Pagi datang tanpa rencana, namun dengan kehangatan wajan yang mulai panas dan aroma bawang putih yang digoreng dalam minyak kelapa. Aroma itu menyelimuti dapur, mengusir dinginnya udara subuh. Tomo sudah duduk di meja, punggungnya bersandar nyaman pada sandaran kursi, rambutnya masih basah oleh sisa mandi pagi, beberapa helai menempel di keningnya. Uap tipis masih mengepul dari cangkir teh yang ia siapkan sendiri. Ia memperhatikan Nina dari belakang, gerakannya yang cekatan di depan kompor. Hari ini Nina mengenakan daster baru—warna biru muda lembut, kontras dengan kulitnya, dengan renda kecil di ujung lengan yang menambah sentuhan feminin. Tetap pas di lekuk tubuh, tetap menggoda tanpa banyak usaha, sebuah pesona alami yang selalu memikat mata Tomo.
“Aku bawa teh dari rumah. Mau coba?” tanya Tomo, suaranya tenang, namun ada harapan di dalamnya. Ia meletakkan termos teh kecil di meja, menggesernya sedikit mendekat ke arah Nina.
Nina melirik, hanya menggerakkan matanya, tanpa menoleh sepenuhnya. Sebuah senyum kecil tipis bermain di bibirnya. “Teh doang?” Ada nada menantang di suaranya.
Tomo tersenyum. “Teh plus niat baik.” Matanya menatap punggung Nina, menembus kain daster biru itu, seolah bisa melihat isi hatinya.
Nina tertawa kecil, renyah, memenuhi dapur. “Niat baik biasanya datangnya sore, Mas. Kalau pagi, yang datang biasanya… nafsu.” Kata terakhir itu diucapkannya dengan nada datar, namun penuh godaan.
Tomo tersedak napasnya sendiri, sebuah bunyi kagok yang tertahan. Nina tak melihat, namun ia mendengar desahan tertahan itu dari belakangnya, dan itu cukup untuk membuatnya tersenyum lebih lebar. Sebuah kemenangan kecil.
“Tenang, Mas. Aku masih bisa bedain antara godaan dan kebutuhan,” lanjut Nina, suaranya sedikit lebih berat, namun tetap santai. Ia membalik adonan di wajan dengan spatula, aroma rempah martabak yang baru menyentuh minyak langsung menguar kuat. "Tapi jangan terlalu sering pakai kaus tipis kalau ke sini. Nanti suasana dapurku bisa meleleh." Sebuah peringatan yang terdengar seperti pujian.
Tomo menunduk, bibirnya sedikit berkedut menahan senyum. Matanya melirik kaus putih tipis yang ia kenakan, menyadari betapa mudahnya siluet tubuhnya terlihat di baliknya. “Oke. Catat. Baju tebal, niat ringan.”
Nina menoleh, lalu mengedip, sebuah kedipan cepat yang penuh arti, menggoda, menantang.
“Tapi jangan terlalu tebal,” katanya, suaranya lebih lembut, nyaris seperti bisikan yang menelusup ke telinga Tomo. “Aku suka yang setengah-setengah.”
Nina menuang adonan ke wajan datar, gerakannya halus, berirama. Martabak tipis itu mulai membentuk lingkaran sempurna, permukaannya berbuih, tapi aroma rempahnya yang khas—bawang, merica, dan kunyit—memenuhi ruangan, memeluk indra penciuman Tomo. Tomo memperhatikan setiap gerakannya: lengan yang sedikit terangkat saat adonan merata, lekuk pinggang yang terbentuk ketika ia memutar tubuh untuk mengambil bumbu di rak belakangnya. Setiap detail kecil, setiap gerakan, terasa seperti tarian.
"Aku suka lihat kamu masak," kata Tomo akhirnya, suaranya jujur, tanpa filter. Matanya tidak hanya melihat masakan, tapi juga wanita di depannya.
"Karena dasternya?" Nina bertanya tanpa menoleh, sebuah senyum samar di bibirnya. Ia tahu bukan itu satu-satunya alasannya.
"Bukan hanya itu, Bu." Tomo berucap pelan, suaranya lebih dalam, mengalir seperti pengakuan. "Tapi karena kamu tahu apa yang kamu mau. Dan kamu tahu bagaimana bikin dapur ini jadi... rumah." Kata 'rumah' itu diucapkannya dengan penekanan, penuh makna, sebuah jembatan yang ia coba bangun di antara mereka.
Nina diam sejenak, spatula di tangannya berhenti bergerak. Aroma martabak yang matang mulai menghiasi udara. Ia membalik martabak, membiarkan kulitnya renyah dengan suara mendesis pelan, lalu menoleh. Matanya menatap Tomo lekat, mencari kejujuran di sana.
"Kamu bilang rumah lagi," katanya, suaranya tenang, namun ada rasa penasaran dan sedikit kegelisahan.
"Iya," jawab Tomo, mantap, tatapannya tak goyah.
"Padahal belum tentu kamu tahan kalau aku marah-marah. Aku bisa jadi naga kalau sudah marah, Mas."
"Aku tahan. Selama kamu nggak marah sambil melempar wajan. Atau barang-barang pecah belah." Tomo tersenyum, ada sedikit nada geli dalam suaranya.
Nina tergelak. Tawa yang renyah dan lepas. "Belum pernah berarti." Ia kembali fokus pada martabaknya, namun tawa itu masih menggema.
Mereka tertawa bersamaan. Sebentar, kemudian senyap kembali mengisi sela, bukan sunyi yang canggung, melainkan sunyi yang nyaman, penuh keakraban yang tumbuh.
"Aku pernah nyaris nikah," kata Nina tiba-tiba, suaranya pelan, seolah rahasia itu keluar begitu saja. Ia tidak menoleh, matanya terpaku pada martabak di wajan.
Tomo menoleh. Tubuhnya sedikit menegang. "Kapan?" tanyanya, suaranya lebih rendah, penuh perhatian.
"Empat tahun lalu. Cowoknya nggak tahan sama ibunya sendiri. Jadi nyalahin aku. Katanya janda itu selalu bikin orang tuanya malu. Selalu membawa aib." Nina berucap, suaranya datar, namun ada nada pahit di dalamnya.
Tomo mengepal tangan di bawah meja, kukunya menancap di telapak tangannya. Kemarahan itu bergejolak, namun ia menahannya. Suaranya tetap tenang, terkontrol. "Orang tuanya yang harusnya malu. Bukan kamu. Mereka yang tidak tahu harga sebuah berlian yang jatuh tapi tetap berkilau."
Nina diam. Ia mematikan kompor, memindahkan martabak ke piring. Udara terasa berat dengan pengakuan itu. Ya, bagaimana Tomo yang polos ini bisa mengerti? Mereka selalu ingin yang utuh, yang baru. Yang tanpa cela. "Kamu masih mau nyicil?" tanyanya, nada suaranya kembali menantang, mengujinya.
"Justru karena itu aku serius, Bu. Rumah yang udah pernah bocor biasanya lebih tahu kapan harus diperbaiki. Lebih kokoh setelah diperkuat." Tomo menjawab, tatapannya penuh keyakinan, sebuah janji yang tak terbantahkan.
Martabak sudah habis, hanya remah-remah di piring. Piring-piring kosong masih ada di meja, tapi Nina belum beranjak mencucinya. Ia berdiri di dekat jendela, menatap keluar. Angin lembut menggerakkan gorden krem yang hampir senada dengan kulitnya, seolah membelainya. Matanya menerawang, memproses kata-kata Tomo.
Tomo berdiri. Ia berjalan pelan ke arah Nina, lalu berhenti setengah meter di belakangnya. Cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuh Nina, namun cukup jauh untuk menghormati ruang pribadinya. Udara di antara mereka menipis.
"Aku nggak tahu harus bilang apa waktu kamu cerita soal mantanmu tadi," katanya pelan, suaranya tulus, jujur mengakui keterbatasannya.
"Ya udah. Nggak usah bilang apa-apa," jawab Nina tanpa menoleh, suaranya lembut, sebuah persetujuan diam-diam.
Tapi Tomo tetap bicara. "Cuma... aku pengen kamu tahu. Aku di sini bukan karena kamu janda. Atau karena dapurmu hangat. Tapi karena kamu bikin aku pengen pulang. Kamu itu... rumah itu sendiri." Kata terakhir itu diucapkannya hampir seperti bisikan, penuh makna yang dalam.
Nina akhirnya menoleh. Perlahan. Mata mereka bertemu. Tidak ada musik pengiring. Tidak ada pelukan. Hanya dua pasang mata yang mengerti, walau tak saling minta apa-apa. Ada arus tak terlihat mengalir di antara mereka, sebuah koneksi yang tumbuh melampaui kata-kata.
Dan untuk pertama kalinya, Nina tidak menertawai rasa itu. Rasa ingin pulang, rasa ingin memiliki, rasa ingin membiarkan seseorang masuk.
Ia mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Jarak Tomo dan Nina kini tinggal sejengkal. Aroma kopi dan bawang yang tadi memenuhi dapur kini berbaur dengan aroma kulit mereka, aroma personal yang lebih intim.
“Kalau kamu serius,” bisiknya, suaranya serak, sebuah tantangan terakhir yang ia lemparkan. “Kamu harus tahan lihat aku di pagi paling jelekku. Rambut kusut. Bau bawang. Dan daster yang mungkin belel, bolong di sana-sini.”
Tomo tersenyum. Senyumnya begitu hangat, begitu tulus, menghilangkan semua keraguan. “Itu justru versi terbaik. Karena itu kamu... yang asli. Yang paling jujur. Itu yang aku cari.”
Nina menunduk. Tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Senyum yang kini terasa begitu ringan, begitu bebas.
“Besok pagi, aku enggak akan ganti daster,” katanya. Suaranya penuh godaan, sebuah janji yang manis. “Biar kamu tahu rasanya nyicil rumah yang belum direnovasi, Mas Tomo.”
Pagi berikutnya datang dengan wangi minyak kelapa yang samar dan tubuh yang belum sepenuhnya bangun. Nina membuka pintu dengan mata setengah terbuka, rambut acak-acakan yang sebagian menutupi wajahnya, dan daster warna abu-abu yang sudah mulai pudar di bagian leher, sebuah penampakan yang ia rasa paling buruk dari dirinya.
Tomo berdiri di sana. Tersenyum. Membawa termos kecil yang mengepulkan uap tipis, dan dua bungkus nasi uduk yang diikat karet, mengeluarkan aroma rempah dan kelapa yang menggiurkan.
“Selamat pagi,” katanya, suaranya ceria, matanya penuh binar. “Aku datang nyicil lagi, Bu.”
Nina mengerjap, membiarkan matanya menyesuaikan diri. “Kamu beneran datang? Aku pikir kamu kabur setelah kemarin melihat semua kejelekan janda.”
“Janji adalah DP pertama, Bu. Dan saya orangnya taat cicilan.” Tomo berucap, penuh keyakinan.
Ia masuk ke dapur tanpa komando, meletakkan makanan di meja, dan membuka bungkusan nasi uduk dengan hati-hati. Aroma wangi nasi uduk langsung menyebar, mengisi kekosongan yang sempat ada. Nina hanya bisa mengamati, membiarkan Tomo mengambil alih. Belum sempat sikat gigi, belum sempat cuci muka. Tapi Tomo tidak tampak terganggu sedikit pun. Sebaliknya, ia seperti... bersyukur.
“Kamu tahu?” kata Tomo sambil menuang teh ke dua cangkir, kini untuk mereka berdua. “Pagi kayak gini, yang paling aku kangenin bukan makanan. Tapi pemandangan.”
“Pemandangan?” Nina memiringkan kepala, penasaran, bibirnya sedikit menyungging.
“Daster abu-abu. Mata bengkak. Suara serak. Dan... kamu.”
Nina menggeleng, namun tawanya tumpah, pelan, hangat, memenuhi dapur. Tawa yang terasa begitu ringan. Ia duduk di meja, mengambil nasi uduk.
“Kalau gitu, jangan pernah bosen sama dapur ini.”
“Selama kamu masih di sini, aku nggak akan pernah bosen. Karena dapur ini adalah kamu, Bu Nina.”
Dan pagi itu, tanpa ciuman, tanpa pelukan, mereka bersarapan di bawah cahaya matahari yang masuk dari jendela. Dunia tetap gaduh, pertanyaan “kapan nikahnya” tetap ada di luar sana. Tapi di dalam dapur kecil itu, jawabannya sudah mulai tumbuh. Pelan. Lembut. Dan sangat terasa, seperti aroma bumbu yang meresap ke dalam masakan.