Cangkir kopi yang sudah dingin, nasi uduk yang tinggal sisa remahnya, dan obrolan pagi yang santai. Cahaya matahari semakin tinggi di luar jendela dapur, menembus tirai tipis, melukis garis-garis emas di lantai kayu. Dunia di luar mungkin sibuk dengan pertanyaan "Kapan nikahnya?", tapi di dapur kecil Nina, waktu seolah berhenti, melambat mengikuti irama detak jantung mereka. Tomo merasakan kenyamanan yang tumbuh, sebuah kehangatan yang meresap jauh ke dalam tulangnya, jauh melampaui hangatnya nasi uduk atau teh yang ia sesap. Ia memandangi Nina yang kini sedang mengumpulkan piring-piring kotor, gerakan tangannya yang santai namun anggun. Daster abu-abu yang tadi pagi ia ragukan, kini justru terasa paling menawan. Itu adalah Nina, tanpa filter, tanpa topeng.
“Kamu nggak ada kerjaan hari ini, Mas?” Nina bertanya, suaranya pelan, tanpa menoleh. Ia sedang menyalakan keran air, bersiap mencuci piring.
Tomo menggeleng, “Cuti, Bu. Mau bersih-bersih rumah.”
Nina tertawa kecil, suara air yang mengalir sedikit menyamarkan renyahnya tawa itu. “Rumah yang mana? Rumah ibumu?” Ada sedikit nada menggoda dalam pertanyaannya, menguji seberapa jauh Tomo akan jujur.
Tomo terdiam sejenak. Matanya melirik punggung Nina, pada daster abu-abu yang melilit tubuhnya. “Bukan, Bu. Rumah yang lagi saya cicil.”
Nina menghentikan gerakan tangannya di wastafel. Air tetap mengalir pelan, tapi kini hanya terdengar samar. Ia menoleh perlahan, menyandarkan pinggul ke meja dapur, matanya menatap Tomo tajam. “Oh, sudah mulai cicilan ya? Sudah berapa tahun? Apa sudah DP?”
Tomo tersenyum tipis. Ini adalah permainan yang ia nikmati, sebuah tarian yang hanya mereka berdua pahami. “DP sudah, Bu. Dengan janji pagi tadi. Tapi ini cicilan pertama. Masih bingung mau masuk dari pintu mana.” Ia menatap Nina lekat, bibirnya sedikit menyungging, mengisyaratkan keberanian yang semakin tumbuh.
Nina membalas tatapan itu, senyumnya kini semakin jelas. Ia mengambil spons cuci piring, memutar-mutar di antara jari-jarinya. “Rumah ini punya banyak pintu, Mas. Ada pintu depan, pintu belakang, jendela... bahkan cerobong asap. Tergantung kamu mau masuk dari mana, dan pakai cara apa.”
“Kalau saya masuknya dari dapur, boleh, Bu?” Tomo bertanya, suaranya rendah, matanya terpaku pada tangan Nina yang memegang spons, gerakan jari-jarinya yang lentik, seolah itu adalah bagian dari sebuah adegan yang lebih intim.
Nina tertawa pelan. “Dapur itu jantung rumah, Mas. Kalau masuk dari sana, harus siap sama semua bumbunya. Ada manisnya, ada pahitnya, kadang pedasnya minta ampun.” Ia memejamkan mata sesaat, menikmati candaan itu, tapi ada keseriusan tersirat dalam setiap katanya.
Tomo berdiri, melangkah mendekat ke wastafel. Kini ia berdiri tepat di samping Nina, bahu mereka nyaris bersentuhan. Aroma sabun cuci piring bercampur dengan aroma tubuh Nina yang baru bangun, aroma daster lama, dan sedikit bau bawang dari sisa sarapan. Sebuah campuran yang aneh, namun entah mengapa, terasa begitu intim. Ia menurunkan suaranya, hampir berbisik. “Saya siap sama bumbunya, Bu. Asal bumbunya itu kamu yang racik.”
Nina menoleh, mata mereka kembali bertemu. Jarak sedekat ini membuat napas Tomo tercekat. Ia bisa melihat setiap bintik kecil di iris mata Nina, merasakan kehangatan yang memancar dari tubuhnya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri Nina, sebuah riak yang tidak bisa ia sembunyikan. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin mengucapkan sesuatu, namun tak ada suara. Hanya keheningan yang tebal, dipenuhi oleh detak jantung mereka yang kini berpacu selaras.
Tomo mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh pipi Nina, namun ia mengurungkan niat. Tangannya melayang di udara sesaat, lalu perlahan beralih, mengambil piring kotor di wastafel. Jari-jemarinya tanpa sengaja menyentuh jari Nina yang masih memegang spons. Hanya sepersekian detik, namun sensasinya menjalar seperti listrik halus.
“Biar saya bantu cuci piring, Bu,” kata Tomo, suaranya sedikit serak, matanya tak lepas dari mata Nina. Sebuah tindakan sederhana, namun di balik itu ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan.
Nina tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan Tomo mengambil alih. Mereka berdua mencuci piring dalam diam. Siku mereka sesekali bersentuhan, punggung tangan mereka bergesekan saat meraih gelas. Setiap sentuhan yang tak disengaja itu terasa disengaja, sebuah tarian intim di tengah kesibukan domestik. Tomo sesekali melirik Nina, melihat kerutan samar di keningnya saat ia fokus, atau bagaimana rambutnya yang acak-acakan jatuh ke pipinya. Setiap detail Nina, bahkan yang paling 'jelek', terasa begitu memesona.
“Kamu tahu kenapa aku suka pagi?” tanya Nina tiba-tiba, memecah keheningan yang nyaman itu, tanpa menoleh, matanya terpaku pada gelembung sabun di piring yang ia pegang.
Tomo berhenti mencuci, menatap punggung Nina, menunggunya melanjutkan. “Kenapa, Bu?”
“Karena pagi itu... jujur. Apa adanya. Nggak ada topeng. Nggak ada kepura-puraan. Semua masih mentah, belum siap disaring, belum siap dihakimi. Seperti kamu sekarang. Dan aku.” Suaranya pelan, seolah ia sedang berbagi rahasia yang paling dalam.
Tomo tersenyum tipis. Ia mengerti. Pagi itu waktu mereka paling rentan, paling jujur. Pagi itu adalah waktu di mana mereka bisa melihat esensi satu sama lain tanpa lapisan-lapisan dunia. “Itu yang bikin aku suka datang pagi-pagi, Bu. Karena aku bisa lihat yang asli.”
Piring-piring kotor sudah bersih, tertata rapi di rak pengering. Dapur kembali hening, dengan aroma sabun cuci piring yang segar dan jejak samar bawang putih. Tomo mengeringkan tangannya dengan lap bersih, lalu menatap Nina. Jarak mereka masih dekat, udara terasa tipis.
“Sudah selesai bersih-bersihnya?” tanya Nina, matanya menatap Tomo, sebuah godaan baru.
“Belum, Bu. Masih ada satu yang belum bersih.” Tomo berucap, suaranya lebih serius, tatapannya tak goyah.
Nina mengangkat alis, “Apa?”
Tomo menatap matanya dalam, lalu perlahan mengangkat tangannya. Jari-jemarinya menyentuh lembut pipi Nina, mengusap bekas noda sabun yang samar. Sentuhan itu ringan, namun mengirimkan getaran listrik ke seluruh tubuh Nina. Itu adalah sentuhan pertama yang disengaja.
“Ini, Bu,” bisik Tomo, ibu jarinya bergerak perlahan di kulit pipi Nina, merasakan kelembutan, kehangatan. "Masih ada sisa sabun."
Nina terdiam. Matanya memejam. Hembusan napas Tomo terasa hangat di pipinya. Rasa terkejut bercampur sensasi yang menyenangkan menyelimutinya. Ini bukan hanya tentang sabun, ini tentang sentuhan. Tentang batas yang baru saja mereka lewati. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri yang berpacu kencang, menyaingi degup jantung Tomo yang juga pasti sama cepatnya.
Tomo membiarkan sentuhannya bertahan sesaat, menikmati momen itu, merasakan kelembutan kulit Nina. Lalu, ia menarik tangannya perlahan. Sentuhan itu terlepas, namun jejaknya masih terasa, meninggalkan kekosongan yang samar.
“Kalau gitu, saya pamit, Bu,” kata Tomo, suaranya kembali ke nada normal, berusaha bersikap biasa, namun matanya masih menatap Nina dengan intensitas yang tak berkurang.
Nina membuka mata. Rasa hampa sesaat setelah sentuhan itu hilang terasa aneh. “Hati-hati, Mas.” Suaranya sedikit serak, ia mencoba menyembunyikan getaran yang melintasinya.
Tomo mengangguk. Ia melangkah mundur, perlahan, meninggalkan Nina yang masih terpaku di dapur. Ia tahu ia telah melangkah lebih jauh hari ini. Sebuah sentuhan, sebuah pengakuan tanpa kata. Dan ia juga tahu, ini baru permulaan dari 'cicilan' yang lebih berani.
Di luar pintu, Tomo menarik napas dalam, merasakan udara pagi yang segar. Ia bisa mencium samar aroma minyak kelapa, bawang putih, dan… Nina. Aroma yang kini seolah melingkupinya. Ia berjalan, senyum tipis terukir di bibirnya. Dunia di luar mungkin masih bertanya "Kapan Nikahnya?", tapi Tomo kini tahu, ia sedang membangun fondasi. Dan fondasi itu terasa begitu nyata, begitu kuat.