“POKOKNYA GUE UDAH BOSAN!!” sang kekasihnya memberi penjelasan
“kita berhenti disini saja” jelasnya lagi
“tetaap……….
“tidak ada tapi-tapi, dan ini tanpa alasan lagi” Veny beranjak kasar pergi dari hadapan Rey yang masih membatu
Saat ini jam dinding menunjukan jarinya tepat 04:30, Rey terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara alarm, jari jemari nya meraih kacamata yang terletak disebelah bantal rey. sementara kepalanya yang masih pusing ditambah matanya yang berkunang kunang membuatnya susah berjalan seperti biasa, Rey berusaha memajukan kakinya selangkah demi selangkah, tapi usaha ini gagal, baru tiga langkah saja tubuh rey ambruk kembali. Rey mencoba berdiri dan meraih dinding kamarnya, sekali dua kali melangkah Rey masih berdiri, namun langkah yang ketiga membuat tubuhnya ambruk lagi. terlihat muka Rey seperti kesakitan karena tubuhnya yang menumbuk lantai terlalu keras, Rey menyeret tubuhnya kembali kesamping kasur, lalu menyandarkan kepala diatas kasur.
Pikirannya yang kacau juga membuat dia lupa hari ini hari apa? Dan tertidur juga kemudian.
1 jam berlalu Rey terbangun, kesadarannya sudah mulai naik hanya saja sisa pusingnya masih menempel dikepala Rey, lalu berdiri dan beranjak untuk mandi.
Rey kembali duduk dipinggir kasurnya sambil memainkan telepon gengam yang dia miliki, dia tiba-tiba terpaku karna ucapan mantan kekasihnya itu, rasa emosinya mulai muncul dan Rey memukuli apa yang dia bisa pukul, "rapuh yang tidak bisa dikokohkan dalam waktu dekat memang hal yang sulit" keluh rey, ”mengapa janji yang terlalu baik terkadang hanya menjadi sebuah ucapan belaka saja ?” ucap rey pada kamarnya itu. "Sakitnya sih tidak seberapa tetapi perlakuan dia membuatku ingin memukul mu sekeras mungkin" Rey bergumam sembari memukul bantal.
rey memandangi langit dari jendela kamarnya dan berusaha menyakinkan dirinya untuk tetap kuat.
Tok tok tok suara pintu terdengar keras, Rey beranjak menuju dan membuka pintu
****
Defen sahabat Rey sibuk berlalu lalang di kamar kost nya, mukanya terlihat kebingungan sambil jarinya sibuk menekan layar telepon gengamnya dan mulutnya tak luput juga dari komat kamit, ”ini anak dimana sih?” Tanya Defen pelan, Defen khawatir mengingat tadi malam Rey sangat mabuk sekali. tiba-tiba Defen keluar kamar dan memesan gojek, akhirnya gojeknya juga sampai dan siap mengantar Defen ke suatu tempat.
Defen turun tepat disebuah gerbang, matanya masih sibuk memandangi sekeliling apartemen sebelum naik, dengan tergesa-gesa menuju sebuah pintu dan setelah Defen memastikan kamar itu, Defen mengetuk pintu apartment dengan keras
**
Muka Rey terlihat semakin kesal dan masuk lagi tanpa mengatakan sesuatu pada Defen,
“gue bisa masuk kan Re”? Tanya Defen
“Silahkan aja” balas Rey
“sudah makan?” Tanya Defen lagi
“belum “
“baguslah! Gua gak bawa apapun, gue Cuma mastiin diri lu, habisnya telepon lu gak bisa di call” Defen menjelaskan
Tanpa pikir panjang, Rey melihat teleponnya,
“gue lupa matiin mode pesawatnya”
“ trus lu masih sedih Re? gak mau nambah nangisnya lagi?" Defen seolah mengejek Rey.
Namun Rey tidak ada respon sedikitpun, ruangan itu pun hening, Rey hanya menatap langit yang terlihat dari jendela, sesekali dia menatap layar telepon gengamnya. Disana Defen asyik bermain game dengan telepon gengamnya tanpa menghiraukan Rey.
‘ayo sarapan bareng, aku belum sarapan Re” Defen membuka suara
“ngak usah, lu aja yang pergi duluan ntar gue nanti nyusul” balas Rey
Setelah beberapa kali defen menyakinkan dan membujuk rey.
“baiklah. Tapi tunggu gue mandi dulu”
“ya” balas Defen singkat
Rey beranjak mandi, ganti baju dan setelah semuanya beres, mereka keluar kamar Rey menuju warung makan dekat apartemen Rey, mereka memesan sarapan yang mereka sukai masing-masing, tanpa basa basi juga Rey makan agak buru buru,
“ntah apa yang merasuki rey hari ini” gerutu Defen pelan sambil menatap Rey kesal.
“lu bisa gak pelan makan nya re?”
Namun Rey tidak menghiraukan Defen.
“Rey pelanin makannya c*k” Defen pun semakin kesal, Defen mengetuk piring Rey dengan sendok membuat Rey lantas menatap Defen dengan tajam dan muka kecewa
“ini kan urusan gue Def kalo lu keganggu pindah meja aja ” ucap rey dengan suara keras
“bukan gue yang ke ganggu tapi liat sekeliling lu, rame Re”
“ya” balas Rey dengan kesal sambil mengabaikan Defen lagi
“lu mau balik ke kost atau masih mau diluar? Defen membuka suara
‘kayaknya aku harus balik aja Def”
“oke Rey”
“lu juga mau balik?” Tanya Rey
“gue mau ke kampus sih kal0 lu mau balik ke kost re”
“trus kalo masih mau diluar kenapa emang Def?
“Gue biar ajak teman yang lain, trus kita minum lagi gimana Re?”
“gausah deh, gue pengen menyendiri aja”
“trus lu mau pergi kemana?” Tanya Defen
“gue mau keliling kota Def”
“ berarti lu bisa lakuin sendiri kan re?
“iya, gue bukan anak kecil, lu boleh pulang Def”
‘oke, gue pergi dulu ya, kalo ada yang perlu jangan lupa call gue ya Re” sembari Defen bergegas ingin pergi
“makasih Def”
“ Defen hanya mengangguk lalu pergi keluar dari warung
Rey belum beranjak dari kursi, dia hanya sibuk menatap langit yang cerah, menandakan hari ini cuaca panas, beberapa saat melamun yang entah apa. Rey meraih telepon gengam miliknya itu, dia sibuk mengotak atik apa yang ada di dalam telepon gengamnya,Rey menelpon seseorang, namun telepon itu tidak diangkat, muka Rey berubah menjadi wajah sedih, perlahan air matanya mulai turun, ada apa dengan orang itu?. Rey mencoba mengirim pesan teks, tetapi tidak ada balasan, dia kembali mencoba menelpon tetapi ditolak, Rey semakin yakin kalo dia memang sudah membenci rey tanpa alasan,
“benar sih ini salahku” ucap rey pelan,
Rey memesan gojek karna dia ingin hari ini mencoba melupakan itu dan berharap besok jalan keluar sudah ada lalu beranjak keluar dari toko.
Gojek pun sudah sampai didepan Rey dan kini siap mengantar Rey ke tempat tujuan.
” udah sampai ini ”
“oh iya, maaf pak” rey turun, lalu membayar ongkos.
Kali ini rey juga bingung apa yang harus dilakukan disini, kata-kata itu masih terngiang dikepala Rey, Rey tidak bisa melawan kata-kata itu, sebab Rey masih mencintai kekasih pujaan hatinya itu, Rey belum rela melepaskan apalagi mengihklaskan sesuatu yang sudah dianggap menjadi bagian dari hidupnya, bahkan melebihi dari bagian hidup Rey.
Rey membuka telepon gengam nya, berharap cewek si pujaan hatinya itu menerima pesan textnya, tetapi itu sia-sia untuk hari itu. Rey sadar kalau area itu terlalu ramai, lalu mencoba membuat diri nya bahagia tanpa sebuah masalah,
“terlalu lemah untuk mencurahkan airmata disini” ucap Rey sambil memandangi sekelilingnya. semua orang disitu terlihat bahagia sekali mungkin hanya Rey yang pura-pura kuat diarea tersebut.
"Lalu aku harus apa?" Batin Rey
--Bersambung--