Rey masih menunggu dan menunggu, berharap Defen mengetuk pintu Rey, tetapi harapan itu seperti nihil dan kosong, sudah sejam lebih ketukan pintu pun tidak terdengar lagi
“segitukah Def?” raut muka Rey terlihat kecewa
Rey pun mencoba melirik keluar, tepat didepan pintu tidak ada lagi defen, dia membuka pintu dan memastikan Defen sudah pulang.
Ketika Rey ingin membuka pintu, Defen hendak beranjak pergi, Defen pun menoleh kebelakang.
“Kamu datang?” Rey pura-pura penasaran
“kenapa lama dibuka?”
“masuklah dulu” ucap reyy
Defen pun mengikuti langkah kaki Rey tanpa sepatah kata.
“trus apa alasan lu lama buka pintu, bahkan lu tega ngebiarin gue sendirian disitu?” Tanya Defen ulang
“ga ada alasan tertentu sih Def”
“yakin Re?” muka Defen seperti tidak senang, sementara muka Rey sudah tampak sedang khawatir
“lu ngabaikan gue ya Re?”
“bukan gitu, nanti lu bakal tahu alasan gue kenapa aku mengabaikan orang untuk sementara” pandangan Defen membuat Rey tidak berani menatap Defen
“gak Cuma lu yang gue abaikan, semua orang. Bahkan telepon gue, gue buat mode peswat.” Ucap Rey lagi
“trus karena 1 orang membuatmu patah hati, jadi itu alasan lu mengabaikan orang terdekat lu HAH? Suara Defen mulai naik
“yalah, lu Cuma bisa menjudge orang tanpa mengetahui” suara Rey tidak kalah naik
“emang Cuma lu yang pernah patah hati Re?
“gak, lu juga pernah patah hati tapi kondisi hati setiap ornag itu berbeda loh Def, jangan samakan. Mungkin mental lu terlalu kuat dan mental gue terlalu lemah untuk ditemani” ucap Rey memandang tajam Defen
“tapi lu udah tahu gue gimana, masih ingin mengabaikan? seharusnya lu ada pesan. ‘aku pengen menyendiri’. Kalau lu sendiri gini sikapmu, artinya lu gak tulus sama gue berteman. Paham?
“iya maaf Def” ucap Rey mengalah dan ingin drama ini selesai. dia tidak ingin membuat dirinya dan Defen seolah menjadi orang yang baru dikenal apalagi yang tidak kenal.
Apa re?
“maafin gue Def, lain kali gue gak akan mengabaikan lu” ucapnya cepat biar selesai
“ya” jawab defen singkat
Keheningan pun terjadi kembali, Rey sibuk memainkan bantal yang ada di atas perut rey sedngkan Defen sibuk memainkan game kesukaanya’
“re” suara Defen pelan seperti sedang memanggil layaknya kekasih
Rey yang terkejut mendengar suara defen tak seperti biasa langsung menoleh kearah Defen dan terdiam.
“re” pangill Defen seolah sedang mendesah dan pura-pura gatau.
Spontan Rey pun melempar bantal yang ada diperut rey kearah kepala Defen, terdengar kuat .
“eh maaaf Def” muka Rey tiba-tiba takut, namun tak disangka Defen pun melempar bantal itu ke arah Rey lagi. “blak” tubuh Rey terpental diatas kasur.
“sakit jing” ketakutan Rey mulai hilang. Untuk yang kedua kali Rey tidak mau kalah dan melempar bantal lagi lebih keras, Defen yang sudah mengetahui langsung menghindar dan menangkap bantal kemudian melempar ke arah Rey lagi. Perang bantal pun dimulai hingga “sarrrrssss” suara jam tangan tangan rey jatuh, keduanya langsung berhenti dan rey hanya mengabaikan itu dan melempar bantal kearah Defen. Defen berusaha untuk menghentikan Rey namun usaha dia gagal, sebab Rey juga kuat, hampir setaralah kekuatan mereka.
“udah, hentikan ree” tegur Defen,
Rey tetap memukul dan mengabaikan suara Defen, sebenarnya Defen ingin melakukan lebih lama lagi dengan Rey, karena disaat bermain Rey bisa senyum hingga tertawa keras. “namun ini sudah malam” batin defen.
Dengan paksa Defen pun menarik bantal sontak membuat tubuh Rey menghantam tubuh Defen, otomatis saja Defen memeluk tubuh Rey, dengan segera Rey pun menjitak kepala Defen kemudian menjauh.
“rasain” omel rey
“nanti, gue akan memberimu lebih keras lagi” ejek Defen sambil tersenyum
“apa?” muka Rey seperti ingin mengetahui sesuatu
“nanti bakal lu tau sih re”
“yaudah, gue tunggu” kesal Rey kemudian duduk ditepi kasur
**
“lu udah makan re?”
“belum hahahaha” tawa Rey terlepas
“tadi gue bawa makan malam loh, kayaknya udah dingin, itu gegara lo itu”
“iya tau, gue kan dah minta maaf Def, ungkit-ungkit aja teruss” tatapan Rey seperti kecewa
“maaf bbbeeeeeb” ucap Defen pelan
“apa lu bilang?” Rey mendekatkan diri ke Defen
“ga ada” balas Defen sambil pergi ke toilet
Suara itu menghantui pikiran Rey,” dia gak salah sebutkan? Atau gue yang salah dengar?”. Rey pun mengambil makanan bagian Rey, kemudian makan lebih dulu tanpa menunggu Defen.
“hei lu gak nunggu gue? Tanya Defen setelah keluar dari toilet dan melihat Rey makan dahulu.
“habisnya gue lapar dan makanannya kebetulan enak, maaf ya” ucap rey sambil menunjuk jempol ke depan Defen
“yaudah lakuin aja, yang penting lu senang” Defen berlalu dari rey
“deff, lu marah lagi?
“iya” balas Defen tanpa melihat Rey
“kok jadi lu sih yang marah mulu?” kesal Rey sambil meletakkan sendoknya kuat
“seharusnya gue itu yang harus marah, gue dah bilang, gue butuh waktu sendiri, tapi nyatanya lu nelpon gue mulu, datang kekost gue, sekarang lu marah lagi, makin badmood gue dah malam ini” jelas Rey dan mengungkit ketika Defen merasa dia hanya diabaikan.
“ntar beneran gue ga datang lagi loh, ntar beneran gue gak peduli sama lo, pegang kata-katamu itu re” tegas Defen sambil merapikan rambutnya yang basah itu. Rey segera membereskan piring dan segera mandi demi menghindari emosi Defen.
“jirt, gue gatau kalau Defen harus bicara gitu” pukul Rey pada mukanya
Dikamar mandi, Rey hanya memikirkan suara defen yang tadi, selalu terngiang-ngiang, “ingin rasanya memutar waktu” keluh Rey
“reee” suara itu mengejutkan Rey yang sedang didalam kamar mandi
“iyaa, ada apa Def” balas Rey sambil mempercepat
“lu mandi atau ngelakuin sesuatu? Udah lewat loh 30 menit, jangan jangan lu ngelakuin yang tidak-tidak ya?” ejek defen
“pikiran lu buang ya Def, gue gak seburuk itu, si*lan” kesal Rey
“halah, bohong” ejek Defen lagi
“si*lan Defennnn, buang pikiran kotor kau itu deffff” suara Rey mulai naik.
Defen hanya tertawa lepas setelah sukses mengerjai rey yang sedang di kamar mandi lalu pergi ke meja makan menunggu Rey keluar,
“ngak pulang?” Tanya Rey setelah keluar dari kamar mandi,
‘‘menurutmu, gue harus pulang atau tidak? Lu kan tuan rumah. Kalo lu tega nyuruh gue pulang, gue pulang kok. Tapi kalo lu gak tega ya gue disini menginap”
‘’mending lu pulang aja” balas Rey sambil berlalu meninggalkan Defen
‘’beneran re?’’ suara Defen seperti memastikan
‘’ngak, gue bercanda Def’’ tawa Rey mulai lepas
“mampusssss, makanya jangan kerjain gue dikamar mandi” omel Rey lagi
“oh ternyata lu ngerjain gue buat balas dendam ya, oke-oke saya tahu, saya tahu”
“mestilah lu tahu, orang lu yang mulai” dengan tatapan tajam kearah Defen
*
“pinjam bajumu lah re”