“oh, I see” respon Rey dengan rasa kurang nyaman.
Melihat respon Rey, Defen semakin ragu dengan Rey,
“ada apa?” begitulah batin defen
“pergi dulu ya” ucap Defen lalu pergi keluar apartemen Rey
*
Rey kebingungan dengak sikap Defen, terlihat dia kurang nyaman ketika dia mengatakan dia akan bersama Clara, muka Rey terlihat sedih dengan kepergian Defen. Kepala Rey dihujani dengan "apakah aku punya perasaan dengan Defen?".
‘andaikata, aku tidak menolak ajakan Defen tadi” Rey memukul bantal sebagai pelampiasan.
Rey juga bersiap untuk pergi, dengan gaya yang kekinian dia bercermin.
“yess bagus” senyum Rey sambil menaikkan jempolnya.
Rey keluar dari apartemennya, dia bingung mau kemana, karena dia keluar apartemen tanpa tujuan, dia pun menelusuri jalan arah Barat daya, sesekali dia menatap apa pun yang ada di depan matanya, lalu dia singgah disebuah toko makanan, memesan sebuah minuman, etika untuk masuk toko makanan tidak baik jika menumpang lama tanpa membeli sesuatu.
Pikiran Rey kembali dihantui oleh kenangan-kenangan lama bersama mantannya Veny itu, terlihat jelas bagaimana dia tersenyum ketika disamping Veny. “rasanya semua bebanku hilang” suaranya parau.
Veny adalah mantan pertama Rey seumur ini, meskipun banyak gadis cantik dekat dengan Rey, tetapi Rey susah membuka hati selain daripada Veny. Dimata Rey, Veny terlihat berbeda dari gadis lainnya, terlihat manis, baik dan suka memberi dukungan kepada Rey ketika dalam ada masalah. Gadis lain juga memberi hal yang sama kepada Rey, tetapi. Perlakuan Veny membuat dia seolah terperangkap dalam sebuah jaring yang tidak bisa dilepas.
Rey menikmati dirinya tenggelam dalam kenangan yang manis itu meskipun sekarang sedang menjadi sesuatu yang tak berarti, “ya, aku jadi mantannya”. Kenangan itu seolah memaksa Rey untuk tenggelam lagi, membawa Rey dalam dunia dimana mereka sedang bukan siapa-siapa, dimana mereka hanyalah semua teman SMA.
“hei Rey” begitulah ucapan Veny dengan senyum khas ditebarkan kepada Rey.
Rey dengan senyum bibirnya membuat dia salah tingkah dan malu.
“ada apa?” Tanya Veny lagi tanpa menunggu Rey membuka suara. Veny sudah tahu kalau Rey suka malu dekat dengan gadis-gadis SMA, hal ini membuat vent maklum dan perlakuan Veny seperti ini membuat Rey serasa jadi adik kecil dimata Veny dan selalu diperhatikan.
“ini aku bawakan minuman kesukaan mu” suara itu membuat Rey kaget ketika berada ditaman
“makasih” jawab Rey singkat sambil menatap wajah ayu kekasihnya
“jangan ngambek lagi ya” Veny seolah memberi peringatan
“iya beb” Rey membalas sambil meraih tangan kekasihnya kemudian mencium dengan penuh kasih.
Memori yang ada dikepala Rey, membawa Rey dalam suasana yang berbeda.
“ini makanan kesukaanmu, aku bawakan” ucap Rey setelah melihat kekasihnya dengan muka sayu terduduk diam disebuah bangku taman kampus.
Veny pun menerima tanpa mengucap sepatah kata, lalu mencicipi.
“enak?’ Tanya Rey sambil memiringkan wajahnya untuk melihat mimik kekasihnya
“lumayan” balas Veny singkat
“jangan ngambek lagi ya!” perintah Rey
Veny yang hanya mengangguk kepala membuat Rey terdiam, Rey memilih tidak bertanya apapun kepada Veny lagi, dia sabar menunggu kekasihnya tidak marahan lagi kepada dirinya.
Suasana ini semakin hening, hari makin sore dan hampir gelap, di depan Rey ada veny yang tertidur pula sambil menghadap kekiri, Rey segera mengambil handphone nya kemudian mempotret wajah cantik Veny ketika tidur. Rey yang puas dengan kejahilannya akhirnya menyimpan handphone nya kemudian duduk tepat dikursi depan Veny.
“venn, bangun yok”ajak rey sambil menggoyangkan tangan Veny
“bentar lagi pliss’’ rengek veny sambil memperbaiki posisi tidurnya
“ini udah malam loh beb, tidur dikost aja”
Setelah Veny mendengar ‘ini udah malam’ membuatnya kaget sontak,
“beneran udah malam?” Tanya Veny pada rey dengan mata sedikit terbuka
“lihat dulu sekelilingmu” balas Rey sambil mengacak rambut Veny lembut.
Veny segera merapikan baju nya yang kusut, buku-buku dimasukin kedalam tas, dan menyisir rambut kemudian, Rey yang ada dihadapan Veny hanya bisa menunggu sebab dia sudah biasa dengan kelakuan kekasihnya ini.
‘maafin Rey ya ven’’
“kenapa?” muka veny terpasang dengan penasaran
“semalam aku kan gak bisa ketemu kamu”
“udah lupakan aja itu” perintah veny sambil meraih pergelangan tangan kiri Rey dan berjalan menuju parkiran mahasiswa.
Rey memperhatikan gengaman Veny tersebut, seolah ini bukan dirinya, terasa lembut dan hangat pelukan Veny itu, Rey menimati gengaman itu disepanjang jalan menuju parkiran.
Veny melepas gengamannya ketika sampai diparkiran, dengan segera Rey mengambil motornya dari ujung kanan. Sementara Veny masih setia menunggu kekasihnya datang, tahulah diparkiran, motor pun sering jempet-jempetan, tidak hanya manusia yang suka jempet-jempetan ketika menunggu sembako gratis, motor yang jempetan itu membuat Rey kesusahan membwa motornya keluar.
“maaf menunggu lama” ucap Rey sambil memberi helm kepada Veny
“ssudah biasa” balas Veny dengan senyum lebar menampakkan giginya yang rapi itu.
Rey pun mencubit pipi Veny dengan gemas nya.
Veny yang sudah selesai memakai helm segera naik kemotor Rey, Veny pun memeluk perut kenyal Rey.
Rey merasakan sentuhan dari pelukan Veny tersebut, sentuhannya membuat Rey seolah dibawa terbang oleh angkasa. Dia kemudian menoleh tangan Veny yang terkepal dengan senyum manis, dan mengelus tangan Veny.
Tiga puluh menit, sampai juga di kost Veny dengan selamat.
Veny segera turun dan membuka helm dari kepalanya, dia pun menyerahkannya dan mencium kening Rey, tak lupa reyy menarik jari kiri Veny hingga membuat bibir mereka bersentuhan, dengan segera Rey pun membalas dan mencium kening Veny.
“sleep tight sayang” ucap Rey sembari melepas pegangannya yang memegang kepala Veny
‘goodnight too beb’ balas Veny sambil melambai tangan dan berlalu dari hadapan Rey.
Setelah Veny sudah masuk kostnya, Rey segera menyalakan motornya kemudian berlalu dari depan kost itu.
*
Rey tetap terduduk manis dengan wajah sedikit air mata masih tenggelam dalam dunia kisahnya.
Hari itu Rey berjalan pergi sekolah, tiba-tiba veny mendekati dia dan memukul pundak Rey.
“ada apa?” Tanya Rey cuek
“jalan bareng yok” Veny menyamakan langkahnya dengan Rey, namun terkadang Rey malah mempersalah langkahnya dan membuat Veny jengkel dengan sikap Rey
“lu mau gak berteman sama gue?” pandangan Veny membuat rey sedikit cemas
“mau kok” balas rtey dengan mengalihkan pandangannya dan menuju lurus dan jauh kedepan.
Rey akhirnya mengalah dan memperlambat langkahnya sehingga bisa membuat Veny seirama dengan langkah Rey.
“lu senang ya hari ini Ven?”
“sangatlah Rey” dan menampakkan senyum tipisnya membuat Rey salah tingkah.
Rey kembali terdiam dan focus dengan langkahnya, sementara Veny sibuk dengan matanya kemana-mana memandangi siapapun yang menarik perhatiannya.
“Sudah sampai” Veny membuka suara setelah beberapa saat keduanya hening,
‘yuk masuk” Rey segera masuk dan meningalkan Veny seorang diri
“ihh, tunggu dong” balas Veny sambil mempercepat langkahnya
Saatnya pelajaran kimia dimulai, bu Derma masuk kelas XII Ipa 3dan memberi salam.
“sekarang kita kuis” ucap bu Derma sembari memandangi seisi kelas