Defen segera menuju kampus karena Defen memiliki jadwal temu dengan kekasihnya itu. Kekasih Defen sudah lebih dulu sampai di kampus, Clara melambai tangan di depan gerbang kampus untuk memberi kode bagi Defen yang ada di seberang jalan kalau dia ada didekat gerbang tempat perhentian bus, Defen menyebrang jalan menuju tempat clara berdiri.
“udah lama sampai yang?” Tanya Defen sambil merangkul pundak Clara
“not yet, baru sekitar 10 menitan, it’s okay beb”
“thank you nona” balas Defen sambil menatap wajah clara
Clara tersenyum membalas ucapan Defen, dan berjalan bersama memasuki area kampus
*
Di Sebuah sudut cafe itu, dua sejoli itu duduk berhadapan, menikmati indahnya suasana hari itu, entah apa yang diobrolkan, sibuk tertawa, sibuk menyuapi satu sama lain, hubungan mereka tentu manis sekali, seperti tidak menemui masalah sedikit pun,
“pesan lagi ya sayang?” ucap Clara sambil melambai tangan untuk memanggil petugas café
“pesan saja” balas Defen tanpa menghiraukan Clara dan hanya fokus pada makanannya.
Yeah, akhirnya pesanan Clara datang juga, berupa coffee latte dengan satu cup besar, Clara tersenyum manis sebab dia berencana ingin meminum bersama dari satu cup, pipet pun diambil dan diminum bersama.
“bagaimana menurutmu dengan coffenya?” Clara bertanya setelah meminum beberapa kali
“tidak buruk juga. Lebih bagus ya kalo habis minum kita kissing” jawab Defen tersenyum dan menatap Clara yang tersenyum juga
“hai, kalian minum bersama juga, hehe?” teriak seorang kakek gemuk tinggi, bisa dikatakan ideal lah bentuk tubuhnya, rambutnya sudah mulai memutih, yang tiba tiba datang sambil menunjuk kepada cup besar itu
‘hahahaha” Defen dan Clara tertawa malu saling menatap
“aku juga pernah melakukan seperti itu, ketika kami masih muda, seringkali kami minum dengan seperti ini, saling menyuapi satu sama lain, membeli baju, sepatu, jam tangan, jaket couple dan banyak lagi, aku merindukan masa itu” cerita sang kakek
“sekarang dimanakah istri Bapak?” Tanya Clara balik
“dia sedang dirumah, disini aku hanya membeli makanan kesukaanya” balas kakek sambil tersenyum lebar
‘wow. Romantis sekali pak hubungannya” Defen bicara sambil menahan tawa
“ ya begitulah, tapi dulu tidak terus mulus, ada banyak hal yang tidak diinginkan terjadi, mulai ngambek, selisih, cemburu, cueklah dan banyak lagi, tetapi haruslah bertahan kalau memang cinta, dan sekarang itu yang harus dilakukan di usia sekarang, menikmati waktu yang ada dengan bersama” cerita kakek sambil memperbaiki kacamatanya
Defen dan Clara hanya bisa menahan tawa
“kalian juga jangan mau kalah lah, kalian harus bisa bertahan udah minum bersama nih, terus apalagi? Ucap si kakek lagi
“pasti istri bapak cantik kan?” Tanya defen lagi kemudian memandang Clara sekilas
“menurut orang, cantik dan ganteng itu beda, pasti ada dong tipe orang dicintai, hehe” balas si kakek
“ saya pergi dulu, ini sudah hampir sore, silahkan lanjutkan minum nya,” si kakek berjalan menuju lemari yang tersusun rapi kue yang tersedia
“hati hati pak” ucap Clara dan Defen bersamaan
Defen dan Clara pun menghabiskan sisa makan dan minum yang ada dan tukar bicara apa adanya,
***
Langit sudah mulai gelap, orang yang berlalu lalang pun mulai sedikit bahkan sudah bisa dihitung dengan jari, matahari akan pergi menuju peristirahatan nya dan akan digantikan bulan dan bintang, Rey melirik jam tangan dan menunjukkan pukul 18:50, Rey pun membereskan tas nya dan berjalan menuju gerbang, Rey berjalan kaki untuk pulang, sesekali dia berhenti dan memandangi sekelilingnya, suasana malam ini agak mencekam, angin yang berdesir kencang, suhu yang semakin dingin, lampu lampu yang benderang sebagai pengganti matahari untuk menerangi jalan Rey.
Rey mengangkat kepalanya dan memandangi bintang di angkasa, tak lupa menjepret langit itu meskipun tahu itu tiada guna, “woahhhh” ucap Rey pelan sehabis mengambil gambar sesekali menatap langit lagi kemudian menatap gambar yang dia ambil, Rey menyandarkan dirinya pada besi jembatan itu lalu berputar dan menghadap sungai yang begitu luas itu, setelah sekian lama Rey menikmati udara segar dimalam hari.
Ditengah keheningan malam di dalam kamar, menyendiri mungkin salah satu jalan untuk menenangkan diri bagi Rey. Terdengar bunyi telepon genggam Rey bunyi, terlihat panggilan itu berasal dari Defen, Rey pun mengabaikan panggilan itu dan melanjut untuk melamun, tak hanya sekali berdering, suara dan getaran handphone itu membuat Rey semakin kesal, entah kenapa tiba-tiba Rey pun menyalakan mode pesawat lalu menekan tombol power dan handphone Rey pun mati.
“mampus lu, makanya jangan usik dulu ketenangan orang” kesal Rey sambil meletakkan handphonenya dan merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk itu
***
“pulang yuk” ucap Defen menghilangkan keheningan sambil melirik Jam dinding cafe yang menunjukkan pukul 19:55,
Defen dan Clara pun membereskan bawaan mereka dan memesan gojek masing-masing,
“aku duluan bay” ucap Clara sambil menaiki gojek yang sudah didepan mereka,
Sambil menunggu gojek yang datang Defen coba menghubungi rey, namun tidak ada balasan apapun dari Rey, tidak cukup sekali dua kali, berkali-kali Defen juga menghubungi Rey, namun hasilnya tetap nihil, kekecewaan Defen pun mulai naik.
Gojek yang ditunggu akhirnya datang juga, sebelum menaiki motor nya, Defen pun bicara dan ingin menuju rumah Rey, si bapak hanya bisa mengiyakan sambil membawa motor dan melaju kencang.
Sampai juga di depan gerbang apartment Rey, namun. Sebelum masuk Defen masuk, Defen membeli makan malam untuk Rey, takutnya Rey belum makan malam.
Pintu pun diketuk oleh Defen, tidak ada sahutan dari Rey, untuk ketiga kalinya tetap tidak ada sahutan.
***
Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang, Rey mencoba mengintip dari sebuah celah dari jendela. dia melihat Defen berdiri didepan pintu dan mengetuk, “ini kenapa sih?” ketus Rey dalam hati.
Rey memilih untuk pergi ke kasur dan mengabaikan Defen. Sebenarnya. Rey tidak tega untuk mengabaikan Defen, sebab Defen sudah seperti bagiannya dari hidup Rey, hanya saja untuk kali ini, rey ingin mengabaikan Defen untuk satu hal, dia ingin meluapkan kesedihannya untuk dirinya sendiri.
Satu jam sudah berlalu ketukan pintu itu sudah hilang, awalnya hati Rey kegirangan, lalu merebahkan tubuhnya di kasur dengan bantal dipeluknya di perut.
“dia sudah pulangkah?” Tanya rey pada bantal yang dimilikinya
***
Karena tidak ada sahutan apapun dari Rey, Defen mencoba menggeser posisinya tepat di samping pintu, berharap Rey segera pulang.
Defen pun memeriksa telepon genggamnya dan berusaha menelpon Rey, tetapi panggilan itu sangat sia-sia bagi Defen, panggilan Defen selalu ditolak. “apakah Rey membenciku?” suara defen sangat lirih sekali.
Dengan segala hal yang membuat defen berpikir positif, dia berencana untuk tetap duduk disitu, apapun masalahnya Defen hanya pengen bertemu dan memastikan kesehatan Rey.
“lama sekali dia pulang! Apakah dia sedang di club malam?. Rasa penasaran datang ke kepala Defen membuat dia ragu-ragu dengan keadaan Rey, sekali lagi Defen mencoba berpikir positif bahwa Rey pasti tidak di club malam!.
Jam sudah menunjukkan pukul 22:30. karena Rey belum muncul, Defen berinisiatif ingin melihat Rey ke club malam, dia pun berdiri dan ingin bergegas pergi.
Sssrrrt suara pintu