Nina menyambut pagi dengan rambut dicepol seadanya dan daster bermotif kopi yang entah kenapa semakin pas saja di lekuk tubuhnya. Ruangan itu, yang tadinya sepi, kini lebih wangi dari biasanya—entah karena Tomo membawa bubuk kopi baru atau karena caranya menuangkan air panas ke dalam gelas yang terlihat... terlalu niat untuk seorang tamu.
“Kopi?” tawar Tomo sambil menyodorkan cangkir, uap mengepul di antara mereka.
Nina mengambilnya tanpa banyak bicara. Ia menyesap sedikit, lalu tersenyum. “Kamu mulai tahu seleraku, ya?”
“Aku hafal kadar manisnya,” jawab Tomo. “Beda sama kamu yang suka berubah-ubah tiap minggu.”
Mereka tertawa. Dapur kecil itu, yang awalnya hanya tempat pelarian Nina dari sepi, kini berubah jadi panggung kecil interaksi—tempat dua manusia bertukar tawa, keluhan, dan sentuhan halus yang makin lama makin tak bisa diabaikan.
Hari ini, Tomo membawa bahan masak sendiri—daging sapi yang sudah dimarinasi, jamur shiitake segar, dan seikat rosemary. “Tumben niat,” ujar Nina, alisnya sedikit terangkat. Bahan-bahan yang Tomo bawa terlihat mahal dan bukan tipikal yang biasa ia jual.
Tomo hanya mengangkat bahu. “Pengen masak yang beda. Biar nggak bosan.” Namun matanya tak bisa menyembunyikan kilatan kegembiraan kecil. Ia tampak bersemangat, lebih dari sekadar bersemangat untuk memasak.
Nina memperhatikan setiap gerak-gerik Tomo saat pria itu dengan sigap mengeluarkan talenan dan pisau. Ia tak pernah melihat Tomo seserius ini saat mempersiapkan sesuatu, bahkan ketika Tomo menyicil masuk ke dalam hidupnya. Ada sesuatu yang lain. Tatapan mata Tomo yang sesekali kosong, ekspresi yang sedikit lebih berat tiap kali ponselnya bergetar. Dan betul saja, di sela-sela mereka menumis bawang, ponsel Tomo berbunyi nyaring. Ia melirik sebentar, wajahnya berubah datar. Seperti ada gorden tipis yang ditarik menutupi emosinya. Lalu ia menjauh sebentar dari tempat mereka memasak, berbalik membelakangi Nina, berbicara pelan tapi cukup untuk membuat Nina menangkap nada suaranya yang sedikit tegang.
“Iya, Bu... belum, belum. Masih kerja keras... Nggak, belum kepikiran pulang... Belum ketemu yang cocok di kota, Bu. Sudah, jangan khawatir terus.”
Nina mengamati punggung Tomo. Bahu pemuda itu sedikit merosot, dan ada beban tak kasat mata yang menggantung. Nina pura-pura sibuk mengaduk tumisan, membiarkan Tomo menyelesaikan panggilannya tanpa interupsi. Jantungnya berdesir samar. Ia punya firasat bahwa percakapan itu jauh lebih dari sekadar kabar keluarga biasa. Itu adalah benang tak terlihat yang menarik Tomo ke arah tertentu, dan Nina tidak yakin dia menyukai arah itu.
Tomo kembali ke sisi Nina beberapa saat kemudian dengan senyum tipis, namun matanya tak sepenuhnya sampai. Ada kerutan halus di antara alisnya yang belum sempat hilang. “Maaf, itu... ibu.”
Nina mengangguk, tak menyinggung. Ia memilih untuk fokus pada aroma sedap daging yang mulai matang. Tapi suasana di antara mereka berubah. Ada jarak tak terlihat yang muncul, seolah percakapan Tomo tadi telah menarik separuh perhatiannya ke tempat lain. Masakan tetap enak, dagingnya empuk, sausnya pas—hasil kolaborasi yang lezat—namun ada sesuatu yang menggantung di udara. Sebuah pertanyaan yang tak terucap, tapi terasa mengendap di sela-sela percakapan ringan mereka, seperti endapan kopi di dasar cangkir.
Tomo meletakkan ponselnya di meja, layarnya terbalik. Ia tak langsung berkata apa-apa, hanya duduk diam di kursi bar dekat rak bumbu, tatapannya menerawang ke jendela dapur, seolah mencari jawaban di langit pagi. Ia tampak resah, jari-jarinya mengetuk meja dengan irama pelan.
“Kalau kamu capek, istirahat dulu,” ujar Nina, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa berat. Ia memotong tomat dengan gerakan pelan, rapi, seperti menyalurkan kegelisahannya pada irama pisau yang beradu dengan talenan.
Tomo menatapnya lama. Mata mereka bertemu. Ada keraguan di mata Tomo, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang besar, sesuatu yang sulit diucapkan. Ia menunduk sebentar, menghela napas, lalu kembali menatap Nina. “Nina…”
Nina berhenti memotong. Hanya sedikit. Tangannya memegang pisau dengan erat. Ia menunggu.
“Aku… belum pernah bawa perempuan ke rumah, kamu tahu?” Suara Tomo terdengar rendah, seperti pengakuan rahasia yang tak ingin dibagi ke dunia. “Sejak merantau, hidupku cuma di kontrakan kecil, lalu di pasar. Ibu selalu nanya, kapan nikah, kapan serius. Aku nggak pernah punya jawaban pasti. Baru sekarang, mungkin.” Suara "mungkin" itu melayang, membawa harapan sekaligus kecanggungan.
Nina tak langsung menanggapi. Ia menyingkirkan tomat yang sudah dipotong rapi ke dalam mangkuk. Ia tahu kata ‘mungkin’ itu punya bobot berat dari sebuah dilema, tapi juga punya lubang keraguan yang bisa menelan segalanya. Ia tahu betul bagaimana rasanya terpojok oleh pertanyaan "kapan nikah," atau bagaimana rasanya menjadi "solusi" bagi masalah orang lain.
“Kalau kamu belum yakin, jangan jawab siapa-siapa dulu,” katanya, kalem, suaranya mengandung sedikit kepahitan dari pengalaman masa lalunya. “Apalagi kalau jawaban itu hanya untuk menenangkan orang tua.”
Tomo mengangguk, meski pelan. Tatapannya kembali menerawang. Nina bisa melihat konflik batinnya yang belum terucap. Tomo jelas sedang memikirkan hal lain, hal yang mungkin jauh lebih besar dari sekadar masakan atau godaan pagi. Tapi kemudian, tatapannya kembali pada Nina, lebih fokus, lebih intens.
“Tapi… aku yakin satu hal,” katanya akhirnya, suaranya lebih tegas. “Aku suka masak sama kamu. Aku suka sama dapur ini. Aku suka… sama kamu.” Kalimat terakhir diucapkannya nyaris berbisik, seolah takut jika kata-kata itu terlalu lantang, ia akan kehilangan keberaniannya.
Nina tersenyum kecil, sebagian untuk menutupi desiran di dadanya. “Itu pernyataan cinta versi chef, ya?” Ia mencoba melucu, mengembalikan suasana yang mulai terlalu serius.
Tomo tertawa. Suasana yang tadi menegang sedikit mencair. Ia berdiri dan kembali ke sisi Nina, mengambil tomat dari talenan lalu mencicipinya langsung. Ada jus tomat yang menetes di sudut bibirnya. Nina hampir protes, tapi raut wajah Tomo yang bahagia dan seperti anak kecil membuatnya mengurungkan niat.
“Kurang garam,” celetuk Tomo, setelah menelan tomatnya. “Tapi manisnya pas.”
Nina menoleh, kali ini matanya langsung bertemu mata Tomo. Dekat. Terlalu dekat. Hanya beberapa inci. Napas mereka nyaris bersentuhan. Bau rempah dari masakan bercampur dengan aroma Tomo yang khas, perpaduan yang anehnya membuat Nina nyaman dan sedikit gelisah.
“Yang kamu bilang manis itu tomatnya, atau aku?” bisik Nina, sengaja mengetes, ingin tahu seberapa jauh Tomo akan berani melangkah.
Tomo tak mundur. Matanya mengunci mata Nina. “Dua-duanya. Tomatnya manis karena kamu yang potong. Dan kamu… kamu memang manis dari sananya.”
Dan sebelum Nina bisa membalas, panci di kompor mendesis keras. Air mendidih nyaris tumpah, menciptakan suara berisik yang memecah ketegangan dan menyelamatkan mereka dari kemungkinan ciuman yang terlalu dini. Nina terkesiap. “Fokus, Nak!” ujarnya sambil tertawa, nadanya campuran lega dan jengkel, lalu bergegas mematikan kompor. Tomo ikut tertawa, tawanya renyah dan penuh kelegaan.
Mereka tertawa bersama. Namun di tengah aroma bumbu dan canda, hati Nina tetap tak tenang. Perkataan Tomo tentang ibunya dan pertanyaan "kapan nikah" terus berputar di benaknya, seperti alarm yang baru saja ia dengar untuk pertama kalinya.
Sore harinya, ruangan itu sudah rapi dan kembali tenang. Aroma masakan sudah memudar, digantikan oleh aroma sabun cuci piring. Tomo pamit dengan alasan harus bertemu temannya di kedai kopi. Tapi sebelum pergi, ia sempat melirik Nina, kali ini dengan nada suara lebih pelan, lebih personal.
“Nina…”
“Iya?”
“Kalau suatu hari aku tanya pertanyaan itu lagi…”
“Pertanyaan apa?” Nina menunggu, hatinya berdebar. Ia tahu pertanyaan apa yang akan keluar.
Tomo menatapnya lurus. Ada keteguhan yang aneh di matanya, seperti seorang prajurit yang siap menghadapi pertempuran. “Kapan nikah?”
Nina tersenyum, tapi kali ini tak ada godaan di matanya. Hanya kesungguhan. Ia tahu ini bukan lagi gurauan. “Kalau kamu serius,” jawabnya, suaranya tegas namun lembut, “aku akan jawab.”
Tomo mengangguk, sorot matanya menunjukkan pemahaman dan tekad. Lalu ia berbalik dan pergi, meninggalkan Nina sendirian di dapur itu, menatap cangkir kopi yang masih hangat. Dalam diam, ia bertanya-tanya, "Apa aku siap untuk jawaban itu, atau malah takut jika pertanyaannya sungguh datang?"