Kalina dan Cantika berdiri diam di hadapan Mr. Felix dan Miss Dessy, rambut dan seragam mereka berantakan. Keduanya dimarahi habis-habisan karena sudah membuat keributan di awal hari.
"Kalian ini, pagi-pagi sudah bikin ribut. Buat apa kalian berkelahi? Apa gunanya? Memang orang tua kalian menyekolahkan kalian untuk tujuan itu?" mata Mr. Felix mendelik marah.
"Kalian sekolah mau jadi apa? Mau jadi jagoan? Kalo mau belajar tinju bukan disini tempatnya," imbuh Miss Dessy.
Baik Kalina maupun Cantika tidak menjawab, mereka cuma menunduk diam.
"Ini surat peringatan untuk kalian. Ini peringatan pertama, kalau sampai kalian mengulanginya lagi kalian tidak akan dapat ampunan lagi. Paham?!"
Miss Dessy menyodorkan selembar kertas yang dilipat jadi empat bagian ke Kalina dan Cantika.
"Iya Miss," jawab Kalina dan Cantika kompak.
"Sekarang kalian masuk ke kelas masing-masing, dan jangan buat keributan lagi," Mr. Felix mengibaskan tangan kanannya, mengusir Kalina dan Cantika dari hadapannya.
"Satu lagi, sampaikan surat peringatan itu ke orang tua kalian,"
"Baik Mister,"
Kalina dan Cantika keluar dari dalam ruangan dengan wajah masam.
"Bye anak tiri, jangan lupa ya sampein suratnya ke Papa Mama lo," Cantika memandang Kalina dengan tatapan nyinyir.
Cantika tau betul kalau Kalina tidak akan menyampaikan surat itu.
Kalina tidak peduli lagi dengan ucapan Cantika, dia membalikkan langkah berjalan menuju kelas. Sembari berjalan Kalina menyobek surat peringatan yang dia dapat menjadi bagian-bagian kecil dan membuangnya ke tempat sampah. Dia tau baik Papa ataupun Mamanya tidak akan peduli dengan apapun yang dia alami. Mungkin kalau Kalina mati sekalipun tidak akan ada yang peduli.
*******
Sepulang sekolah Kalina tidak langsung pulang kerumah tapi mampir ke bengkel langganannya untuk mengambil motornya yang sudah selesai di service.
"Eh Kalina udah datang, cari Radit ya? Kebetulan Radit baru pulang kuliah tuh," sambut Bang Bonang, pemilik bengkel langganan Kalina.
"Dit!! Radit!! Dicari Kalina nih!" Bang Bonang berteriak keras memanggil adik bungsunya.
"Apaan sih Bang, aku kesini mau ambil motor. Kata Abang udah selesai,"
Kalina duduk di kursi kayu panjang yang sudah diduduki beberapa orang laki-laki. Tidak ada rasa canggung sama sekali di benak Kalina karena sudah terbiasa datang ke bengkel yang biasanya didatangi ka adam.
"Kenapa Bang?" seorang cowok keluar dari dalam dengan setelan kaos oblong dekil dan celana jeans buntung yang juga sudah kumal, siap berurusan dengan beberapa motor yang sudah antri untuk di service.
"Ngga jadi, Kalina ternyata mau ambil motor, bukan cari kau," Bang Bonang meledek Radit.
"Motor lo udah selesai?" Radit duduk tepat di samping Kalina.
"Kata Bang Bonang udah,"
"Sukur deh kalo gitu, kalo bisa jangan keseringan balik kesini," canda Radit.
Kalina cuma diam menanggapi candaan Radit, dia sedang tidak bersemangat. Untungnya Radit cepat tanggap dengan kondisi Kalina.
"Kenapa muka lo?" tanya Radit sambil menautkan alis menatap wajah Kalina.
"Kenapa muka gue?" Kalina bertanya balik.
"Lecek, kayak duit kertas seribuan yang abis kegiling di mesin cuci,"
Bukannya Kalina yang tertawa, justru Bang Bonang yang bereaksi dengan tawa kerasnya.
"Sembarangan kau Dit, muka cantik begitu dibilang duit lecek," komen Bang Bonang setelah puas tertawa.
Kalina yang sudah terbiasa dengan candaan a la bengkel sama sekali tidak tersinggung, justru biasanya dia merasa terhibur. Tapi tidak kali, mood nya terlalu berantakan untuk bisa tertawa.
"Serius, lo kenapa?"
Kalina menggeleng. Sebenarnya dia ingin berbagi cerita tentang kejadian di sekolah hari ini, tapi dia tidak mau dianggap terlalu berlebihan karena berkelahi hanya karena seseorang menyebut-nyebut soal mendiang Ibunya.
"Kalo udah selesai, gue langsung balik ya," Kalina memeriksa sekali lagi motor maticnya yang sudah siap dibawa pulang.
"Udah kok, gue berdua sama Bang Bonang kemaren yang ngerjain,"
"Ok,"
Kalina memakai helm lalu duduk di jok motornya.
"Kirim aja bon nya nanti gue transfer," ujar Kalina sembari menyalakan mesin motor.
"Ok, nanti gue kirim,"
"Bayarnya gue cicil ya," kali ini Kalina ikutan bercanda, moodnya sudah lebih baik dengan kondisi motornya yang sudah kembali seperti semula kecuali lecet di beberapa bagian akibat terjatuh.
"Bebas. Tapi ada syaratnya,"
"Apa?"
"Jangan ngebut, kalo ngantuk jangan dipaksa. Gue ngga suka lo bolak balik kesini, kasian motor lo kena bongkar terus,"
Kalina tersenyum kecil.
"Bilang aja kalo lo bosen ketemu gue terus,"
Radit balas tersenyum.
"Kalo ada apa-apa cerita ya, jangan disimpen sendiri," pesan Radit untuk terakhir kali.
Kalina mengangguk.
"Gue balik ya, bye-- see u,"
Radit melambaikan tangannya pelan.
"Dit, kenapa kau larang dia buat kesini? Bukannya kau seneng kalau dia dateng?" Bang Bonang memang pengertian sekali dengan adik bungsunya itu.
"Seneng Bang, tapi kalo bisa jangan karena kecelakaan lah," ujar Radit.
Bang Bonang lantas tertawa kecil seraya menepuk bahu Radit.
"Abang tau perasaan kau, perjuangkan kalau memang kau serius. Dan jangan pernah menyakiti perasaan perempuan, apalagi Kalina. Dia sudah terlalu banyak tersakiti,"
Radit hanya diam, karena Radit bahkan tidak tau seperti apa sebenarnya perasaannya terhadap Kalina.
=== NEXT ===