Maira berjalan mendekati Kanz dan menunggu pria itu menapak lebih dulu baru Maira mengikutinya. Kanz membukakan pintu mobil, masuk ke tempat duduknya kemudian pergi dari rumah mewah tersebut.
Tiada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Kanz. Maira sudah selesai memainkan perannya, tidak tau bagaimana tanggapan Kanz. Mungkin ia sudah gagal dan harus menanggung risiko dari sema yang sudah dilakukannya.
“Kau mau aku antar sampai mana?” tanya Kanz.
“Sampai rumah boleh, Pak?” tanya Maira.
“Baiklah.” Wajah Kanz sangat kaku.
Kondisi di dalam mobil sangat hening. “Pak, boleh tidak musiknya dihidupi?” tanya Maira.
Kanz menekan tombol menyala. Musik bernuansa barat itu pun terdengar mengalun indah. Seleranya adalah rock santai. Kebetulan, lagu ini salah satu daftar musik yang ada dalam galeri Maira. Bibirnya spontan mengikuti lirik dengan nada yang menyerupai lirik, menyambung lagu tersebut dengan merdunya. Lumayan menepis keheningan. Wajah cantiknya bergerak dengan lembut, bibir merah muda itu bentuknya sangat indah.
Kanz mulai merasakan kebenaran dari ucapan Deni yang menyatakan bahwa sisi keindahan Maira ada di mata dan bibirnya. Kanz melirik ke arah wanita itu sepanjang ia bernyanyi.
Maira baru tersadar kalau Kanz memperhatikannya bernyanyi. “Eh, maaf, Mas!” Maira tersipu malu.
Kanz mendengus tawa kecil. “Kau tau lagu ini?” tanyanya.
“Ya, Bryan Adams.”
“Maafin sikap Mamaku tadi,” ujarnya mengingat ucapan tak pantas yang didengar oleh Maira.
“Oh, tidak apa, Mas. Lagian yang dibilang Mama Mas itu benar kok. Mana mungkin orang yang kerjanya serabutan bersanding dengan pria mapan dan sukses seperti Mas. Saya tidak sakit hati, tenang saja.” Maira tersenyum.
“Terima kasih sudah membantuku untuk hari ini,” sahut Kanz.
“Kalau Mas merasa tidak puas dengan kerja Saya sebagai pacar bayaran, Mas bisa batalkan pembayarannya. Saya sudah banyak membuat kesalahan di sana,” tukas Maira menyadari semuanya.
Kanz tersenyum miring. “Aku bukan tipe pria yang suka menarik ucapan. Kau tetap kubayar sesuai perjanjian awal.”
Maira melipat bibirnya. “Kalau bayaran itu Mas potong untuk biaya perbaikan mobil, bisa?” tanyanya.
Kanz menoleh dan menghela napas berat. “Ya, baiklah.”
“Hehe, terima kasih, Mas.” Maira baru menyadari kalau mulutnya jadi terbiasa memanggil sebutan Mas pada Kanz. “Maaf, Pak! Saya masih terbawa suasana sampai sebutan palsu itu terus menempel di lidah Saya.” Maira tertawa kecil.
“Baguslah kalau kau sadar.”
Maira tersenyum malu. “Berarti utang saya 18 juta lagi ya, Pak?” tanya Maira langsung.
“Ya.” Kanz menjawabnya singkat.
Hatinya berdenyut mencari cara untuk membayar utang segitu banyak. Mana tabungannya hanya ada 9 juta. Pun untuk bayar uang kuliah. Maira menghembuskan napas, menyandarkan kepalanya lalu menatap pemandangan di luar jendela.
Tanpa terasa, Maira tertidur dalam perjalanan pulang. Kanz sudah berhenti di depan rumahnya. Melihat Maira tertidur dan tidak bangun-bangun selama setengah jam, dia pun menepuk dashboard dan membuat Maira kaget.
Buk!
“Ya, Allah, Saya ketiduran. Maaf, Pak!” Mata lelapnya dipaksa terbuka karena mendengar suara pukulannya.
“Turunlah," kata Kanz.
“Iya, Pak! Terima kasih banyak sudah ngantarin.” Maira melihat ke luar dan ternyata sudah sampai di rumahnya.
Bagaimana dia bisa tau rumahku? tanya Maira dalam hati. Maira tidak ingin memperpanjang masalah, Maira langsung turun lalu mengucapkan terima kasih sekali lagi. Maira masih berdiri di pinggir jalan sampai mobil Kanz menghilang dari pandangannya.
“Ehem.” Deheman itu terdengar dari rumah sebelah.
Maira menoleh. “Eh, Bu Ratna.”
“Dari mana nih? Kok cantik sekali?”
“Hehe, ada acara di rumah temen.”
“Oh. Pria itu cowokmu ya?” tanya tetangganya
“Hahaha, bukan! Dia teman saya.”
“Mmh.”
Maira segera masuk ke dalam untuk menghindari mulut tetangganya yang super bawel itu.
Maira berterima kasih pada Nani yang telah menjaga Oma Fani hari ini. Maira memberikan uang mingguan padanya. Bayaran karena menjaga Oma selagi dirinya pergi.
“Terima kasih ya, Maira. Saya pulang dulu.”
“Iya, Nani. Hati-hati.”
Maira mendatangi Omanya di kamar. Mengetuk pintu dua kali lalu membuka pegangan pintunya. “Oma,” panggil Maira berjalan ke arah tempat tidur.
Omanya sedang duduk membaca buku. “Maira, kamu sudah pulang?” tanya Fani.
“Ya, Oma. Bagaimana kabar Oma hari ini?” tanyanya.
“Oma baik-baik saja.” Fani melihat perbedaan penampilan cucunya tersayang. “Kamu sangat cantik. Oma tidak pernah melihatmu dengan baju seperti ini.”
“Haha, Oma ini baju temen. Maira pinjam.”
“Kamu itu seorang wanita yang harusnya sering-sering pakai pakaian seperti ini. Oma suka melihatnya.”
Maira tersenyum, memijat kaki omanya.
“Maira, gelang merah yang kemarin pakai aja ya,” pinta Fani.
“Iya, Oma. Gelangnya masih Maira simpan.”
“Oma sangat berharap bisa diberi kesempatan kamu menikah.”
“Ya Allah, Oma. Bicara apa sih? Oma pasti bisa melihat Maira menikah.”
“Oma ingin kamu menikah dengan pria baik.”
“Iya, Oma, InsyaAllah.”
“Sudah ganti bajumu sana. Kalau belum makan, makanlah. Nani tadi masak sup daging untuk kita,” suruh omanya.
“Hehe, maafin Maira, Oma. Tidak sempat masak untuk makan siang tadi.”
Oma mengangguk. Maira beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke kamarnya.
Maira membuka gaunnya, menggantinya dengan pakaian rumah. Maira menggantung baju itu di paku.
“Pasti mahal.” Maira segera merendamnya. Bila sudah kering dia akan memulangkan baju itu pada Kanz.
Maira memeriksa ponselnya sambil rebahan memeluk guling. Pesan dari sahabatnya menumpuk. Maira membukanya satu persatu. Perlahan dia tertawa dengan kekhawatiran Tiara akan dirinya. Maira menghubungi Tiara untuk mengabari bahwa dirinya sehat wal-afiat.
“Mai, kau sudah di rumah?”
Maira mengangguk dengan pipi meninggi, lengkungan senyuman itu pun terukir.
“Kok, bahagia begitu? Apa dia bersikap baik?”
Maira menarik senyumannya. “Aku tidak bisa ceritain.”
“Kenapa?” Tiara bingung. “Yah, tidak asyik nih!”
“Tidak boleh bicarakan masalah orang, ghibah.”
“Hahaha, kau takut sekali. Apa bosmu sangat kejam?”
Maira mengangguk pelan. “Aku mau cerita masalah lain nih," jawabnya mengalihkan pembicaraan.
“Masalah apa?”
“Masalah si Ramli,” jawab Maira.
“Yee, dosenmu itu sangat aneh. Apa dia berbuat seperti itu pada semua mahasiswanya?” Tiara tau kalau Ramli bersikap aneh pada sahabatnya.
Maira menggeleng tidak tahu.
“Jika tidak, pasti dia suka samamu!” sambung Tiara.
Maira spontan tertawa cekikikan. “Ih, amit-amit deh, tidak mau aku punya pacar kayak dia.”
“Hahaha, emang Ramli itu orangnya bagaimana sih?”
“Dia dingin, cuek, aneh.”
“Siapa lebih dingin, Ramli atau bosmu?” tanya Tiara.
“Hem, kayaknya bosku deh, lebih dingin dan kaku.”
“Wah, aku penasaran sama Ramli dan bosmu.”
Maira tersenyum. “Tidak perlu ketemu sama mereka, tidak penting. Buang-buang waktu.”
Percakapan itu berlangsung sampai satu jam kemudian. Obrolan antar sahabat itu merambah ke segala arah.