Grand Hotel Birawa menyambut Indonesian Fashion Day seperti menyambut tamu negara: spanduk-spanduk besar, karpet panjang, dan ballroom utama yang disulap menjadi runway berlampu-lampu. Aya berdiri di lobi itu dengan dua koper dan satu kotak besar berisi koleksinya, dengan tiga staf di belakangnya, dan dengan satu tekad yang sudah ia ulang sejak berangkat dari Bandung: urusan bisnis, bukan urusan masa lalu. Balkon itu di lantai lain. Lelaki itu di gedung lain. Tidak ada yang perlu dipikirkan.
'Kamar dua puluh tiga, dua puluh empat, dua puluh lima, lantai dua belas,' resepsionis menyerahkan tiga kartu kunci. 'Dan untuk Ibu Kirani, ada pesan dari manajemen — booth dua belas sudah siap sejak pagi, dan Ibu dipersilakan melakukan fitting panggung mulai besok pagi pukul delapan.'
'Terima kasih,' Aya mengangguk, lalu berhenti. 'Maaf — pesan dari manajemen? Untuk saya? Biasanya rundown dikirim ke email panitia.'
'Ini bukan dari panitia, Bu,' resepsionis itu tersenyum kaku. 'Ini langsung dari lantai tujuh belas.'
Lantai tujuh belas. Aya tahu persis kamar apa yang ada di lantai tujuh belas. 'Baik,' katanya kaku. 'Terima kasih.'
'Aya.' Suara itu datang dari belakangnya, dan seluruh lobi seperti mengecil. Gala berdiri di sana dengan jas abu-abu, tangan di saku, berusaha terlihat seperti kebetulan — padahal tidak ada satu pun di hotel ini yang percaya CEO mereka kebetulan berdiri di lobi pukul sebelas pagi di hari Sabtu. 'Selamat datang. Di hotelku.'
'Di hotel panitia,' koreksi Aya dingin. 'Aku tamu acara. Bukan tamumu.'
'Bedanya tipis,' Gala melangkah mendekat, dan tiga staf Aya secara serentak mundur satu langkah seperti satu barisan yang terlatih. 'Booth dua belas itu posisi terbaik di hall utama. Dekat pintu masuk, kena lampu dari dua sisi. Kamu harus tahu, itu bukan undian. Itu keputusan.'
Aya menatapnya. 'Keputusan siapa?'
'Keputusan seseorang yang tahu koleksimu layak dapat tempat terbaik,' Gala menjawab, dan untuk sekali ini tidak ada seringai di wajahnya. 'Anggap saja ganti rugi. Untuk mannequin.'
'Aku tidak butuh ganti rugi dar—'
'Aya!' Jana muncul dari arah pintu masuk dengan jas lusuh khas orang yang habis rapat, mengangkat satu tangan lebar-lebar. 'Akhirnya sampai juga. Rapatnya membosankan sekali, aku kabur—' Ia berhenti. Melihat Gala. Melihat Aya. Melihat Gala lagi. 'Oh. Kamu. Lagi.'
'Dan kamu. Lagi,' Gala membalas dengan nada yang persis sama datarnya. Dua lelaki itu saling menatap seperti dua arsitek menilai gedung yang saling bertentangan.
'Sudah!' Aya mengangkat kedua tangan. 'Ini lobi hotel, bukan arena. Jana, koperku yang dua. Kamu—' ia menoleh ke Gala, '—kembali ke lantai tujuhbelasmu. Aku punya fitting besok pagi, dan aku tidak akan membiarkan satu pun hal mengacaukannya. Satu pun.'
Gala membuka mulutnya — dan menutupnya lagi. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di wajah perempuan ini yang bukan amarah, bukan takut, bukan kesal: kegigihan seorang profesional yang sedang menjaga panggungnya. Dan sialnya, itu membuatnya semakin tidak bisa berpaling.
'Satu pertanyaan,' kata Gala sebelum pergi, dengan nada yang ia usahakan tetap ringan. 'Malam itu — malam pertama — kamu ke Jakarta bukan untuk acara ini. Acara ini baru diumumkan dua minggu lalu. Jadi untuk apa kamu ke Jakarta malam itu?'
Aya terdiam. Untuk satu detik, sesuatu yang lembut dan lama bergerak di wajahnya — sesuatu yang membuat Gala ingin tahu dan tidak ingin tahu dalam waktu yang bersamaan. 'Mencari seseorang,' jawab Aya akhirnya, jujur, karena tidak ada alasan untuk berbohong pada orang asing. 'Seseorang dari lima belas tahun lalu. Dan tidak, itu bukan kamu, jangan ge-er.'
'Aku tidak berpikir apa-apa,' kata Gala, terlalu cepat. Dan ia membenci bahwa dadanya berdesir mendengar jawaban itu — lega dan kesal sekaligus, dua rasa yang tidak masuk akal untuk satu pertanyaan tidak penting. Ia menyimpannya ke dalam kantong bersama semua hal lain yang tidak ia mengerti akhir-akhir ini.
'Besok,' kata Gala akhirnya, mundur selangkah. 'Pukul delapan, fitting. Aku akan memastikan teknisi terbaikku berjaga. Anggap ini kerja sama antar-penyelenggara.' Ia berbalik, lalu berhenti, tanpa menoleh: 'Oh, dan Aya. Selamat bertanding. Koleksi Awan itu — aku dengar bagus.'
Lalu ia pergi, meninggalkan satu lobi yang diam, tiga staf yang saling pandang, satu Jana yang alisnya naik, dan satu Aya yang menatap punggung itu dengan satu pertanyaan yang tidak bisa ia jawab: sejak kapan lelaki brengsek itu tahu nama koleksinya?
'Dia menyelidikimu,' kata Jana pelan saat lift menutup. 'Aya. Dia tahu nama koleksimu. Itu tidak didapat dari kebetulan.'
'Aku tahu,' jawab Aya, menatap angka-angka lift yang naik. 'Dan aku tidak tahu harus takut atau harus—' Ia berhenti.
'Harus apa?'
'Harus tersanjung,' Aya mengakui, sangat pelan, sangat kesal pada dirinya sendiri. 'Dan aku membenci bahwa aku merasakannya.'
Di lift yang membawanya naik ke lantai dua belas, Aya tidak bisa menahan matanya untuk tidak melihat ke atas — ke lantai-lantai yang lebih tinggi, ke lantai tujuh belas yang tidak terlihat dari mana pun. Ia menggeleng keras pada dirinya sendiri. 'Bisnis,' bisiknya. 'Aku ke sini untuk bisnis.'
Tari meneleponnya tepat saat koper terakhir masuk kamar. 'Lapor, sister. Sudah sampai? Di hotel itu? Hotel si brengsek?'
'Sudah. Dan jangan panggil dia begitu,' jawab Aya — dan langsung menyesal, karena di ujung sana Tari terdiam satu detik penuh sebelum meledak.
'OH. Oh oh oh. Jangan panggil dia begitu, katamu. Sejak kapan kamu membela si brengsek? Aya. AYA. Ada apa?'
'Tidak ada apa-apa! Maksudku — ini hotel acara, dan kita tamu acara, jadi tidak sopan—'
'Kamu tidak sopan padanya sejak hari pertama dan tidak pernah merasa perlu alasan,' Tari memotong dengan keahlian seorang sahabat lima belas tahun. 'Sesuatu terjadi. Aku menciumnya dari sini. Nanti malam kamu cerita, atau aku naik kereta pertama besok pagi dan menginterogasimu langsung di lobi.'
'Fitting besok jam delapan,' Aya mengalihkan dengan panik. 'Dan Tari — koleksi ini harus sempurna. Ini panggung terbesar kita.'
'Dan kamu menghindar dari topik,' kata Tari, tapi nadanya melunak. 'Baik. Menangkan dulu panggungmu, sister. Ceritanya bisa menunggu — tapi tidak bisa lari.'