Malam ini aku sedang manatap bulan, tak begitu sempurna, dipernak kilauan bintang-bintang di atas sana. Detik ini juga aku merasakan angin begitu dingin, melambai menyapamu di batas hening. Aku berjalan di tengah padang lentera, aku tak menemukanmu, hanya saja kamu terlalu terang di kepalaku, dan aku mampu menghadirkanmu kembali sebagai perihal untuk kudapati.
Tentangmu, aku masih sulit untuk mengakhiri, kamu dengan kisah kisah yang dimiliki. Aku dengan puisi-puisiku yang tak mudah kau pahami. Kamu selalu bilang aku tidak seperti itu, bahkan kau bilang aku terlalu melebihkan tulisanku tentangmu. Sebenarnya aku berupaya untuk jujur apapun yang kutulis untukmu. Aku tak bisa menghakimi pikiranku sendiri. Berpura pura itu tak mudah untuk dijalani. Karenanya, aku tak bisa menuliskan cerita palsu, apalagi menipu. Semua ini buah dari pikiran dan kalbu.
Aku mendambakan caramu berbincang denganku, aku tak begitu tau alasannya, yang pasti aku menyukainya. Aku menyenangi sesuatu yang tenang, Aku bukan tipe orang yang gemar keramaian. Sebaliknya, aku merasa paling bahagia ketika menemukan kedamaian dalam keheningan dan ketenangan. Mungkin jika di ungkapkan secara jelas ada sesuatu yang menenangkan dalam keberadaanmu, tempat berlindung di tengah kegaduhan.
Serpihan langkah mengukir lamunanku, memberikan warna irama lagu, sahdu di daun telinga, indah di dijiwaku. Sepertinya kesadaranku hilang, terbang bersama bayang bayangmu, terpontang dalam sejarah yang baru