Maira mengangguk. Perlahan Kanz berdiri di belakang Maira, merapatkan tubuh lalu menyentuh kedua tangannya dengan lembut.“Ikuti aku dulu, lemaskan tanganmu.”
“Ya.”
Kanz mengajarinya cara memukul dengan benar. Maira di suruh fokus ke arah bendera yang ada di tengah lapangan.
Kanz mengayunkan dan memukul bola di depan mereka. guncangan kuat dirasakan Maira ketika Kanz memaksa pemukul ini menerbangkan bola yang berat tersebut. Bola itu melambung tinggi dan jatuh dekat dengan bendera yang dituju.
“Paham?” tanya Kanz.
“Oke, aku coba dulu ya, Mas,” jawab Maira.
Kanz sedikit menjauh, melihat gerakannya dari samping. Maira mengaplikasikan yang diajarinnya tadi.
WUSH.
Bola itu tidak terpukul. Kanz memejamkan matanya, menahan diri dari tawanya.
“HAHA.” Papanya tertawa geli. Mendengar papanya terbahak-bahak, akhirnya Kanz ikut tertawa cekikikan. Maira tersipu malu dan tersenyum kecut. Mamanya hanya mendesah ringan sebagai respons rendah.
Kampungan, main golf aja tidak bisa, ucap Syifa dalam hati. Merasa muak melihat Kanz bersama wanita itu, Syifa memilih untuk meninggalkan lapangan.
Papanya terus menyuruh Maira mencoba sampai mahir. Maira mengangguk dan memukul bola selanjutnya. Sekitar sepuluh kali pukulan dan berkat bantuan Kanz, Maira akhirnya berhasil!
Kanz merasa lega, Maira kesenangan dan ingin menyatukan tangannya dengan Kanz, tapi pria itu malah berdeham. Maira menarik lagi niatnya dan tersenyum pada Abdillah.
“Kau hebat, Maira! Kau hebat!”
“Terima kasih, Pak.”
Kanz tersenyum dari belakang, melihat ke arah Maira yang sangat senang dengan kemampuan barunya.
Satu jam kemudian mereka pun masuk ke rumah.
“Aku mau ke kamar mandi, di mana ya, Mas?” tanya Maira.
“Ikuti aku.” Kanz membawanya ke arah koridor samping dekat dengan pintu belakang.
“Tunggu di sini, aku akan mengambilkan baju ganti untukmu,” katanya saat sudah berada di depan pintu kamar mandi.
Ketika Maira ingin menolak penawarannya, Kanz sudah jalan meninggalkannya. Maira memandang Kanz dari belakang.
Pria itu penuh misteri, sikapnya panas dingin, gumamnya dalam hati kemudian memutar tubuh ke belakang untuk masuk ke kamar mandi.
“Eh, kaget aku. Maaf ya,” ucap Maira pada Adiknya yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu.
Perempuan itu melirik sinis padanya. “Kau beneran pacar Kakakku?” tanya adik Kanz menyipit ke arah Maira.
Maira membeku rasanya. Sang adik mulai curiga kalau dia adalah kekasih palsu kakaknya. “Kenapa kau tanyakan hal itu?” tanya Maira bersikap baik padanya.
“Karena aku tidak melihat satu tipe ideal kakakku ada padamu.”
Maira menelan ludah dan tersenyum manis. “Setiap orang bisa berubah, mungkin kakakmu jenuh dengan tipe yang itu.”
Perempuan itu tertawa renyah.
Maira menyodorkan tangannya, berniat memperkenalkan diri. “Namaku Maira, kita belum berkenalan tadi.”
Tanpa menyambut tangannya, perempuan itu menjawab ucapan Maira. “Namaku Erin.”
“Senang berkenalan denganmu, Erin.”
Perempuan itu mendengus. “Hah.” Dia melipat tangannya dan pergi begitu saja sebagai jawaban atas ucapannya dengan cara tidak sopan.
Hem, orang kaya tapi tidak berakhlak, bisik Maira dalam hati.
Kanz melihat adiknya beranjak pergi dari sana, ia menduga bahwa telah terjadi sesuatu antara Maira dan adiknya. Maira yang hendak melangkah ke kamar mandi, lagi-lagi tertahan oleh Kanz yang datang menghampiri.
“Adikku bicara apa padamu?” tanya Kanz.
“Tidak ada, kami hanya berkenalan saja. namanya Erin kan?”
Kanz menyipitkan matanya. Merasa tidak mungkin hanya seperti itu saja, Erin tipikal penyelidik.
“Ini bajumu. Gantilah,” kata Kans.
Maira membentang gaun yang ia ambil dari tangan Kanz. Matanya terbelalak menatap potongan gaun yang sangat terbuka di bagian belakang meski bagian bawah memiliki rempel hingga tidak akan membuat ketat. Lebih jelasnya gaun peplum berwarna biru tua ini membuatnya menelan ludah.
“Ini baju siapa?” tanya Maira dengan wajah mengerut.
“Banyak tanya ya, aku sudah membelikan ini untukmu.”
“Hah? Kau beli ini? kapan?” tanya Maira.
Kanz terbelalak dan menyuruhnya untuk masuk lalu segera ganti baju. Maira menundukkan pandangan, mundur perlahan lalu menutup pintu kamar mandi.
“Kapan dia belinya? Kan dia dari tadi bersama aku dan Papanya?”
Maira lupa kalau bosnya itu anak sultan. Banyak orang yang bisa disuruhnya untuk pergi kapan pun dan ke mana pun. Maira membuka gaun kuningnya, melipat baju milik sahabatnya itu kemudian memasukkannya ke dalam tas baju yang diberikan Kanz tadi.
Maira mengenakan gaun berwarna khaki tersebut lalu mengancing resletingnya di bagian samping.
“Wah, bisa pas begini ukurannya untukku?” Maira melihat arah belakang. “Tapi sangat rendah potongan belakangnya, aku tidak nyaman.”
Gaun biru tua berbahan wedges ini memiliki potongan leher tertutup, bagian depan sangat sopan, tapi ketika orang melirik belakangnya, maka punggung Maira yang mulus terlihat menggoda.
Maira tidak punya pilihan lain, gaun tadi memang sudah basah terkena keringat. Maira membenarkan riasannya, hanya dengan menepuk bedak tabur dan menambah perona bibir serta mengikat rambutnya ke atas sudah membuatnya kembali segar.
Maira keluar dan melihat Kanz sudah tidak berada di sana. Maira berjalan ke arah ruang tamu melalui koridor yang ia lewati tadi. Maira melihat Kanz dan kedua orangtuanya duduk di kursi tamu. Maira menghampiri mereka.
Kanz yang sedang bercerita perihal kegiatannya saat ini dipaksa menoleh karena mendengar suara ketukan sepatu Maira.
Tuk. Tuk. Tuk.
Matanya berbinar-binar melihat Maira dalam balutan dress yang ia belikan. Tidak salah mode, bahkan sangat tepat untuk tubuhnya yang padat dan seksi.
“Maira, mari sini, Nak!” ajak papanya.
Maira mengangguk, tersenyum lalu duduk di samping Kanz. Pria itu menatapnya sembunyi-sembunyi.
“Jadi, apakah kau tau kalau dengan usaha yang sedang dijalankan Kanz?” tanya papanya pada Maira.
Maira mengangguk. “Ya, Pak!”
“Ah, kau pasti sering main ke sana ya?”
Maira tersenyum. “Saya-“
Kanz memotong jawabannya. Dia tidak ingin bila Maira mengakui pekerjaannya. “Ya, Pa. Dia terkadang main ke sana saat pulang kerja,” potong Kanz.
Maira menoleh padanya. Memahami bahwa dirinya tidak boleh mengeluarkan jati diri pada mereka. Maira mengangguk pelan dan tersenyum.
“Oh, begitu. Lalu Kau kerja di mana, Maira?” tanya papanya.
Kanz menjawabnya. “Di sebuah perusahaan terkenal, bagian pemasaran.”
“Bagus, saya senang pada wanita pekerja keras. Tidak penting jabatannya apa, yang penting adalah usaha untuk meraih sebuah kesuksesan dari posisinya saat ini lah yang mempengaruhi masa depannya.”
Maira tersenyum. “Iya, Pak.”
“Orangtuamu kerja apa?” tanya mamanya Kanz.
Maira terdiam, wajahnya spontan kaku dan menunduk. Kanz mengerutkan dahinya ketika dirinya sendiri tidak mengetahui masalah keluarganya.
“Mereka sudah tiada, Bu,” jawab Maira dengan senyum tipis.
Kanz terkejut mendengar kenyataan bahwa dirinya adalah anak yatim piatu. Kanz mengalihkan pembicaraan pada hal lain, tapi mamanya menjadikan kondisi itu sebagai momen untuk menjatuhkan Maira.
“Lalu Kau tinggal dengan siapa?” tanya Syifa. Percakapan antara Kanz dan Abdilah terhenti karena mamanya mengambil alih.
“Dengan Oma, Bu.”
Syifa menaikkan alisnya lalu tersenyum. “Berarti kau bekerja untuk menanggung beban Oma-mu, gitu?” tanya Syifa.
Maira tersenyum. “Tidak, Bu. Oma malah tidak kasih Saya kerja di sela-sela kuliah. Tapi saya yang menginginkannya.”
“Oh, jadi kau masih kuliah, berarti masih muda dong, tidak mungkin kerja di perusahaan pemasaran selagi kau kerja.” Syifa menepis jawaban Kanz atas dirinya. Kebohongannya terkuak.
“Ma, sudahlah.” Suaminya meminta istrinya tidak melanjutkan pembicaraan ini.
“Papa, Kanz menolak perjodohan dari Mama demi wanita yang kerjanya serabutan. Mau taruh di mana wajah kita punya menantu yang tidak memiliki posisi bagus? Nanti saat ditanya oleh teman-teman Papa, kita harus jawab apa?” tanya Syifa blak-blakan di depan mereka.
Kanz merasa tidak suka pada cara mamanya menceritakan hal yang harusnya disampaikan dalam keadaan tertutup oleh keluarga saja. Sementara Maira mengakui bahwa semua ucapan Syifa ada benarnya. Maira tidak berani menatap kedua orangtua Kanz.
“Kami harus pergi sekarang,” ucap Kanz menarik tangan Maira untuk berdiri.
Maira mengambil tasnya lalu mengikuti Kanz berjalan. “Tunggu,” ucapnya menghentikan langkah mereka.
Maira melepaskan genggamannya lalu mengayun kembali ke arah mama dan papa Kanz.
Kanz mengernyitkan wajah sembari melihat ke arah Maira yang sudah membuatnya khawatir.
Maira ingin menyalam tangan Abdillah dan Syifa sebelum pulang. Hanya papanya saja yang menyambut, mamanya tetap tidak sudi tangannya disentuh oleh Maira.
"Saya pulang ya, Pak, Bu. Terima kasih atas jamuannya hari ini, saya senang bisa bertemu dengan kalian."
"Iya, Maira, Maaf jika sambutan kami tidak berkenan di hatimu."
Maira tersenyum, menggeleng. "Saya yang harusnya minta maaf kalau saya membuat kalian malu dan tidak nyaman."
Kanz menggeleng, harusnya Maira tak perlu melakukan itu sebagai pacar bohongannya. Toh, dia ke rumah ini hanya sekali ini saja. Kanz tidak akan membawanya kemari lagi.
“Tidak, Nak. Kedatanganmu sangat aku suka, kau bisa main lagi kemari bersama Kanz,” sahut Abdilah.
Syifa tersenyum miring. “Lebih baik tidak usah. Nanti orang-orang pada nanya. Kami bingung mau jawab apa?” sambarnya.
Maira tersenyum. “Assalamualaikum,” ucapnya sebelum pergi. Abdilah menjawabnya, Syifa hanya diam saja.
“Kanz, hati-hati di jalan,” kata papanya pada Kanz.
“Ya, Pa. Aku balik, jaga kesehatan Papa,” sahut Kanz.
Maira berjalan mendekati Kanz dan menunggu pria itu menapak lebih dulu baru Maira mengikutinya.
Kanz membukakan pintu mobil, masuk ke tempat duduknya kemudian pergi dari rumah mewah tersebut.