Mobil SUV hitam itu berhenti di seberang jalan dari butik Gayatri Vogue, tepat saat jam makan siang lewat sepuluh menit. Gala turun dengan satu tangan di saku jasnya — di dalam sana, selembar scarf kecil yang sudah dua hari ini tidak pernah jauh dari jangkauannya.
'Ambil sendiri, katamu,' gumamnya pada dirinya sendiri sambil menyeberangi jalan. 'Dan sekarang siapa yang mengantarkannya sendiri ke Bandung? Pintar sekali, Manggala. Konsisten sekali.'
Ia menggeleng pada dirinya sendiri, tapi kakinya tidak berhenti. Tidak pernah berhenti, sejak dua hari lalu.
Bel butik berbunyi. Marini yang membukakan pintu, dan langsung salah tingkah melihat sosok tinggi besar berjas gelap di depannya. 'Ma-maaf pak, kami—'
'Mencari bosmu,' Gala memotong dengan datar.
'A-ada perlu apa ya—'
'Gala!' Suara Aya dari dalam, dari balik tirai ruang kerjanya. Ia muncul dengan mata menyipit, langsung berdiri menghalangi antara lelaki itu dan stafnya. 'Marini, tidak apa. Kembali kerja.' Lalu ke Gala, dengan nada yang tidak ramah sama sekali: 'Kamu. Lagi. Apa sekarang? Mannequin yang lain belum cukup hancur?'
Gala menyeringai. Ia mengeluarkan scarf itu dari saku jasnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tepat di depan wajah Aya. 'Barang bukti. Kamu bilang ini kenangan mamamu. Aku mengantarkannya.'
Aya membelalak. Tangannya bergerak cepat menyambar — tapi Gala lebih cepat, mengangkat scarf itu lebih tinggi, jauh di atas jangkauannya.
'Hei!' Aya melompat kecil. 'KEMBALIKAN!'
'Ada syaratnya,' Gala menunduk sedikit, menikmati setiap detik wajah kesal di depannya. 'Syarat dan ketentuan berlaku.'
'Kamu ini gila! Itu BARANGKU!'
'Yang kamu jatuhkan. Yang aku pungut. Yang sudah aku jaga dua hari,' Gala menghitung dengan jari. 'Jadi secara teknis, kamu berhutang satu ucapan terima kasih yang tulus. Itu syaratnya. Satu kalimat. Tidak sulit untuk perempuan secerdas kamu, kan?'
Aya menatapnya dengan napas memburu. Tangannya terkepal. Dan Gala tahu persis wajah itu — wajah yang sama dengan malam di balkon, wajah yang menolak mundur. Wajah yang, sialnya, dua hari ini tidak berhenti muncul di kepalanya.
'Terima. Kasih,' kata Aya akhirnya, dengan gigi terkatup, dua kata yang diucapkan seperti dua batu dilemparkan.
'Tidak tulus.'
'KAMU—'
'Baik, baik,' Gala menyerahkan scarf itu, mengangkat satu tangan menyerah dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. 'Aku terima versi batu itu. Lain kali pakai perasaan.'
Aya merebut scarf itu dan langsung memeluknya ke dadanya seperti orang merebut kembali napasnya. Dan Gala melihatnya — melihat bagaimana perempuan ini memegang benda kecil itu seperti memegang ibunya sendiri. Ada sesuatu yang aneh di dadanya. Debar itu lagi. Debar yang tidak ia mengerti dan tidak ia sukai dan tidak bisa ia suruh berhenti.
'Kenapa kamu datang sendiri?' tanya Aya tiba-tiba, lebih pelan, curiga. 'Kamu CEO. Kamu punya seribu staf. Kamu bisa menyuruh siapa saja.'
Gala membeku sepersekian detik. Karena pertanyaan itu — pertanyaan yang sama yang ia hindari menjawabnya sejak menyalakan mesin SUV-nya di Jakarta. 'Karena aku tidak percaya kurir,' jawabnya akhirnya, datar, bohong, dan ia tahu Aya tahu itu bohong.
Bel pintu berbunyi lagi. Kali ini sosok lelaki tinggi dengan kemeja rapi melangkah masuk sambil mengangkat satu jinjingan. 'Aya! Aku bawa—' Janaka Wiratama berhenti di tengah kalimat. Matanya bertemu mata Gala.
Dan Gala merasakannya langsung — rasa yang sama seperti dua hari lalu dari balik jendela mobil: panas, tajam, tidak masuk akal. Lelaki ini lagi. Lelaki yang membuat Kirani tertawa dengan mata berbinar itu.
'Siapa ini?' tanya Jana pelan ke Aya, tapi matanya tidak lepas dari Gala.
'Tidak ada siapa-siapa,' jawab Aya cepat.
'Menarik,' kata Gala, menyilangkan tangan, menatap Jana dari atas ke bawah seperti menilai struktur bangunan yang tidak lolos standar. 'Karena aku cukup yakin aku bukan tidak ada siapa-siapa. Tanyakan saja pada siapa pun di Jakarta.'
'Gala!' Aya mendesis.
'Temanmu?' tanya Gala, tidak bergeser, dagunya menunjuk Jana. 'Sering ke sini? Bawa-bawa makanan? Rajin sekali.'
'Itu bukan urusanmu!' Aya mendorong bahu Gala ke arah pintu — atau mencoba, karena tubuh itu tidak bergeser satu senti pun. 'Keluar! Scarf sudah kembali! Urusan kita selesai!'
'Kita lihat saja selesai atau tidak,' gumam Gala, membiarkan dirinya terdorong dua langkah — dua langkah yang ia berikan dengan sukarela, bukan karena dorongan itu berarti apa-apa. Di ambang pintu ia berhenti, menoleh, dan untuk satu detik penuh ekspresi garangnya menghilang, tersisa sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya. 'Scarf itu. Jangan sampai hilang lagi.'
Lalu ia pergi, dan SUV hitam itu meninggalkan Bandung dengan satu lelaki di kursi belakang yang tidak berhenti menyentuh dada sebelah kirinya sepanjang tol.
Di dalam butik, Jana meletakkan jinjingannya pelan-pelan. 'Aya. Itu tadi siapa? Dan jangan bilang tidak ada siapa-siapa, karena lelaki seperti itu tidak datang ke Bandung untuk tidak ada siapa-siapa.'
'Itu lelaki brengsek yang aku ceritakan,' Aya menghela napas panjang, meremas scarf di tangannya. 'CEO hotel itu. Yang mabuk. Yang merusak mannequin. Yang tengah malam tertidur di depan pintu.'
'Dan sekarang mengantarkan scarf ke Bandung. Sendiri,' Jana menatap sahabatnya lama. 'Aya. Kamu sadar tidak, apa artinya itu?'
'Artinya dia tidak waras,' Aya menjawab cepat. Terlalu cepat. 'Artinya dia bosan dan aku mainannya. Artinya aku harus mengunci pintu lebih rajin.'
Tapi malam itu, saat butik sudah tutup dan Bandung sudah sunyi, Aya duduk di meja gambarnya dengan scarf itu terbentang di depannya — dan ia tidak menggambar satu garis pun. Ia hanya memikirkan dua kata yang diucapkan lelaki itu di ambang pintu, dengan wajah yang aneh, dengan nada yang bukan nada seorang preman berdasi:
'Jangan sampai hilang lagi.'
'Menyebalkan,' gumamnya pada keheningan. 'Sangat menyebalkan. Lelaki paling menyebalkan yang pernah diciptakan.'
Tapi ia tidak bisa menjelaskan pada keheningan itu, kenapa ia mengulang dua kata itu dalam kepalanya sampai tertidur — dan kenapa di dalam mimpinya, satu suara berat berkata pelan: jangan sampai hilang lagi.