dan kakak perempuannya.
“Kamu lagi suka sama orang ya?” tembak sang kakak dengan wajah menghakimi.
Nurul yang saat itu baru saja pulang dari kantornya menatap sang kakak yang baru keluar dari dapur membawa makan malam ke meja makan. “Hah?”
“Enggak usah pura-pura deh. Bunda cerita kamu suka senyum-senyum sendiri. Siapa orangnya? Temen kerjamu?” tanya Mbak Rani dengan senyum jahilnya. “Eh, bukannya temen kerjamu cewek semua ya? Jangan bilang kamu…”
“YA ALLAH ENGGAK!” bantahnya dengan wajah kaget yang tidak dibuat-buat.
Sang kakak tertawa melihat ekspresi adeknya tersebut. “Jadi kapan mau dikenalin ke Bunda sama Bapak?”
Nurul meletakkan tasnya di atas sofa ruang tengah dan melepas kerudungnya lalu duduk di sana, menyalakan televisi di depannya. “Kenalin apanya? Dia juga enggak suka sama aku,” ujarnya.
Nurul tahu kalau Ali bukanlah lelaki yang ditakdirkan bersamanya di bumi. Benang merah mereka tidak berlabuh pada satu dengan yang lain. Dan sesungguhnya Nurul pernah melihat seorang perempuan yang memiliki ujung benang merah milik Ali. Cintanya ini tidak bermakna bila dihadapkan oleh takdir. Jadi dia hanya ingin menikmatinya saja selagi bisa.
“Hee? Masih bertepuk sebelah tangan ternyata…” goda Mbak Rani yang ikut duduk di sebelah Nurul.
“Kalau orangnya baik dan Allah mentakdirkan, InsyaAllah juga jadi dek,” ujar sang bunda yang keluar dari dapur dengan membawa panci berisi sayur asem.
Nurul yang melihat ke arah bundanya menyiapkan meja makan untuk makan malam, bangkit dan berdiri di samping bundanya. Dia menghitung piring yang disiapkan oleh bunda berjumlah 4 buah. “Mas Angga enggak akan ke sini emang?” tanyanya yang merasa piring di meja makan kurang satu.
“Enggak dia sibuk sama kantornya,” jawab sang kakak dengan sewot.
Nurul yang mendengar nada kesal dari kakaknya tahu kalau dua sejoli itu pasti sedang bertengkar. “Kenapa lagi dah? Kayaknya baru kemarin kalian berantem.”
“Enggak berantem, cuma beda pendapat aja,” bela sang kakak yang ikut duduk di meja makan.
Sebenarnya mereka masih menunggu ayahanda mereka pulang, namun Nurul dan Rani suka duduk di kursi meja makan saat semua makanan sudah siap. Tangan mereka akan secara naluri mengambil tahu atau tempe goreng yang sudah ditata rapih oleh bunda.
“Jangan dihabisin yaa,” ujar bunda yang kembali ke dapur untuk mencuci panci dan wajan bekas memasak tadi.
Dua putri kesayangannya itu terkadang memang sedikit kurang ajar, bukannya membantu sang bunda malah bergosip ria berdua. Namun Bunda yang sudah hafal tabiat anak-anaknya tidak pernah merasa mereka tidak berbakti. Mungkin memang dasar cinta ibu melebihi apapun di dunia ini.
“Jadi kenapa lagi nih? Keseringan berantem juga enggak baik lho, Mbak!” ujar Nurul sambil meniup-niup tahu yang masih panas di tangannya.
“Berantem tuh part of growth ya dek,” bela sang kakak yang juga memakan tahu goreng buatan bunda.
Nurul yang mendengar tanggapan kakak perempuannya itu langsung menatap sangsi. “Emangnya Mbak Rani sama Mas Angga anak kecil apa?”
Saat perempuan yang menggunakan daster itu diam dan hanya fokus pada tahu di depannya, Nurul tahu kalau masalah mereka kali ini lebih serius daripada biasanya. Sejujurnya perempuan berusia 25 tahun itu tidak begitu khawatir, karena Mbak Rani dan suaminya, Mas Angga terhubung dengan benang merah yang sama. Namun cukupkah benang merah itu menjaga mahligai rumah tangga mereka?
“Mas Angga enggak selingkuh kan, mbak?” tanya sang adik khawatir pada kakak satu-satunya tersebut.
“Nurul! Istigfar!” seru Bunda dari dapur.
“Astagfirullahal ‘azhiim,” bisiknya langsung setelah mendengar perintah sang bunda.
Mbak Rani yang melihat adiknya tersebut masih menatap wajahnya dengan tatapan ‘tapi aku serius nanya nih’, menggelengkan kepalanya. “Kamu kebanyakan nonton sinetron nih,” ujar sang kakak yang lebih tua 5 tahun darinya itu. “Enggak kok, Angga setia. Kita cuma enggak sependapat aja. Soal nabung buat bayi tabung.”
Nurul yang mendengar alasan kakaknya langsung diam. Kakaknya itu sudah menikah lebih dari 6 tahun, namun hingga sekarang masih belum memiliki momongan. Jujur saja, Nurul melihatnya ini hal yang wajar. Menurutnya setiap pasangan punya waktunya masing-masing, dan lagi yang memberikan keturunan itu kan Allah. Tapi di sisi lain, Nurul juga tahu bagaimana orang-orang di sekitar kakaknya itu bertanya dengan maksud ‘baik’, tanpa memikirkan perasaan saudaranya itu.
Sang bunda yang kembali dari dapur memeluk dan membelai kepala anak sulungnya itu. “InsyaAllah kalau Allah udah berkehendak, pasti jadi kok nak. Berdoa terus ya! Bunda juga pasti doain yang terbaik buat kamu sama Angga. Kita siap-siap shalat maghrib yuk!” tutur sang bunda dengan lembut.
Kakak sulungnya itu memeluk tubuh sang ibu manja. Nurul yang tidak begitu suka dengan suasana emosional seperti saat ini, memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan membersihkan make-up di wajahnya.
Tidak bisa dia sangkal. Kadang melihat kakaknya yang bertengkar dengan suaminya membuat dirinya berpikir. Kalau yang sudah ditakdirkan bersama saja cobaanya sebanyak itu, apa lagi kalau dia berakhir dengan orang yang bukan takdirnya ya?
Pikirannya itu buyar saat suara notifikasi gawainya berbunyi. Tanda pesan masuk dari Ali.
-oOo-