'Waktumu habis, Gala.'
Suta Kusuma meletakkan satu map tipis di meja ruang CEO itu dengan ketenangan seorang yang sudah empat puluh tahun bekerja untuk Keluarga Birawa dan tidak pernah sekali pun takut pada satu pun dari mereka. 'Papamu menelepon Adimurti Harja kemarin malam. Mereka bertemu akhir pekan ini. Kalau akhir pekan ini dua keluarga itu sepakat, maka tidak ada lagi yang bisa om lakukan. Kamu menikah dengan Nirmala Harja, atau kamu kehilangan segalanya. Dua-duanya bukan pilihan yang kamu mau.'
Gala berdiri di jendela besar ruangannya, memandang Jakarta yang tidak menjawab apa-apa. 'Jadi aku punya berapa hari?'
'Empat.'
'Empat hari untuk menemukan seorang calon istri,' Gala tertawa pendek, pahit. 'Om pikir ini belanja online?'
'Om pikir kamu sudah punya jawabannya,' kata Suta pelan. 'Om hanya menunggu kamu mengakuinya.'
Gala berbalik tajam. 'Maksud om?'
'Bandung,' kata Suta, satu kata, tanpa senyum, tanpa menghakimi. 'Dua kali dalam seminggu. Sekali tengah malam, sekali siang bolong. Om tidak perlu bertanya kepada siapa pun — cukup melihat laporan penggunaan mobil dinas. Dan kemarin, sopir melaporkan bahwa bapak menyuruhnya berhenti dua kali dalam perjalanan pulang, karena bapak — kutip — sedang memikirkan sesuatu.' Suta menarik napas. 'Tiga puluh delapan tahun om mengenalmu, Gala. Kamu tidak pernah memikirkan sesuatu sampai menyuruh mobil berhenti.'
'Perempuan itu bukan calon apa-apa,' Gala memotong, terlalu cepat. 'Dia membenciku. Dia menamparku. Dia menendang—' Ia berhenti.
'Dan kamu mengantarkan selembar scarf ke Bandung dengan tanganmu sendiri,' Suta melengkapi, lalu berdiri, merapikan jasnya. 'Om tidak menyuruhmu memilihnya. Om hanya mengingatkan: syaratnya adalah seorang perempuan yang kamu ajak, yang bersedia, yang bisa om bawa ke hadapan papamu dengan kepala tegak. Empat hari, Gala. Pikirkan dengan kepala, bukan dengan ego.'
Pintu tertutup. Gala berdiri lama sekali di jendela itu.
'Kepala,' gumamnya. 'Om minta pakai kepala. Tapi yang berisik justru bukan kepala.'
Ia duduk di mejanya dan membuka laptop — membuka folder kontak, daftar nama, semua perempuan yang pernah ada dalam orbitnya. Model. Anak pengusaha. Artis. Satu per satu nama itu lewat di kepalanya, dan satu per satu ia coret dengan alasan yang sama: mereka semua mau. Mereka semua akan berdiri di depan papanya dengan senyum yang sudah dilatih, dengan kalkulasi yang sudah jadi, dengan mata yang menghitung saham. Dan papanya — papanya yang sudah empat puluh tahun membaca orang — akan menciumnya dari pintu masuk.
'Tidak ada satu pun yang bisa lewat,' gumamnya. 'Karena tidak ada satu pun dari mereka yang pernah bilang tidak kepadaku.'
Dan di sanalah pikirannya berhenti. Pada satu-satunya nama yang mengatakan tidak. Pada satu-satunya perempuan yang menamparnya, yang menendangnya, yang mengembalikan jasnya dengan mata kesal, yang memeluk selembar scarf seperti memeluk ibunya. Perempuan yang tidak bisa dibeli — dan justru karena itu, satu-satunya yang mungkin bisa lewat di depan mata Sembada Birawa.
'Radit,' Gala menekan tombol interkom.
'Ya pak?' Radit muncul dengan map di tangan.
'Perempuan itu. Kirani Gayatri. Kamu masih simpan hasil cari tahu kemarin?'
Radit mengangguk hati-hati. 'Simpan, pak. Tapi... bapak yakin? Boleh saya bicara jujur?'
'Bicara.'
'Perempuan itu membenci bapak,' kata Radit apa adanya — karena hanya Radit yang berani bicara begini, dan hanya kepada Radit bosnya tidak pernah marah karenanya. 'Dan setahu saya, untuk dijadikan calon istri — bahkan pura-pura — biasanya tahap pertamanya bukan dibenci.'
Gala menatapnya. Lalu, untuk keheranan Radit, bosnya itu tertawa — tawa pendek, lelah, tapi tulus. 'Tahap pertamanya memang bukan dibenci. Tapi tidak ada satu pun nama lain di daftar ini yang bisa berdiri di depan papaku tanpa gemetar. Dia satu-satunya yang menamparku sebelum tahu siapa aku. Itu jawabannya, Radit. Itu satu-satunya jawaban.'
Radit terdiam sejenak. Lalu pelan-pelan, ia tersenyum kecil. 'Kalau begitu, semoga bapak beruntung. Karena kalau boleh saya tebak, meyakinkan perempuan itu akan lebih sulit daripada meyakinkan Bapak Sambada.'
'Keluarkan,' kata Gala, tapi sudah tersenyum. 'Keluarkan, sebelum aku memecatmu dengan promosi.'
***
Di Bandung, butik Gayatri Vogue sedang tidak butik pada siang itu — ia berubah menjadi dapur umum persiapan perang. Kain-kain tergantung di mana-mana, gambar-gambar menempel di dinding, dan Hesti berlari-lari dengan daftar yang tidak pernah habis.
'Indonesian Fashion Day, lima hari lagi,' Kania membaca ulang rundown. 'Kita dapat slot runway hari kedua, pukul empat sore. Booth nomor dua belas, hall utama. Semua harus sudah di Jakarta H minus dua untuk fitting dan gladi.'
'Baik,' Aya menatap koleksinya — jajaran busana ringan dalam warna-warna kalem, koleksi yang ia beri nama 'Awan'. 'Ini momen kita. Setelah London, setelah setahun merintis di sini — ini panggung pertama yang benar-benar besar.'
'Di Grand Hotel Birawa,' Marini menambahkan, dan ruangan itu tiba-tiba hening. Tiga pasang mata staf menatap bosnya.
'Aku tahu,' kata Aya datar. 'Aku tahu persis di mana acaranya. Dan tidak, itu tidak mengubah apa-apa. Hotel itu punya ballroom, kita butuh ballroom-nya. Titik.'
'Titik,' ulang Hesti, tidak yakin.
'TITIK,' ulang Aya, lebih keras, dan kembali ke meja gambarnya — dengan satu tangan yang, tanpa ia sadari, menyentuh scarf di lehernya. Scarf yang sama. Yang sejak dikembalikan tidak pernah lagi ia lepas ke mana-mana.
***
Nirmala Harja tidak tidur nyenyak tiga malam terakhir.
Ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya dengan seluruh insting yang dimiliki seorang putri tunggal Harja — insting yang sama yang membuatnya tahu kapan ayahnya akan menaikkan harga, kapan kompetitor akan bermanuver. Gala berubah. Lelaki yang tidak pernah menolak kehadiran perempuan mana pun itu, kini menghindar dengan alasan yang basi: rapat, lelah, mengantuk.
Dan dua kali mobil dinasnya tercatat ke Bandung.
Nirmala mengetuk meja kerjanya sekali, dua kali, lalu menelepon seseorang — seorang penyedia jasa investigasi yang biasa dipakai ayahnya untuk urusan yang tidak bisa ditanyakan langsung.
'Bandung,' katanya singkat. 'Aku mau tahu apa yang ada di Bandung. Siapa. Semua.'
Ia menutup telepon dan menatap foto dirinya bersama Gala di ponselnya — foto yang ia paksakan di lobi hotel itu.
'Kamu akan jadi milikku, Gala,' bisiknya. 'Papa sudah bergerak. Dan aku tidak pernah kalah. Tidak pernah.'