“Kalian itu niat nikah atau enggak, sebenarnya? Waktu fitting gaun, Mbak enggak bisa. Sekarang tes kesehatan, Mas Elang yang enggak bisa. Jangan-jangan nanti saat nikah, salah satu juga enggak bisa?”
Mbak Kiki hanya tersenyum, terus menggandengku menuju klinik milik temannya. Ya, hari ini Mbak Kiki akan tes kesehatan guna memenuhi persyaratan pendaftaran di KUA.
Aku dipaksa menemani karena calon suaminya sedang berada di Semarang sampai lusa. Salah satu dari mereka absen lagi. Sungguh aneh!
“Mbak—”
“Bukan enggak bisa, Ra. Dia udah tes duluan, aku baru bisa sekarang. Pada akhirnya, yang penting kami sama-sama punya tes kesehatan buat daftar nikah di KUA.”
“Iya juga, sih.” Aku manggut-manggut. “Tapi kalian ini kayak pasangan lagi berantem. Pisahan mulu.”
“Enggak, kok. Hubungan kami baik. Kesibukan aja yang bikin kami begini.”
“Mbak enggak terpaksa, kan, nikah sama Mas Elang? Kalau terpaksa, batal aja mumpung belum terlambat.”
“Enggaklah.” Mbak Kiki langsung menggeleng. “Kami sama-sama mau. Sama-sama sukarela.”
“Kirain!”
“Kami udah sama-sama dewasa, Ra. Hal sepele gini bukan masalah. Kami sama-sama udah paham kesibukan masing-masing.”
“Tapi Mas Elang kayak cinta banget sama Mbak Ki, tahu.”
“Cinta? Atas dasar apa kamu ngomong gitu?”
“Kue topping Kiwi waktu itu, sih?”
“Oh, itu. Ya dia sekadar nunjukin perhatian sebagai teman dan calon suami yang baik. Lagi pula, umur segini kalau ngomongin nikah, cinta itu nomor ke-sekian. Ada banyak yang lebih penting dari itu.”
“Gitu, ya?”
Sebenarnya, hubungan mereka ini bagaimana mulanya sampai memutuskan untuk menikah? Apa jangan-jangan Mas Elang jatuh cinta sendirian? Atau soal kue, hanya sekadar perhatian formalitas? Tapi masa iya?
“Kamu ikut tes aja, Ra!” ujar Mbak Kiki begitu kami sudah dekat dengan pintu masuk. Dia juga berhenti.
“Aku enggak mau. Buat apa?”
“Anggap aja periksa kesehatan rutin. Sekalian.”
“Enggak mau—”
“Mumpung udah sampai sini. Sekalian aja. Apa susahnya, sih?”
Aku mencebik pelan. “Ya udah, ya udah! Ikut. Tapi aku enggak mau keluar uang.”
“Kapan aku biarin kamu bayar?”
Aku meringis. “Belum pernah.”
Memang tak ada yang salah dengan ikut tes kesehatan. Selain Mbak Kiki yang bayar, efisien waktu juga karena aku tidak perlu cek lagi sampai enam bulan ke depan.
Selama di dalam klinik, semuanya Mbak Kiki yang urus. Aku hanya mengekor ke mana pun dia pergi.
Selama ini aku terbiasa mandiri, tetapi jika dengan Mbak Kiki, aku merasa jadi anak yang hilang arah dan perlu dibimbing. Barangkali karena Mbak Kiki memiliki aura dominan dan mengayomi yang sangat kuat.
“Aku udah, Ra. Giliran kamu.”
“Oke!”
Selagi aku diperiksa, tiba-tiba Mbak Kiki menerima telepon. Aku mendengar dia menyebut kata ‘Lang’. Artinya, calon suaminya sendiri yang telepon.
Baguslah! Sekalipun jauh, komunikasi mereka tetap berjalan dengan baik.
***
Pernikahan Mbak Kiki semakin dekat, yakni tinggal dua minggu lagi. Aku sudah tak dibolehkan pulang ke rumah sendiri. Aku terus diminta menginap di rumahnya untuk menemani masa-masa terakhirnya menjadi lajang.
Aku setuju-setuju saja karena rumah Mbak Kiki malah lebih dekat dengan tempat kerjaku. Naik mobil hanya lima menitan saja. Kalau dari rumahku, bisa hampir tiga puluh menit.
“Ra …” Mbak Kiki memanggil lirih.
“Hm?”
Saat ini kami sedang sama-sama merebah di sofa raksasa yang ada di ruang tengah. Kami tidak berdampingan, melainkan malah kepala ketemu kepala.
“Menurut kamu, Elang itu gimana?”
“Kenapa tiba-tiba nanya itu? Mbak ngerasa ragu? Itu ujian pernikahan, Mbak. Semakin dekat, suka ada aja ragunya. Biasanya pada gitu. Aku denger dari beberapa temenku yang udah nikah.”
“Jawab aja dulu.”
“Aku enggak ada masalah sama dia, jadi fine-fine aja.”
“Bukan itu jawaban yang kumau. Aku ingin kamu gambarin soal karakter dia sejauh kamu kenal.”
“Hm … aku enggak begitu suka sama karakternya yang terlalu cuek. Irit ngomongnya itu terlalu irit. Cuma kata suami temenku, dia baik. Kalau udah kenal dekat, omongnya enggak seirit itu lagi.”
“Suami temen?”
“Ih! Si Alya, lho, Mbak! Suaminya Alya.”
“Oh! Yang dokter itu, ya?”
“Iya. Dia, kan, temennya Mas Elang. Cukup deket.”
“Tapi aku pengen denger penilaian kamu, bukan penilaian orang lain.”
“Ya aku cuma enggak suka sama irit ngomongnya itu. Kelewat cuek, jadi sebel.”
“Selebihnya?”
“Kelihatannya memang dia baik, sih. Maksudnya, enggak neko-neko. Aku juga suka kalau lihat dia bawain Mbak Ki makanan yang berbau Kiwi.”
“Sekalipun kamu enggak ikut makan?”
“Iya, dan enggak papa. Kan memang buat Mbak Ki. Yang aku peduliin itu perhatian dia buat Mbak. Jangan sampai Mbak salah pilih suami. Gituuu!”
“Aku enggak ngerasa salah. Elang memang orang baik. Dan suaminya Alya bener. Kalau udah kenal dekat, sebenarnya dia enggak secuek itu.”
“Mbak sama Mas Elang cuma sekelas saat SMP, ya?”
“Iya, saat SMP aja. Tapi kami masih satu SMA juga.”
“Lah? Kupikir cuma SMP aja.”
“SMP itu kami satu kelas terus selama tiga tahun penuh, makanya yang terkenang SMP-nya. Kalau SMA, enggak pernah satu kelas. Apalagi, kami beda jurusan. Aku anak IPS, dia anak IPA.”
“Oh, begonooo!” aku manggut-manggut. “Tapi jujur, aku penasaran kenapa kalian tiba-tiba nikah. Soalnya selama ini kalau ketemu biasa aja kayak ketemu temen. Eh, tiba-tiba kencan dan mutusin buat menjalin rumah tangga. Apa enggak kikuk, tuh, nikah sama temen sendiri?”
Mbak Kiki malah tertawa. “Aku hanya merasa dia worth it jadi suami.”
“Worth it-nya?”
“Ganteng memang relatif, tapi cuma orang buta yang bilang dia enggak ganteng.”
“Jujur, meski aku enggak begitu suka Mas Elang, tapi soal ganteng, dia mutlak.”
Mbak Kiki tertawa lagi. “Soal mapan, jangan ditanya. Soal tanggung jawab, lebih-lebih. Sejak masih kuliah, dia udah mulai ditempa Ayah dan kakaknya buat mimpin Adhiraja Grup.”
“Apa enggak berlebihan? Masih semuda itu.”
“Karena orang tuanya cerai, Ra. Ibunya selingkuh. Aku juga belum paham banget gimana sampai harus dia yang turun tangan saat harusnya masih nuntut ilmu. Tapi kayaknya keluarga baru Ibunya rese banget. Jadi dia enggak mau hak dirinya dan kakaknya diambil keluarga selingkuhan.”
“Lalu Ayahnya?”
“Setahuku, udah sering sakit. Mungkin terpukul karena diselingkuhi istri yang dicintainya.”
“Agak rumit, ya, Mbak?”
“Ya, begitulah. Aku pun agak bingung waktu dia cerita. Soalnya ceritanya juga masih setengah-setengah. Terus …”
“Terus?”
“Menikah dengan keluarga kita, bisa dibilang memperkuat posisinya.”
“Apalagi sama Mbak. Overkill, tuh! Pimpinan ketemu pimpinan. Hahaha!”
Mbak Kiki tiba-tiba bangun, aku pun mengikuti.
“Sebenarnya malah lebih cocok sama kamu, ya, Ra?”
“He?” aku mendelik, lalu menggeleng. “Enggak ada cocok-cocoknya!”
“Elang udah sesibuk itu, harusnya punya istri cantik yang siap menjadi ‘rumah’ buat dia di kala lelah.”
“Ya Mbak itu. Enggak papa sama-sama sibuk. Malah enggak makan ati karena udah saling paham. Kalau istrinya banyak di rumah, nanti makan ati karena sering ditinggal. Lagi pula, dia bakal lebih overpower kalau nikah sama Mbak. Sama aku dapat apa?”
“Ya sama-sama jadi menantu Ardhana.”
“Jadi, kalian pernikahan bisnis, nih?”
“Enggak juga. Soal jadi menantu Ardhana itu cuma bonus buat dia.”
“Tapi tetap bedalah, Mbak. Elang Jagatra Adhiraja dan Kivana Pramesti Ardhana. Lebih mantap tuh!”
“Kayaknya lebih cocok Elang Jagatra Adhiraja dan Naura Zivani Ardhana.”
“Baru kali ini orang mau nikah malah dijodoh-jodohin sama adik sendiri. Mbak jangan gitu. Nanti Mas Elang tersinggung.”
Mbak Kiki tersenyum, lalu menyandar. “Bercanda, Ra.”
“Ya harus! Kalau serius, aku bakal nangis. Enggak mau!”
Tepat setelah kami diam, tiba-tiba terdengar suara bel di bawah. Aku dan Mbak Kiki refleks saling pandang.
“Cek, Ra!”
Aku melompat dan mengintip di monitor. “Kurir, Mbak.”
“Minta tolong keluar.”
“Mbak pesan sesuatu?”
“Enggak. Keluar aja dulu.”
“Oke.”
Aku keluar rumah, lalu bergegas menuju gerbang.
“Ada apa, ya, Pak?”
“Atas nama Kivana atau Kiki?”
“Oh, saya adiknya.”
“Ini ada yang pesenin Kak Kivana.”
“Sini, Pak. Kakak saya di dalam.”
“Oke.”
Setelah menerima paper bag dan difoto, aku langsung masuk.
“Nih, buat Kak Kivana.” Aku mengulurkan paper bag.
“Apa isinya, Ra?”
“Mana kutahu!”
Mbak Kiki menerima paper bag yang kuulurkan dan membukanya. Begitu melihat isinya, aku langsung tersenyum.
“Kecintaan banget calon suaminya, ya, Bu Kiki! Dapat Kiwi lagi. Waktu itu kue, kali ini puding.”
“Maaf, ya, Ra? Enggak bisa nawarin. Kamu, kan, alergi.”
“Biasa aja, kali! Aku malah seneng lihat kakak ipar sebegitunya perhatian sama Mbak Ki. Enggak usah peduliin aku.”
Alih-alih segera memakan puding itu, Mbak Kiki malah menaruhnya di kulkas. Mataku langsung menyipit. “Kok enggak dimakan langsung, Mbak?”
“Biar dingin dulu. Makan nanti.”
Mbak Kiki kini masuk kamar. Sementara itu, aku masih bergeming di tempat sembari menggumam pelan. “Sebenarnya … Mbak Kiki ini senang atau enggak, sih, mau nikah? Kok kayak ada yang aneh?”
***