Pernikahan Mbak Kiki tinggal delapan hari lagi. Sebelum disibukkan dengan segala keriwehan menjelang pernikahannya, aku memilih untuk menepi sejenak di Gunungkidul.
Sengaja tidak jauh. Aku hanya ingin staycation di resort mini dekat pantai. Menikmati pemandangan matahari terbit dan tenggelam, juga laut biru kehijauan yang memanjakan mata.
Bisa dibilang, persiapan pernikahan sudah 95%. Undangan bahkan sudah disebar sejak beberapa hari yang lalu. Mbak Kiki yang mengurusnya sendiri.
“Enak banget udaranya. Sejuk!”
Pagi-pagi, aku sudah berjemur di kursi malas dekat kolam renang mini. Aku datang kemarin sore dan akan pulang nanti sore.
Sehari cukup, karena besok aku masuk kerja. Cutinya aku gunakan minggu depan, tepatnya saat acara pernikahan Mbak Kiki digelar.
“Haus, haus, haus!”
Aku bangkit, lalu mengambil air mineral di sebelah. Di saat yang sama, aku melihat ponselku menyala. Ponsel memang sengaja mode silent, makanya deringnya tak kedengaran.
“Loh! Dari Mama? Tumben beliau telepon minggu-minggu gini?”
Aku mengangkat panggilan itu.
“Hallo, Ma?”
“Kok baru angkat, Ra?”
“Hape-nya aku silent. Jadi, enggak tahu. Barusan nengok aja.”
“Dinyalain nada deringnya. Siapa tahu ada telepon penting.”
“Ya, Ma.”
“Kamu di mana, Ra?”
“Tumben Mama peduli—”
“Cepet jawab!”
“Aku di Gunungkidul aja. Nanti sore pulang, kok. Besok kerja soalnya.”
“Sama Kiki?”
“Ya enggak mungkinlah. Mbak Kiki, ya, di rumahnya. Aku enggak mungkin ngajak calon pengantin pergi jauh. Katanya pamali? Nanti kalau ada apa-apa, aku yang disalahin.”
“Kirain Kiki lagi sama kamu.”
Sudah kuduga. Mama meneleponku harus ada alasan lain. Tidak mungkin karena benar-benar peduli. Pasti ada sesuatu yang ingin beliau tanyakan padaku.
“Kenapa, memangnya? Kenapa sepagi ini cari Mbak Kiki?”
“Sejak semalam Mama telepon enggak diangkat. Papa juga.”
“Aktif, tapi?”
“Sempat aktif, tapi sekarang udah enggak. Elang juga udah hubungi dia, sama-sama enggak diangkat.”
“Masih merem, kali. Mbak Kiki sempat bilang sebelum menikah dia mau kejar kerjaan sampai gila-gilaan. Soalnya setelah itu dia mau cuti dan enggak ngurus perusahaan dulu. Karena proyek besarnya udah jalan dan stabil, terus dalam beberapa bulan ke depan enggak nerima proyek baru.”
“Proyek apa? Kamu tahu?”
“Kerja sama brand baru atau apaaa, gitu. Aku lupa!”
“Dia bilang gitu ke kamu?”
“Iya. Minggu lalu, saat aku nginap di rumahnya.”
“Kamu kenapa pulang lagi ke rumahmu? Kan kamu diminta nginap di rumahnya.”
“Enggak enak, Ma. Enakan di rumah sendiri.”
Memang, aku hanya betah menginap di rumah Mbak Kiki beberapa hari. Sekalipun lebih dekat dengan tempat kerja, tetap kurang nyaman. Pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Rasanya lebih leluasa saja.
“Artinya, dia lagi kecapekan aja, ya?”
“Iya, kayaknya, Ma. Kemungkinan gitu.”
“Ya udah, Mama matiin teleponnya.”
“Oke.”
“Beneran pulang nanti sore, Ra.”
“Siap!”
Panggilan berakhir. Setelah menyalakan nada dering, aku meletakkan kembali ponselku. Aku minum, lalu memejamkan mata lagi.
“Mau sampai kapan, sih, kayak gini? Punya orang tua pedulinya cuma kalau ada mau.”
Aku baru memejamkan mata lima menitan saat kudengar ponselku berdering cukup nyaring. Aku langsung mencebik keras.
Ini yang aku benci jika sedang liburan tetap menyalakan nada dering. Pasti ada saja gangguan yang masuk.
“Loh! Mama lagi?” aku lekas mengangkat panggilan beliau. “Hallo, Ma? Apa lagi, sih?”
“Ra, balik sekarang.”
“Hah? Enggak mau! Tinggal nanti sore aku pulangnya—”
“Sekarang!” nada suara Mama langsung menekan.
“Ya minimal kasih alasan. Jangan cuma sekarang-sekarang aja.”
Terdengar helaan panjang di seberang sana. “Kiki beneran kabur, Ra. Dia enggak ada di rumah dan enggak bisa dihubungi siapa pun.”
***
Ternyata, Mbak Kiki benar-benar kabur. Dia tetap tidak bisa dihubungi sampai esok harinya. Kedua nomornya tidak aktif. Ponsel dilacak pun tidak bisa ditemukan.
Buruknya lagi, dia tidak meninggalkan pesan apa pun. Dia hanya pergi tanpa pamit.
Kini, Mama sedang menangis dan Papa sedang menenangkan beliau. Aku diam di sofa, tidak tahu harus berbuat apa. Kami semua sedang berada di rumah Mbak Kiki.
“Mbok, apa Kiki enggak pesan apa pun?” tanya Mama pada Mbok Ni, ART yang kerja di rumah Mbak Kiki.
Mbok Ni sendiri tidak bekerja full. Beliau hanya datang tiga hari dan menginap di malam selasa atau rabu.
“Enggak, Bu. Mbak Kiki cuma pesan supaya rumahnya terus dibersihin selagi dia enggak ada di rumah. Waktu saya tanya mau ke mana? Dia bilang keluar bentar.”
Mama menangis lagi.
Tiba-tiba saja, terdengar bunyi bel di luar. Mbok Ni langsung membukakan gerbang.
“Ada Mas Elang, Bu.”
Mama dan Papa langsung berdiri. Aku sendiri tetap duduk di sofa. Aku hanya mengangguk kecil untuk menyapa.
“Kiki enggak bisa aku hubungi, Om, Tante.”
“Lang …” Mama meraih tangan Mas Elang. “Kiki kabur. Dia menutup akses komunikasi ke siapa pun. Mana pernikahan kalian tinggal seminggu lagi— eh, udah tinggal enam hari.” Air mata Mama kembali meleleh. “Kalian udah daftar di KUA, kan?”
“Sudah. Undangan juga sudah disebar.”
“Dia enggak bilang apa pun ke kamu? Atau kalian diam-diam lagi berantem?”
Mas Elang langsung menggeleng. “Enggak, Tante. Aku sama Kiki enggak ada berantem apa pun. Setelah mendaftar di KUA, kami juga masih makan bersama dan ngobrol kerjaan. Dia enggak nyinggung suatu hal yang aneh.”
“Ke mana Kiki ini? Kalau memang dia capek sama kerjaan dan lagi liburan, dia biasanya ninggalin pesan ke Mbok Ni, Naura, atau sekretarisnya di kantor.”
“Ini enggak, Tante?”
“Sama sekali enggak.”
Tiba-tiba kembali terdengar bel. Mbok Ni buru-buru keluar. Beliau masuk dalam dua menitan. Kini beliau membawa kardus ukuran sedang.
“Apa itu, Mbok?” tanyaku sembari berdiri.
“Pesanan Mbak Kiki, Mbak Ra.”
Aku langsung bangkit dan mengambil alih kardus. Mataku langsung menyipit begitu melihat kardus itu berlogo sebuah percetakan.
“Bentar … ‘Invitera, Wedding Invitations and Printing’. Lah, ini tempat Mbak Kiki cetak undangan. Waktu itu aku udah ambil sama dia. Kok dikirim lagi?”
“Orangnya bilang susulan, Mbak,” balas Mbok Ni cepat. “Isinya saya enggak tahu.”
Aku langsung mencari gunting dan membuka kardus itu. “Loh! Ini undangan baru yang sepenuhnya berbeda. Ini enggak kaya design yang Mbak Kiki pesen.”
“Maksudnya?” Mama ikut jongkok dan mengambil satu. “Eh, kok inisialnya N dan E?”
“Hah?”
Aku langsung membuka undangan itu dan mataku refleks melotot begitu membaca nama mempelai.
“Naura Ziavani Ardhana dan Elang Jagatra Adhiraja?” Mama membaca dengan suara keras.
Mas Elang ikut mengambil undangan itu. Matanya seketika menatap tajam ke arahku.
Aku buru-buru menggeleng. “Aku berani sumpah, Mas! Aku enggak tahu apa pun!”
Aku membaca undangan itu sekali lagi. Benar, nama mempelai telah berubah.
Kok bisa begini?
Ini apa maksudnya?
***