Suara tumisan menguar, beradu dengan keheningan siang yang lengang. Dapur itu, yang biasanya sunyi dan teratur, hari ini terasa hidup oleh tawa ringan dan dentingan spatula. Tomo tampak bersemangat, lebih dari biasanya, saat mengaduk-aduk isi wajan di depannya.
Tomo sedang sibuk di depan kompor, tangan kirinya memegang wajan, kanan menggenggam sendok kayu. Nina memperhatikannya dari samping, menyandarkan tubuh pada meja, menahan senyum melihat lelaki itu mengaduk-aduk saus seperti sedang menaklukkan monster. Tangannya lincah, tapi gerakannya sedikit berlebihan.
“Jangan terlalu kuat, nanti pecah dagingnya,” kata Nina lembut. “Ini kan saus semur, bukan bayi. Harus tegas.”
Tomo menoleh dengan wajah masam yang pura-pura, “Loh ini kan saus semur, bukan bayi. Harus tegas.”
Nina tertawa renyah, namun tawa itu tak sempat bertahan lama. Seketika, cipratan kuah panas melompat dari wajan dan mengenai bagian d**a kaus Tomo.
“Aw—panas juga ternyata,” ucap Tomo cepat, mundur setengah langkah, terkejut.
Nina spontan melangkah maju, tangannya refleks menarik bagian bawah kaus Tomo. Matanya meneliti noda di kain tipis itu.
“Tunggu-tunggu, buka bajunya dulu. Biar nggak melepuh atau lengket,” perintah Nina, nada suaranya tegas namun sedikit canggung. Ia menyadari kedekatan yang tiba-tiba ini.
Tomo tampak ragu. “Di sini?”
“Ya terus mau ke mana? Di rak samping ada baju bekas... pakai yang itu aja. Bersih, kok,” ucap Nina, lalu buru-buru membalikkan badan, memunggungi Tomo, mencoba menyembunyikan pipinya yang sedikit merona.
Ada keheningan singkat. Nina bisa mendengar Tomo melangkah pelan menuju rak kecil di ujung dapur. Suara laci ditarik, lalu gesekan kain. Beberapa menit kemudian, ia kembali ke dapur.
Kaus lama itu kini membungkus tubuh Tomo. Agak sempit di d**a dan lengannya, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk. Nina sempat melirik, lalu membeku sesaat. Ia mengenali kaus itu. Bukan karena warnanya yang abu-abu kusam, tapi lipatan di bagian leher yang sedikit rusak, dan bekas noda samar di bagian bahu yang hanya ia yang tahu. Itu adalah kaus yang dulu sering dipakai almarhum suaminya saat mereka memasak bersama. Dulu, seseorang yang lain pernah berdiri di tempat yang sama persis ini. Memakai kaus itu. Mencicipi masakannya. Dan kemudian, perlahan, menghancurkan hatinya.
“Maaf ya, kalau kekecilan atau jelek,” Tomo mengangkat bahu, merasa sedikit canggung melihat ekspresi Nina yang berubah. Ia tidak menyadari alasan di balik perubahan itu.
Nina menggeleng, menelan ludah. “Enggak. Pas. Bahkan... kayaknya lebih bagus dipakai kamu.” Suaranya sedikit bergetar, tanpa ia sadari.
Tomo menoleh. Tatapan mereka bertaut. Ada keheningan yang panjang, di mana waktu seperti menarik napas. Nina merasakan detak jantungnya sendiri berdegup tak beraturan. Ada ingatan yang menekan, namun realitas yang hadir di depannya jauh berbeda.
Kenapa malah deg-degan? Padahal cuma kaus... Tapi, tubuh yang menekannya sekarang bukan milik kenangan. Ini tubuh Tomo. Hangat, nyata, dan penuh harapan.
Tomo kembali ke depan kompor, melanjutkan mengaduk saus. Tapi gerakannya kini lebih pelan. Lebih sadar. Ia bisa merasakan bahwa jarak di antara mereka berubah. Lebih dekat, tapi juga... lebih rapuh.
Sore menjelang, sinar matahari menembus tirai dapur dan menari di atas lantai, menciptakan pola kotak-kotak terang. Nina berdiri di dekat wastafel, membasuh piring sambil sesekali melirik ke arah Tomo yang duduk di bangku kecil dekat meja makan. Tomo membuka-buka buku resep Nina yang tebal, berisi catatan tangan dan coretan iseng dari masa lalu. Jemarinya menelusuri halaman-halaman yang sudah menguning.
"Ini tulisan kamu semua?" Tomo bertanya, jarinya menunjuk pada satu halaman dengan tinta pudar yang seolah menyimpan rahasia.
"Ya. Beberapa dari... dulu. Beberapa waktu masih sama dia." Jawaban Nina meluncur pelan, tanpa nama. Suaranya datar, tanpa emosi yang terlihat, tapi Tomo mengerti siapa 'dia' itu.
Tomo tak langsung merespons. Ia menutup buku itu dengan lembut, seperti menghormati sesuatu yang sudah lewat dan tak ingin diungkit paksa. Ada kepekaan yang Nina hargai dari Tomo.
“Aku juga punya satu lemari di rumah yang nggak pernah aku buka sejak Bapak meninggal,” kata Tomo, suaranya datar, tapi jujur dan penuh kerentanan. “Katanya kalau terlalu sering lihat ke belakang, kita bisa lupa caranya melangkah ke depan.”
Nina terdiam. Kata-kata Tomo bagai cermin bagi perasaannya sendiri. Mereka berbagi kesamaan dalam trauma kehilangan, meskipun dengan cara yang berbeda.
Seketika, suasana hening terpecah oleh dering ponsel Tomo yang nyaring. Ia melihat layar—sebuah nama muncul: Ibu. Tomo menarik napas panjang, sebuah gestur yang sudah Nina kenali sebagai pertanda beban, sebelum ia menjawab panggilan itu. Ia beranjak sedikit menjauh, berbicara dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.
"Halo, Bu... Iya, sehat. Masih di tempat Bu Nina. Iya, bantu-bantu." Suara Tomo terdengar dipaksakan ceria. Ada jeda yang panjang. Nina bisa mendengar samar-samar suara keras dari seberang telepon. "Belum, Bu. Belum nemu yang cocok di kota... Nggak, jangan jodohin dulu. Aku masih nyaman sendiri kok, Bu."
Nina menunduk. Ia pura-pura sibuk dengan piring, menggosok noda yang bahkan tidak ada, tapi kupingnya tak bisa bohong. Hatinya menangkap getaran tak kasat mata di antara jeda percakapan itu—getaran tekanan dan harapan yang ditempatkan pada Tomo. Ia tahu betul rasa itu.
Setelah panggilan ditutup, Tomo tidak langsung bicara. Ia berdiri di sana, ponselnya kini di genggamannya, layarnya menghadap ke bawah. Tubuhnya seakan kehilangan tenaga. Ia melangkah pelan kembali ke kursi bar, duduk diam, punggung membungkuk sedikit. Entah karena lelah, atau karena beban yang baru saja ia terima, beban yang tak bisa diucapkan.
Nina menghampiri. Membawakan segelas teh hangat. Aroma melati dari teh itu mengisi udara, menenangkan suasana. “Mau cerita?” tawarnya lembut, suaranya penuh empati.
Tomo memandang Nina sejenak, tatapannya lelah namun ada secercah kepercayaan. Ia tersenyum kecil, senyum yang nyaris tak sampai ke mata. “Kalau aku cerita... kamu jangan ilfeel ya.”
“Coba aja dulu,” sahut Nina, menguatkan.
Tomo menatap teh di tangannya, memutar gelasnya perlahan. “Aku kadang merasa kayak... hidup ini semacam kompetisi yang nggak aku daftarin. Semua orang minta aku nikah, settle, punya keluarga. Tapi nggak ada yang nanya: aku mau apa.”
Nina duduk di sebelahnya. Cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan. Ia tak berkata apa-apa. Ia hanya mendengarkan. Tapi tatapannya sudah lebih dari cukup. Penuh penerimaan. Dan diam-diam, penuh kekhawatiran juga. Kekhawatiran akan nasib yang mungkin sama, terulang kembali pada dirinya.
“Kita berdua sama. Ditekan oleh harapan yang bukan milik kita. Tapi tetap harus senyum, kan?”
Dalam keheningan itu, ada yang bergeser. Dinding yang memisahkan mereka kini tak lagi kokoh. Bahkan mungkin sudah retak di banyak tempat, siap untuk runtuh sepenuhnya. Tapi juga belum sepenuhnya runtuh.
Dan di antara dua gelas teh yang menghangat,
ada dua hati yang mulai berani...
membuka kemungkinan.