Selamat malam kamu, entah sedang apa disana. Sampai saat ini aku tak begitu berharap bisikan kecil darimu, tak mengingini sosokmu terbangun sembari menjawab rasa penasaran itu. Aku hanya ingin menuangkan segala ketakutan akan semesta yang ku bangun sendiri. Aku bingung, bahkan takut untuk mengusikmu kembali. Biarlah bersama ini kusampaikan, bersama lamunan panjang tak berujung. Biarkan semua berjalan semestinya, kau yang bilang jika waktu akan menemui takdirnya sendiri. Ya.., memang terkadang kecemasan membawa seseorang untuk berhenti. Berhenti untuk sekedar berpijak lebih kuat di atas bayangan duniawi.
Memang kuadratnya manusia tak merasa tercukupi, ada sesutu yang membuat seseorang untuk tak memiliki. Salahkah? keluar dari dunia yang pernah membunuhku sampai mati. Aku hanya ingin menegaskan kembali, jika aku hanya ingin menemani. Bukan seperti mereka-mereka yang ingin mengejarmu secara abadi. Bahkan untuk memiliki aku harus memutar hidupku berulang kali. Pergi jauh untuk memantaskan diri. Atau mungkin hanya aku, muncul dari ekspektasi lebih. Berharap untuk di pahami nan dimengerti.
Semoga saja hal ini adalah kehawatiran kumuh diriku sendiri, pikiran tak lazim jelmaan dari kecemasan tentang kamu dan semestaku. semoga lekas membaik keadaan semestamu, berilah kejalasan untuk sebatas mengabari. Jika tidak nanti, mingkin esok hari.
Harusnya cahapter ini adalah bagian yang terisi penuh tentangmu, hanya saja aku dibabani pikiranku yang sama sekali tak ku yakini. Tentang kamu yang akan membuka jalan untuk pergi menjauhi. Semoga saja setelah kamu mengerti kamu akan segera mengobati diriku ini.