Suasana kantin siang itu penuh sesak. Suara gelak tawa, derit sendok garpu, dan aroma nasi goreng yang menggoda berpadu jadi satu, menciptakan keramaian yang khas. Mubin dan Sabiri baru saja mendapat meja kosong di pojokan setelah berjalan mengitari kantin dua kali.
Baru saja mereka menyendok suapan pertama, dua sosok gadis yang cukup dikenal di sekolah Zahra dan Utia datang menghampiri.
“Permisi... boleh gabung duduk di sini nggak?” tanya Zahra dengan senyum lembut.
“Boleh banget!” jawab Sabiri cepat, tanpa berpikir panjang. Mubin hanya melirik ke arahnya sambil berbisik, “Bir, kenapa nggak suruh cari meja lain aja sih?”
Sabiri membalas pelan, “Udah, biarin aja. Anggap aja ini latihan bersosialisasi.”
Mubin mendesah pelan, lalu menoleh ke dua gadis itu. “Ouh ya, Zahra sama Utia... ngapain duduk di sini? Nggak risih diliatin cowok-cowok pengagum kalian?” ucapnya sambil menyunggingkan senyum sinis.
Zahra mengangkat alis, tampak sedikit terkejut. “Kamu tahu namaku?”
“Jelas tahu. Kelas kita sebelahan,” jawab Sabiri cepat, mencoba mencairkan suasana.
Zahra terkikik. “Tapi kok cuma kalian yang tahu nama kami? Nama kalian siapa, dong?”
“Sabiri, dan ini Mubin,” kata Sabiri memperkenalkan diri dengan ramah. Mubin hanya mengangguk kecil.
“Senang kenalan, ya! Semoga kita bisa jadi teman baik,” kata Zahra penuh semangat. Utia pun mengangguk setuju.
“Kompak banget kalian berdua. Jangan-jangan... jodoh?” celetuk Mubin sambil nyuap makanannya.
Semua tertawa, kecuali Mubin yang segera menyadari tatapan-tatapan tajam dari meja-meja lain. Cowok-cowok yang tadi mengerubungi Zahra dan Utia menatap ke arah mereka dengan ekspresi tidak senang—bahkan bisa dibilang marah.
"Bir, beneran deh. Ini mata-mata orang udah kayak sinar laser semua nembus ke sini,” bisik Mubin agak gelisah.
Sabiri cuma tertawa kecil. “Santai aja. Yang penting kita nggak salah apa-apa.”
Baru saja suasana agak mencair, mendadak kantin sunyi. Langkah sepatu yang rapi terdengar mendekat. Semua orang langsung tahu siapa yang datang—Risma, Ketua OSIS paling ditakuti di sekolah. Rambutnya dikuncir rapi, wajahnya selalu serius, dan tiap langkahnya seperti membawa aura dingin yang menyapu satu ruangan.
“Oh, itu dia ketua OSIS yang katanya galak dan sok disiplin itu ya?” suara Mubin terdengar agak nyaring tanpa sadar.
Semua orang di meja mereka langsung terdiam. Sabiri melotot ke arah Mubin. Bahkan Utia dan Zahra menahan napas. Terlambat. Sosok yang baru saja disebut kini berdiri tepat di belakang mereka.
“Apa kamu bilang tadi?” suara Risma terdengar tenang, tapi tegas dan menusuk.
Mubin terpaku. Tangannya yang memegang sendok seketika gemetar, tapi ia mencoba tetap tenang. “Saya cuma bilang... katanya gitu, bukan saya yang bilang,” jawabnya, setengah gugup.
Suci, Wakil Ketua OSIS yang ikut bersama Risma, menatap Mubin dengan tatapan kecewa. “Udah, Ris. Biarin aja. Mungkin dia nggak maksud gitu,” katanya, lalu segera pergi dengan wajah tidak nyaman.
Namun Risma tidak tinggal diam. Ia menatap Mubin lurus-lurus. “Lain kali, jaga omonganmu. Jangan sampai ucapanmu bikin masalah. Awas saja kalau terulang lagi,” ucapnya, lalu berbalik dan pergi.
Setelah kepergian mereka, kantin kembali riuh, tapi meja Mubin mendadak senyap. Semua mata memandang ke arah Mubin. Tatapan penasaran, kasihan, dan beberapa bahkan geli, membuat Mubin merasa tidak karuan.
Dia menunduk, menyendok makanannya yang sudah dingin. “Kenapa juga aku harus komentar tadi...” gumamnya pelan.
Sabiri menepuk pundaknya. “Udah, anggap aja pengalaman. Tadi tuh epic banget.”
Mubin mengangguk lesu. “Epic bikin malu.”