Sejak insiden di kantin, pikiran Mubin terus berputar. Kata-katanya yang meluncur tanpa filter terus terngiang di kepalanya, membangkitkan rasa bersalah yang pelan-pelan tumbuh menjadi keresahan.
“Bir, menurutmu tadi aku kelewatan, ya?” tanyanya pelan saat mereka duduk berempat, bersama Utia dan Zahra.
Sabiri mengangkat bahu. “Nggak tahu juga, Bin. Tapi kamu sih ngomongnya blak-blakan banget, langsung di depan mereka pula.”
Roy hanya mengangguk, dan Zahra memandang Mubin dengan tatapan penuh simpati.
“Wah, siap-siap jadi sasaran OSIS, deh,” celetuk salah satu siswa lain yang ikut duduk dekat mereka, diikuti gelak tawa.
Utia menahan tawa, berusaha tidak terlalu keras, tapi tetap saja terdengar.
Mubin hanya menghela napas. “Sudahlah, yuk ke kelas. Nggak ada gunanya mikirin ini terus, Roy.”
Mereka pun bubar. Tapi langkah Mubin terasa berat. Kata-kata Risma dan ekspresi kesalnya masih terbayang. Ia hanya bisa berharap semuanya tak jadi berlarut.
Pelajaran hari itu pun selesai, namun Mubin belum bisa menanggalkan pikirannya dari insiden tadi.
“Bin, ngelamun mulu, nanti kemasukan setan!” goda Sabiri sambil menepuk bahunya.
“Setan mana ada siang bolong. Yang ada kamu itu setannya,” balas Mubin, menyeringai.
“Haha, gila lu. Yuk balik!”
“Balik ke mana?” Mubin mengerutkan dahi.
“Ya ke rumah lah. Masa ke pasar?”
“Bentar deh. Aku mau nanya soal ekskul ke Pak guru. Ikut nggak?”
“Skip. Aku capek. Duluan ya.” Sabiri pun beranjak pergi.
Mubin mengangguk dan berjalan menuju ruang guru. Ia mengetuk pintu dan mengucap salam. “Assalamu’alaikum, Pak.”
“Wa’alaikum salam, Mubin. Ada apa?”
“Saya mau tanya soal ekskul seni lukis. Latihannya kapan mulai, Pak?”
Wajah sang guru berubah muram. “Untuk sekarang belum bisa dimulai, Bin. Masih dalam masa transisi pandemi. Mungkin nanti setelah keadaan lebih stabil.”
Jawaban itu bagai angin dingin yang menelusup ke dalam semangat Mubin. Ia sudah membayangkan belajar teknik melukis, menuangkan imajinasi ke kanvas. Tapi kini semuanya tertunda.
Ia tersenyum kecil, menunduk sopan. “Baik, Pak. Terima kasih.”
Saat keluar dari ruang guru, Mubin menarik napas dalam. Dalam hati ia berjanji, “Aku nggak boleh nyerah. Cita-cita ini harus terus aku perjuangkan.”
Langkahnya menyusuri koridor seperti diiringi bisikan angin. Hari ini berat, tapi masih ada hari esok.
Malam itu, Mubin sulit tidur. Ia memeluk guling erat-erat, berusaha menenangkan pikirannya.
“Kenapa aku harus ngomong sekeras itu? Dan kenapa mereka harus ada di situ?” gumamnya lirih. Ia membayangkan Risma, ekspresinya, cara teman-temannya menatapnya. Ketakutan sosial mulai menjalar.
“Kalau nanti mereka semua menjauh gimana? Kalau aku dibenci gimana?”
Ia menertawakan dirinya sendiri. “Udah, Bin. Nggak usah lebay. Fokus sama cita-cita.” Tapi kata-kata itu hanya pelipur sesaat.
Akhirnya, tubuhnya menyerah. Dalam dekapan malam, Mubin tertidur, dibuai harapan kecil akan hari yang lebih baik.
Pagi datang. Mubin bangun dengan semangat baru. Ia mandi, berpakaian rapi, dan menyapa sang ibu di meja makan.
“Abang nggak sarapan dulu?” tanya ibunya.
“Udah bawa bekal, Ma,” jawabnya sambil tersenyum.
“Abang antar Luna, ya?” pinta sang adik.
“Kan Adik punya motor,” jawab Mubin malas.
“Sekali-kali dong dianterin,” rengek adiknya.
“Abang mau berangkat cepat,” ujarnya sambil menyalakan motor. Dalam hati, ia berdoa, “Semoga hari ini lebih baik.”
Di jalan, angin menyentuh wajahnya lembut. Kata-kata lama dari guru ngaji-nya terlintas: “Hidup itu roda. Kadang kita di atas, kadang di bawah. Tapi iman yang membuat kita tetap kuat berdiri.”
Sesampainya di sekolah, ia berpapasan dengan siswa lain yang dikenalnya di jalan.
“Eh, kamu sekolah di sini juga?” sapa Mubin.
“Iya. Aku Alki,” jawabnya.
“Aku Mubin. Jurusan IPS ya?” tebak Mubin.
“Bener. Kamu?”
“IPA.”
“Oh, oke, aku duluan ya. Kayaknya kelasku udah mulai,” ujar Alki tergesa.
Mubin mengangguk. Dalam hati ia tersenyum, “Mungkin ini awal pertemanan baru.”
Di kelas, Mubin duduk di samping Sabiri.
“Bir, kamu udah ngerjain tugas?”
“Udah sih, tapi nomor terakhir belum. Malem aku ketiduran.”
“Duh, kamu nih.” Mubin geleng-geleng.
Guru belum juga datang setelah 20 menit.
“Mana gurunya sih?” protes Roy.
“Aku panggil deh,” ucap Rena dan pergi.
“Rena rajin banget,” komentar Sabiri sinis.
“Ih, ilmu itu mahal, Bir,” sahut Mubin, menjitak kepala Sabiri pelan.
Tak lama, Rena datang kembali. “Gurunya nggak bisa masuk. Tapi OSIS bakal ngasih tugas,” katanya senang.
Risma dan Riska pun masuk membawa tugas.
“Saya di sini mau menyampaikan tugas dari guru,” ucap Risma tegas.
Mubin duduk tenang, tapi merasa ada yang menatapnya.
“Hey, kamu dengar nggak?” tegur Risma, tajam.
“Iya, dengar, Kak.”
“Kalau dengar, lepas headset-mu!”
“Ini nggak nyala, kok.”
Tetap saja, Mubin melepasnya. Matanya kini fokus ke depan, walau pikirannya berantakan. Tatapan Risma seperti menyelami pikirannya dan entah kenapa, ada rasa geer yang muncul diam-diam.
“Kenapa dia cuma marah ke aku? Apa karena kemarin?”
Sabiri menoleh. “Bin, mereka pintar banget, ya. Cepat nangkapnya.”
“Kamu juga bisa, Bir. Yang penting semangat.”
Sabiri hanya tersenyum.
Di ujung jam, saat OSIS keluar, Mubin masih merenung. “Apa semua ini bisa aku perbaiki? Atau mungkin... ini pelajaran baru?”
Dan seperti biasa, Mubin memilih untuk bertahan. Karena bagi dirinya, tidak ada jalan lain selain terus melangkah ke depan.