Kalina memacu cepat laju motornya tidak peduli langit mulai gelap, dia ingin pergi sejauh mungkin dari rumah. Hujan deras yang turun menyamarkan derasnya air mata Kalina, bercampur pikiran yang kacau dipenuhi amarah.
"Awas Mbak!!" teriakan seorang perempuan dibarengi sosok hewan berkaki empat melintas di depan motor Kalina membuat Kalina terkejut lalu---
'Ciiit-- BRAK!!'
Licinnya kondisi jalan di tengah hujan membuat Kalina kehilangan kendali. Motor Kalina terbanting beberapa meter ke depan sedangkan Kalina terpental ke trotoar. Kalina pingsan seketika.
******
Kalina terbangun dan mendapati dirinya ada di dalam kamar, di atas kasur springbed berukuran single. Entah berapa lama Kalina sudah terbaring disana.
Di samping tempat tidur duduk 2 orang laki-laki dan perempuan. Kalina kenal laki-laki itu, Radit. Sedang perempuan setengah baya yang duduk di samping Radit Kalina tidak kenal dan belum pernah melihatnya sama sekali sebelumnya.
"Akhirnya kamu sadar juga," perempuan di samping Radit tersenyum.
"Lo sekarang ada di rumah gue, ini Ibu gue yang bantu gue ngurusin lo selama lo pingsan," jelas Radit.
Kalina memeriksa sekujur tubuhnya. Tidak ada lagi seragam lengan panjang dan rok pendek yang dipakainya ketika kecelakaan, sudah diganti dengan kaos oblong dan celana pendek. Kalina mengamati tangan dan kakinya yang terasa perih, ternyata banyak juga luka lecet dan memar yang dia dapat setelah kecelakaan tadi.
Kalina mencoba mengingat apa yang terjadi, terakhir yang dia ingat ada seekor kucing melintas di tengah jalan tepat di depan motornya. Kalina berhenti mendadak yang menyebabkan dia terjatuh karena jalanan licin diguyur hujan deras.
"Kenapa gue ada di sini? Berapa lama gue pingsan?" Kalina coba mencari jawaban dari Radit.
"Saksi mata di sekitar tempat lo kecelakaan bilang lo ngindarin kucing yang lagi nyebrang, ban motor lo selip karena jalanan licin. Orang di sana hubungin Bang Bonang karena panggilan terakhir di hp lo nomor Bang Bonang. Jadi gue sama Bang Bonang bawa lo kesini. Lo udah 6 jam pingsan," jelas Radit.
Pandangan Kalina berkeliling mencari jam dinding yang akhirnya dia temukan di pojok kamar.
Pukul 01.10.
"Ada yang cari gue?"
Radit menggeleng.
"Hp lo mati, rusak karena jatuh di genangan air,"
Kalina miris, sampai hari menjelang pagi tidak ada juga seorang pun yang mencarinya. Termasuk Papa yang sewajarnya khawatir ketika anaknya tidak pulang ketika hari sudah larut. Kalina benar-benar merasa terbuang.
"Lo istirahat dulu, besok pagi gue anter ke dokter buat periksa luka-luka lo," Radit beranjak dari kursinya.
"O iya, motor lo dibawa ke bengkel sama Bang Bonang jadi lo ngga usah khawatir," ujar Radit sebelum keluar dan menutup pintu.
Kalina kembali merebahkan diri. Ada yang terasa aneh pada dirinya tapi dia tidak tau apa.
Kalina coba memejamkan mata, tapi ketika dia baru tertidur lelap tiba-tiba sekelebat bayang-bayang menyeramkan muncul di mimpinya. Lama kelamaan bayang-bayang itu semakin nyata. Seekor kucing berwarna putih bersih muncul di hadapannya dengan tatapan marah dan mengancam. Kalina coba menjauh, tapi kucing itu terus mendekatinya. Kalina semakin takut dan berlari kencang, tapi kucing itu dengan mudah mengejarnya. Kalina terjatuh karena kakinya lemas setelah sekian lama berlari.
Kucing putih yang mengejarnya semakin mendekati Kalina, dua bola mata berbeda warna hijau dan biru berubah warna menjadi merah, menyala menatap Kalina tajam, semakin lama semakin besar dan semakin dekat--
=== NEXT ===