Kalina memarkir motor maticnya di pelataran, di samping 2 mobil mewah milik Papa Mama nya
"Sore Non, udah bener motornya?" sapa Mang Didin, tukang kebun di rumah Kalina.
"Udah Mang,"
"Sukur kalo gitu, lain kali ati-ati Non,"
Kalina mengangguk, "Iya Mang,"
"Papa udah pulang Mang? Tumben,"
"Iya Non udah pulang dari tadi tapi kayaknya lagi ada masalah, raut wajahnya emosi,"
Kalina diam.
Semenjak menikah dengan istri barunya 2 tahun lalu, Papanya memang berubah. Lebih banyak emosi dan mudah marah.
"Yaudah Mang, saya masuk dulu ya,"
Kalina melenggang masuk ke dalam rumah, menyandang tas ransel di pundaknya.
Di dalam rumah bukan sambutan hangat yang Kalina terima tapi kalimat dingin dan menyakitkan.
"Dari mana saja kamu? Jam pulang sekolah sudah lama terlewat dan kamu baru sampai rumah," Arvano, Papa Kalina duduk di kursi tamu dengan penuh amarah menunggu kedatangan Kalina.
"Dari bengkel Pa,"
"Liat tu Mas anak kamu, pulang sekolah bukannya langsung pulang malah nongkrong, Dennis aja udah pulang dari tadi," bak setan jahat Maya, Mama tiri Kalina membisikkan satu kalimat di telinga Arvano.
"Dennis kan bawa motor Ma, aku naik angkot karena motorku masuk bengkel. Tadi aku ke bengkel buat ambil motornya,"
"Halah, alasan," Maya mengibaskan rambut ikal panjangnya.
Sebenarnya Maya perempuan yang cantik dan anggun, hanya saja sifatnya tidak secantik penampilannya.
"Mana surat peringatannya?" Arvano menatap tajam Kalina dan Kalina tidak membalasnya, Kalina hanya menunduk memandangi lantai marmer yang dingin.
"Kalina Adrianna Raharja, Papa tanya mana surat peringatannya?!" suara Arvano meninggi, membuat Kalina dan juga Maya sama-sama terkejut.
"Ngga ada Pa,"
"Tuh liat kan Mas, anak kamu udah berani bohong. Jelas-jelas tadi Dennis bilang dia dapat surat peringatan dari sekolah karena berkelahi," imbuh Maya, membuat amarah Arvano semakin menjadi.
"Sial, ternyata ini kerjaan Dennis. Pasti Cantika yang laporan ke dia," batin Kalina.
"Kamu sudah membuat keributan di sekolah dan sekarang mau membuat keributan juga di rumah ini. Kalina, Papa tanya sekali lagi. Mana surat peringatan kamu?" Arvano yang semula duduk di kursi sekarang berdiri dan mendekati Kalina yang masih berdiri di tempatnya.
"Ngga ada Pa, udah aku buang ke tempat sampah," jawab Kalina jujur.
"Bener-bener ya kamu, dapet surat dari sekolah malah dibuang. Sama sekali ngga menghargai orang tua," Maya ikut-ikutan menghakimi Kalina.
"Orang tua mana yang Mama maksud? Orang tua yang ngga pernah peduli sama anaknya? Orang tua yang selalu semaunya sendiri memperlakukan anaknya?" suara Kalina bergetar, menahan tangis dan marah atas apa yang dia pendam selama ini.
"Cukup Kalina, jaga bicara kamu!" bentak Arvano tak kalah emosi.
"Emang bener kan Pa? Emang Papa pernah peduli sama aku? Papa cuma peduli sama Mama sama Dennis, bukan sama aku. Sekarang aja Papa ngga nanya apa alasan aku berkelahi,"
PLAK!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kalina. Air mata Kalina seketika menetes, rasa sakit hatinya melebihi rasa perih di pipinya.
"Aku kecewa sama Papa," dengan air mata bercucuran Kalina berbalik badan.
Langkahnya tegap berjalan ke arah pintu keluar.
"Mau kemana kamu Kalina?! Papa belum selesai bicara!" teriakan Arvano sama sekali tidak menghentikan langkah Kalina yang justru semakin cepat.
"Papa bilang jangan pergi Kalina!"
"Udah Mas biarin aja, anak kayak gitu emang sesekali harus dikasih pelajaran. Salah kamu dulu terlalu manjain dia," Maya berusaha mencegah Arvano mencegah kepergian Kalina.
"Biar bagaimanapun dia anakku Maya, dan sekarang dia juga anakmu. Seharusnya kamu lebih memperhatikan dia,"
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku Mas? Bukan aku yang ngga mau merhatiin dia, emang dasar dia aja yang ngga pernah mau diperhatiin. Dia aja ngga pernah nganggep aku Mamanya,"
Arvano beranjak masuk ke dalam kamar, tidak mempedulikan ocehan Maya. kepalanya sudah terasa mau pecah.
=== NEXT ===