pagi itu berbeda. Nina sedang duduk di meja makan, menyesap kopi sembari memandangi dapur kosong. Biasanya, jam segini sudah ada aroma bawang putih tumis dari wajan atau suara Tomo yang bersenandung pelan seperti bapak-bapak nyambi karaoke. Dapur Nina, yang seringkali menjadi benteng ketenangannya, kini terasa hampa. Gelas kopi Tomo yang tidak ada di meja, kursi di seberangnya yang kosong, semua terasa seperti melodi yang kehilangan not utamanya. Nina menyesap kopinya, tapi pahitnya terasa lebih pekat dari biasa. Sunyi. Dan itu… mengganggu.
Baru saja ia hendak meraih ponselnya, pintu pagar berderit.
“Permisi, Bu Nina…” suara Tomo menggema dari luar. Nada lembut dengan sedikit geli di ujungnya.
“Eh, situ kenapa manggil saya kayak tamu kontrakan baru?” Nina membalas, senyum kecil tersungging di bibirnya.
Tomo muncul dari balik pintu dengan keranjang belanja. Tapi bukan sembarang belanja—ada paprika kuning cerah, seikat rosemary segar yang aromanya langsung semerbak, dan… stroberi. Stroberi? Warna merahnya mencolok di antara hijau daun.
“Aku mikir kita harus keluar dari zona aman… masak yang agak fancy,” ucapnya sambil nyengir, meletakkan keranjang di meja dapur. Matanya mengisyaratkan sesuatu yang lebih dari sekadar makanan.
Nina menyipitkan mata, curiga. Ia menatap isi keranjang Tomo, alisnya terangkat. “Stroberi? Kamu mau masak apa, Mas? Sarapan romantis ala koki Michelin?” ia menggoda, menunjuk buah merah menggiurkan itu.
Tomo hanya menyeringai. “Kita coba hal baru, Bu. Kadang manis itu perlu diselipin di tengah-tengah…” Matanya melirik ke arah Nina, mengandung arti lebih. “Gimana kalau kita belanja ke pasar bareng minggu depan? Biar kamu tahu aku juga jago nawar.”
Nina terkesiap. Sebuah ajakan yang tak terduga. Itu adalah kalimat yang belum pernah diucapkan mantan suaminya seumur hidup mereka menikah. Sebuah ide yang terasa… terlalu intim.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, Tomo melangkah lebih dekat. Ia meraih toples lada hitam, namun tangannya bersentuhan dengan tangan Nina yang juga ingin mengambil garam laut. Jemarinya masih menempel sepersekian detik di punggung tangan Nina, mengirimkan sengatan halus yang menjalar ke lengan Nina.
Sepersekian detik itu terasa seperti keabadian.
“Maaf,” kata Tomo lirih, namun tangannya tak langsung menjauh. Matanya tak lepas dari wajah Nina, seolah mencari tahu dampak dari sentuhan tak disengaja itu.
“Kenapa kamu minta maaf?” gumam Nina, agak gugup. Jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat dari biasa.
“Aku kadang… kepikiran. Apa aku ganggu hidupmu?”
Diam. Sunyi. Dan jantung Nina berdetak tiga kali lebih cepat dari biasa. Pertanyaan Tomo menghantamnya seperti ombak tak terduga. Mengganggu? Selama ini ia membangun dinding setinggi langit agar tak ada yang bisa masuk, tapi kini, Tomo, dengan polosnya, menanyakan apakah ia telah mengganggu ‘hidupnya’. Justru kehadiran Tomo yang telah membuat hidupnya yang sepi terasa lebih hidup, lebih berwarna. Dan itulah yang membuatnya takut. Takut merasakan lagi apa yang pernah ia rasakan dulu.
Belanja ke pasar menjadi kenyataan.
Pagi itu, Tomo datang dengan kaus putih bersih dan celana bahan longgar yang membuat ibu-ibu di pasar memelankan langkah, sesekali melirik dan berbisik. Nina yang biasa cuek mendadak merasa seperti sedang jalan bareng seleb t****k yang viral karena potong sayur sambil senyum manis. Ia merasa sedikit kikuk, namun juga diam-diam menikmati perhatian yang Tomo tarik.
Mereka memilih cabai bersama, membandingkan tahu terbaik, dan berebut siapa yang bisa menawar lebih murah. Tomo dengan gaya seriusnya mencoba menawar harga kangkung. “Bu, ini kangkung apa, kok mahal banget? Kangkung impor dari surga ya?” Nina hanya bisa menahan tawa, menyikut lengannya. “Mas, jangan gitu. Nanti ibunya ngasih harga buat kamu doang.” Ibu penjual hanya tersenyum maklum, sudah hafal dengan tingkah pembeli. Namun ada kehangatan yang merambat di hati Nina melihat Tomo berinteraksi dengan orang lain, seolah ia sudah menjadi bagian dari dunianya, atau sebaliknya.
Semua terasa natural… sampai satu momen di kios bawang.
"Masnya calon suami, ya?" tanya ibu penjual bawang, nyengir lebar, matanya penuh selidik.
Nina tertawa kecil, berusaha menenangkan diri. “Belum, Bu. Baru partner masak.”
“Lho, masak bareng tiap hari, itu sih udah kayak akad bumbu dapur.” Ibu penjual tergelak, memukul lengannya pelan.
Tomo mengangguk, ekspresinya serius tapi senyumnya menggoda. Matanya melirik Nina yang terpaku. “Siapa tahu nanti, Bu.”
Nina hampir menjatuhkan kantong plastik berisi kentang yang baru ia pegang. Perkataan Tomo itu terasa begitu gamblang, tanpa filter, seolah ia benar-benar memproklamirkan sesuatu. Tomo seolah sudah tak peduli lagi dengan siapa pun di sekitarnya.
Di perjalanan pulang, mereka duduk di angkutan umum yang agak ramai, bahu mereka bersentuhan pelan setiap kali mobil berbelok. Obrolan mereka semakin personal.
“Aku tuh selalu dikejar-kejar soal nikah, Mbak. Kayak hidupku cuma bisa valid kalau ada istri di rumah,” kata Tomo, matanya lurus ke depan, menerawang ke jalan yang ramai. Suaranya terdengar lelah, sebuah kejujuran yang baru ia tunjukkan pada Nina.
“Hmm. Aku ngerti rasanya,” kata Nina pelan, suaranya melembut, mengingat kembali bagaimana ia dulu merasa dihakimi. “Aku dulu juga merasa gitu. Tapi ternyata, nikah juga nggak menjamin kamu merasa utuh. Kadang justru bikin kamu makin hancur.”
Tomo menoleh, tatapannya penuh pengertian. “Aku nggak tahu kenapa… tapi kalau sama kamu, aku nggak takut denger pertanyaan itu. Rasanya… jadi punya jawaban.”
Nina menatapnya lama, lalu menoleh ke jendela angkutan umum. Pohon-pohon di pinggir jalan seolah berlari mundur, seperti waktu yang ingin ia putar kembali. Dinding yang ia bangun selama ini, dinding pelindung dari rasa sakit, kini retak. Dan retakan itu, anehnya, tidak terasa sakit. Justru seolah ada celah cahaya yang masuk, membawa kehangatan yang menakutkan sekaligus memikat. Ia terbiasa menjadi janda tangguh, dan perasaan vulnerable ini adalah sesuatu yang asing, bahkan mungkin menakutkan. Tapi di sisi lain, ada juga rasa lega. Kehadiran Tomo telah membuka pintu yang ia kira sudah terkunci selamanya. Tomo, si tukang sayur yang dulu hanya tamu, kini seolah sedang merenovasi seluruh fondasi hatinya.
Malamnya, setelah semua bahan belanjaan rapi tersimpan, dan dapur kembali bersih mengkilap, Tomo menyodorkan stroberi dari kulkas.
“Kenapa tadi beli ini?” tanya Nina, bingung. Ia tahu stroberi biasanya bukan barang jualan Tomo.
Tomo tersenyum, senyum tipis yang selalu membuat Nina deg-degan. Ia mengambil satu stroberi, memutarnya di antara jemarinya. “Katanya, rasa asam manis paling cocok dikasih ke orang yang bikin kamu deg-degan.”
Nina tak menjawab. Pipinya sedikit merona. Tapi ia mengambil satu stroberi, menggigitnya perlahan, dan menyembunyikan senyumnya di balik tangan, menikmati ledakan rasa di lidahnya.