‘’ambil aja dilemari itu’’ Rey menunjuk lemari dekat kasurnya
‘’sama celana dalam gue pinjam ya’’
‘’terserah lu aja’’
“makasih banyak boss”
‘ya” hanya itu terdengar dari mulut Rey
Defen pun mengabaikan itu, dia tidak mau tahu lagi, sekarang saatnya ganti baju.
“lu mau tidur dimana Def?” tanya Rey pada defen yang ada dimeja belajar Rey
“lo aja yang ngatur re”
“yaudah gue tidur dikasur, terserah lu mau tidur dimana” kesal rey sambil merebahkan badannya
“hmm” Defen berdeham
Defen ingin dekat dengat Rey, Defen ingin memeluk Rey, namun. Untuk saat ini keinginannya itu hanya sebuah angan yang sulit ditebak.
Defen pun melirik ke arah Rey yang sudah terbungkus dengan selimut, mata Defen berkaca-kaca. “re” ucap Defen memastikan Rey udah tidur belum, untungnya suara sahutan Rey tidak ada. Defen tidak segera terburu-buru, defen tahu kalau Rey suka berpura-pura. Jadi Defen ingin membiarkan Rey untuk sementara hingga tertidur pulas.
Jam sudah menunjukkan pukul 03:15, mata Defen sudah mengantuk sekali, Defen masih ragu ingin dimana tidurnya meski ada sofa yang panjang, tetapi dia memilih untuk tidur ditepi kasur Rey, dengan pelan juga, Defen menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
“hangat sekali” itulah ucapan defen kemudian tertidur
++
Pagi sudah datang, sinar matahari sudah mampu mengalahkan kegelapan malam dan terangnya lampu sudah tidak berguna lagi. Rey yang lebih dulu terbangun tidak terkejut dengan kehadiran defen dikasurnya, sebab dia juga pernah berbagi kasur di apartemen Defen. Rey beranjak dari kasur tanpa mengganggu kenyenyakan Defen tertidur, dengan pelan dia menarik kakinya dari selimut dan pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi.
Rey merasa didekat Defen segala kegalauannya hilang, dia merasa nyaman bila terus didekat Defen, hanya saja baik Defen maupun rey suka ngeselin satu sama lain.
Setelah Rey sudah selesai mebersihkan badannya, Defen pun belum bangun juga, sementara ini sudah menunjukkan jam 08:45.
“Def”
“hmmm” akhirnya Defen terbangun akibat suara rey yang lumayan keras
“lo ngak ke kampus?”
“ngak” jawab Defen singkat
“ini udah mau siang Def, bersihin badan lu”
“jam delapan masih, tenang aja, lo ga ada jadwal pagi kan?”
“ada def”
“hari ini ga ada jadwal lu pagi, bacot banget” tatapannya membuat Rey akhirnya mengalihkan pandangannya
“gue masih nyaman rebahan” respon Defen lagi sambil menarik selimut
“eh tapi gue mau sarapan c*k” lawan Rey.
-
Rey ingin sih sebenarnya membiarkan Defen tidur sepanjang dia mau, namun yang menjadi masalah adalah mereka sudah seharusnya serapan, Rey pun memilih diam dan mengalah kemudian pergi sarapan.
-
Defen yang sudah dibungkus selimut, tertidur nyenyak lagi, setelah merasa puas dan tidak ada yang mengusik membuat dia heran, “Rey kemana? Batinnya berkata, namun penasarannya dibiarkan saja. Defen pun memilih untuk tidur lagi tanpa membka selimut.
-
Rey pergi menuju kedai makan kesukaannya, sembari menunggu defen rey pun memperlambat makannya dari biasa. Rey merogok sakunya hanya ada duit. Dia baru sadar kalau telepon gengamnnya tidak dibawa, “bentar lagi defen pasti datang” pikir Rey.
-
Defen mulai benar-benar sadar kalau kamar Rey sudah hening dan hanya sendiri, Defen membuka selimut dan menghirup udara bebas.
“Reyy” panggil Defen untuk pertama kali.
Namun sahutan dari Rey tidak ada, membuatnya Defen penasaran, Defen keluar kamar dan menuju ruang makan, isinya nihil. Defen pergi kekamar mandi, namun pintunya terbuka. Defen mengelilingi apartemen rey, “mungkin dia bersembunyi disuatu tempat” batin Defen.
Defen dengan diam-diam mencari keberadaan tersebut. Semua nihil, hanya ada seorang diri Defen di apartemen Rey.
Defen mengambil telepon miliknya dan mencoba call telepon Rey, sayangnya. telepon Rey berbunyi disamping kasur diatas meja milik Rey.
“ah s**l” umpat Defen
-
Rey yang sudah tidak sadar kalau sarapannya sudah habis tersisa, masih sabar menunggu Defen, berharap Defen datang untuk sarapan. Rey sesekali celinguk-celingak ke arah pintu, dan sibuk memperhatikan siapa yang masuk kedai, namun siapa sangka? Semua harapannya nihil.
Rey masih menunggu sambil memesan sarapan untuk Defen, setelah sarapan Defen sudah didepan Rey. Rey memilih membawa pulang agar Defen bisa sarapan di apartemen.
*
Srrrr suara pintu dibuka membuat Defen sontak berlari menuju pintu, Rey dengan sebuah plastic isi sarapan masuk dengan tenang, sementara Defen berdiri kaku seolah ingin marah terhadap Rey.
“sarapan lah, ini ku beli sarapan mu” ucap Rey mengangkat plastic setara perutnya, kemudian berjalan melewati defen dan meletakkan di meja makan seperti biasa.
Defen yang sedang khawatir dan masih membatu didepan pintu tuannya, dia selayaknya sedang disambar oleh jantungnya yang berdetak tidak karuan. Defen kaget dicampur rasa senang, karena Baru pertama kali Defen dibawakan makanan oleh Rey tanpa disuruh.
“s*tan apa sih yang menyambar dia? Batin Defen bergejolak
Defen segera menuju meja makan, lalu menikmati sarapan, sedangkan Rey sudah berbaring di atas kasurnya sambil memainkan telepon gengamnya.
“ lu nge call gue ya?” Tanya Rey yang masih menikmati sarapannya
“iya” jawabnya singkat tanpa memperhatikan wajah Rey
“buat apa?” Tanya Rey penasaran lagi
“pas gue bangun lu udah gak disini lagi, yaudah aku berinisiatif buat call lu” jelas Defen
“lah gue bilang apa tadi?, waktunya sarapan, lu aja yang keras kepala” gerutu Rey
“ya pas lu mau keluar izin kek, setidaknya jangan pergi sembarangan lah” Defen membela diri
“ ya terserah gue lah, ini apartemen gue”
“siall” umpat Defen pelan
“FAKKKK YOU” ucap rey sambil berlalu
“untung gak gue kunci lu sendiri disini” suara rey yang masih terdengar namppaknya sedang kesal
Setelah selesai makan, Defen pun menuju meja belajar rey dekat kasurnya, Defen sibuk dengan game kesukaannya, sesekali dia melirik kearah Rey.
“apa lu liat-liat?” suara Rey setelah menangkap basah Defen melirik dia dan itu sangat mengejutkan defen
“ihh s**l” ucap Defen dalam batin
“tidak ada” balas Defen singkat sambil menatap Rey. Rey pun menatap Defen pada waktu bersamaan, membuat jantung Defen tidak karuan lagi.
**
Defen masih tetap di apartemen Rey, sepatah kata pun tidak ada yang keluar dari mulut Defen maupun Rey. seketika ruangan hening hanya ada terkadang suara batuk yang tidak jelas. Defen yang seperti diburu sesuatu yang tidak jelas membuat dia memikirkan tentang jantungnya yang tidak karuan.
Sementara Rey yang berbaring dikasur hanya terkadang menatap Defen, ingin menyinggung Defen, ingin menyuruh Defen pulang, tetapi apa daya. Rey terlalu banyak berpikir, hingga hal inipun membuat dirinya ragu untuk menyuruh Defen pulang.
“re, ayo keluar makan angin” ajak Defen
“gue gak ikut, kamu aja sana” jawab Rey tanpa menoleh Defen
*
Tiba-tiba telepon gengam defen berbunyi, dia mencoba melirik layar, itu adalah panggilan dari Clara kekasih Defen, Defen mengangkat teleponnya kemudian berlalu dari hadapan Rey.
“ada apa” begitulah ucapan pembukaan Defen
“kamu dimana sekarang?
“lagi di apartemen rey yang” balas Defen
“ayo ketaman beb” ajak Clara
“otw ke taman, tunggu aku disitu” respon Defen
“iya ini mau otw, kutunggu ya beb”
“bye-bye”
Clara pun mematikan telepon.
Defen terlihat bingung ingin mengatakan apa kepada rey, dia sebenarnya ingin bersama Rey hari ini, mau di apartemen atau mau keluar itu pilihan rey, nyatanya Clara malah mengajak defen untuk bersama lagi.
“re” suara Defen ragu
“iya” spontan Rey menoleh Defen
“gue mau pergi dulu ya”
“kemana?” lagi-lagi Defen bertanya
“ketaman, Clara ngajak gue buat dating” balas Defen