Sudah hampir dua bulan sejak ketukan pertama itu memecah sunyi malam Nina. Dua bulan yang perlahan merajut rutinitas baru. Sekarang, Tomo sudah tahu persis di mana sendok diletakkan di laci ketiga, hafal kapan Nina suka kopinya tanpa gula, hanya sesendok kecil krimer, dan paham betul kapan harus segera pulang sebelum suasana menjadi terlalu tenang—atau terlalu berbahaya hangat. Sebuah kesadaran yang menari di antara mereka, tak terucap namun nyata. Tomo telah menjadi bagian tak terelakkan dari pagi Nina, sebuah kehadiran yang mengikis kesendirian tanpa pernah menuntut.
Tapi hari itu, semua berbeda.
Tomo datang tanpa kantong sayur yang biasa, tanpa jaket denim lusuhnya yang selalu jadi ciri khasnya, tanpa alasan rutin yang mereka ciptakan. Hanya dirinya sendiri, mengenakan kaus polos yang rapi, dan satu amplop kecil berwarna krem di tangan kanannya. Udara pagi terasa sedikit lebih tegang.
Nina baru saja selesai mencuci piring, tangan rampingnya masih basah. Daster hitam bermotif bunga merah terikat rapi di pinggangnya, mempertegas lekuk tubuhnya yang matang, dan rambutnya disanggul setengah, menampilkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia menoleh, menatap Tomo dengan mata menyelidik. Perubahan kecil pada Tomo tak luput dari perhatiannya.
“Tumben,” kata Nina, suaranya sedikit lebih dalam dari biasanya, mengamati amplop di tangan Tomo dengan dagunya. Ada pertanyaan tak terucap di matanya.
“Undangan,” jawab Tomo singkat, nada suaranya sedikit terbebani.
Nina mengangkat alisnya yang rapi. Senyum tipis mengembang di bibirnya, sebuah candaan yang keluar begitu saja. “Kamu nikah?” Ada nada bercanda, tapi juga secuil rasa ingin tahu yang tak bisa ia sembunyikan, sebuah kerutan samar di antara alisnya.
Tomo tertawa kecil, gugup. Tangannya menggaruk tengkuk, sebuah kebiasaan yang Nina mulai hafal. “Bukan, Bu. Teman sekantor.” Ia menghela napas, pandangannya beralih pada amplop di tangannya. “Tapi saya bingung… saya takut datang dan ditanya hal yang sama.”
Nina menghela napas, duduk di salah satu kursi dapur, gerakan daster yang mengikuti lekuk tubuhnya menarik perhatian Tomo sesaat. Matanya menatap Tomo lurus. "Kapan nikahnya?"
Tomo mengangguk pasrah, senyumnya menghilang. “Ya. Itu.” Ia mengisyaratkan pertanyaan klise tentang kapan akan menyusul, beban sosial yang sering Tomo bicarakan.
Ia meletakkan amplop undangan itu perlahan di meja, seolah benda itu membawa beban yang tak terlihat. Wajahnya sedikit muram. Lalu duduk di seberang Nina, di tempat favoritnya, kursi kayu yang menghadap jendela, tempat cahaya pagi selalu jatuh padanya.
“Semua orang sibuk nyuruh cepat-cepat kawin, tapi nggak ada satu pun yang nawarin tempat buat pulang.” Tomo berucap pelan, lebih kepada dirinya sendiri, kata-kata itu menggantung di udara dapur yang biasanya diisi aroma kopi. Matanya menerawang, seolah mencari sesuatu di luar jendela.
Nina menatapnya lama. Lurus. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya dalam pengakuan Tomo. Kerentanan yang Tomo tunjukkan, sebuah sisi baru yang belum pernah ia lihat. "Kamu cari rumah atau cari istri, Mas?" tanyanya, suaranya mengandung nada yang lebih dalam, menguji kedalaman kerinduan Tomo.
Tomo berpikir sejenak, tatapannya menerawang jauh, seolah sedang mencari jawabannya di kedalaman pikirannya sendiri. "Mungkin saya cari rumah… yang bisa bicara. Yang bisa masak, marah, ngambek, tapi nggak pernah benar-benar pergi meninggalkan. Rumah yang punya nyawa sendiri, Bu." Nada suaranya lembut, penuh kerinduan yang tulus, dan mata Tomo bertemu mata Nina, sebuah pengakuan tak terucap.
Nina diam. Sebuah keheningan yang sarat makna mengisi ruang. Ia mengambil amplop itu, membuka pelan, merasakan kertas tebalnya, dan membaca sekilas nama pengantin di sana, Ningsih dan Heru.
“Pengantin perempuannya cantik?” tanyanya, mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan ringan, namun ada sedikit provokasi dalam nada suaranya.
“Entahlah, Bu. Nggak terlalu saya perhatikan. Saya cuma lihat tanggalnya.” Tomo menjawab, mengisyaratkan ketidakpeduliannya, sebuah senyum tipis di bibirnya. Matanya tetap terpaku pada Nina, seolah hanya Nina yang menarik perhatiannya di pagi itu.
“Kenapa kamu nggak datang aja? Siapa tahu nemu yang bisa bikin kamu berhenti ngetuk pagi-pagi.” Ada sedikit nada menantang dalam suara Nina, sebuah ujian kecil yang ia lemparkan, namun ia juga merasakan getaran aneh di dalam dirinya saat mengatakannya.
Tomo menggeleng pelan, mantap, sebuah keputusan yang tak tergoyahkan. “Saya nggak mau berhenti ngetuk, Bu.” Tatapannya tegas, sebuah janji yang terucap tanpa paksaan.
Pagi itu berlalu tanpa kopi, tapi tidak tanpa makna. Setelah Tomo pulang, Nina duduk lama di meja makan. Udara terasa dingin. Undangan masih di sana, terbuka, nama pengantinnya seolah menertawainya. Namanya jelas bukan Nina, tentu saja. Tapi entah mengapa, tetap terasa seperti tamparan kecil di pipinya, sebuah pengingat akan statusnya, akan pertanyaan yang selalu menghantuinya. Ia meraih cangkir kopinya, yang kosong.
Sore harinya, Nina berdiri di depan cermin kamar. Cahaya sore yang temaram menyaring masuk, menyoroti setiap detail. Lama ia memandangi dirinya sendiri. Usia 35 tahun. Kulit yang mulai kehilangan lenturnya di beberapa tempat, tapi masih punya pesona yang matang, yang ia tahu masih bisa memikat. Daster yang sama, tapi kini menempel di tubuh yang lebih berisi dan penuh pengalaman, bukan lagi gadis muda yang rapuh. Ia menyentuh garis-garis halus di sudut matanya.
“Masih laku, nggak, ya?” Pertanyaan itu ia lempar ke cermin, tapi cermin tak pernah menjawab. Tentu saja laku, Nina, suara hatinya berbisik. Hanya saja… harga pasarnya berbeda sekarang. Bukan lagi soal kecantikan, tapi tentang seberapa berani mereka menghadapi masa lalu di belakangmu.
Malamnya, ia pergi ke pasar malam kecil di ujung kampung. Lampu-lampu lampion berwarna-warni menggantung, menciptakan suasana yang ramai dan ceria. Kali ini ia tidak mengenakan daster. Ia memilih rok panjang flowy berwarna gelap dan blus sederhana berwarna krem, rambutnya digerai, membiarkan angin malam membelai wajahnya. Tak ada alasan khusus—hanya ingin merasa seperti wanita, bukan hanya janda yang terkurung dalam rutinitas dapur dan kesendiriannya. Ia ingin menghirup udara bebas.
Ia membeli semangkuk bakso hangat, aroma kuahnya yang gurih membelai indra penciumannya, lalu es doger dingin, sensasi manis dan dingin yang menyenangkan. Kemudian ia duduk di bangku kayu dekat panggung musik kecil, menikmati suara penyanyi amatir yang membawakan lagu-lagu lama.
Seorang ibu paruh baya menyapanya.
“Sendirian, Bu?”
Nina tersenyum, senyum yang sedikit getir. “Lagi latihan.”
Ibu itu tertawa renyah, kerutan di sudut matanya terlihat jelas. “Latihan apa, Nduk?”
“Latihan nggak menjawab pertanyaan kapan nikah.”
Mereka tertawa bersama. Tawanya renyah, namun di balik itu, Nina tahu, tawa itu tidak akan cukup ketika ia kembali ke rumah yang kembali terasa hampa. Kekosongan yang Tomo tinggalkan akan tetap ada.
Tiga hari berlalu. Tanpa ketukan. Tanpa Tomo.
Nina mulai merasa dapurnya terlalu sepi. Terlalu bersih. Sepi yang dulu ia nikmati seperti kopi pahit yang menenangkan kini terasa seperti kopi yang tumpah, meninggalkan noda kosong yang tak bisa diabaikan, bau yang tak bisa dihilangkan. Ia menyalakan radio lebih keras, mengisi ruang dengan lagu-lagu pop yang tak ia kenali. Ia menyalakan kompor tanpa alasan, bahkan sengaja membakar roti agar ada bau gosong yang sedikit mengisi kekosongan, sebuah keputusasaan kecil. Perutnya mual.
Ketika akhirnya ketukan itu datang lagi — tak terlalu keras, tak terlalu yakin, seolah ragu untuk mengganggu — Nina butuh waktu dua detik lebih lama untuk membukanya. Jeda itu terasa seperti menguji kesabarannya sendiri.
Tomo berdiri di sana. Rambutnya sedikit lebih panjang, jatuh menutupi sebagian keningnya, wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, seolah ia juga merasakan dampak dari tiga hari tanpa kunjungan. Matanya cekung.
“Sakit?” tanya Nina, nadanya khawatir, sebuah perhatian yang tak bisa ia tutupi.
“Enggak, Bu. Cuma mikir.” Suaranya terdengar lelah.
“Mikir apa? Mikir janda rumahan kayak aku?” Nina mencoba mencairkan suasana dengan candaan, mencoba mengembalikan ringan.
Tomo tersenyum tipis, tulus. Matanya menatap Nina dalam, mencari jawaban di sana. “Mikir… rumah, Bu. Rumah yang selama ini saya cari.”
Ia masuk tanpa diminta, langsung menuju bangku dapur, duduk di tempat yang sudah menjadi miliknya, seolah ia tak pernah pergi. Tapi hari itu, Nina tidak membuat kopi. Ia hanya berdiri, menyandarkan tubuh ke meja, menatap Tomo lekat, membiarkan keheningan berbicara di antara mereka. Sebuah ketegangan yang baru, namun menyenangkan.
“Aku enggak mau kamu berhenti datang,” katanya pelan, sebuah pengakuan yang keluar begitu saja dari bibirnya, sebuah kelemahan yang ia tunjukkan, tak mampu ia tahan lagi. Suaranya hampir seperti bisikan.
Tomo menoleh, matanya berbinar, sebuah kejutan manis melintas di wajahnya. Ada secercah harapan yang jelas terlihat di sana. “Berarti boleh tiap hari, Bu?”
“Boleh,” jawab Nina, suaranya mengandung keraguan yang manis, sebuah janji yang ia berikan dengan hati-hati. “Tapi jangan jatuh cinta.”
“Udah.” Tomo berucap singkat, namun tegas. Suaranya rendah, tak ada keraguan.
Nina terdiam. Kata "udah" itu menggantung di udara, berat dan tak terduga, memenuhi seluruh ruangan. Sebuah pernyataan yang begitu lugas, begitu berani, membuatnya kehilangan kata-kata.
Tomo berdiri. Mendekat. Jarak mereka kini tinggal dua langkah. Udara di antara mereka menipis, dipenuhi oleh tarikan tak terlihat. Tatapannya pada Nina begitu intens, penuh gairah yang tersembunyi.
“Nina.” Tomo memanggil nama itu untuk pertama kalinya. Suaranya terdengar asing di telinga Nina, namun begitu akrab.
“Ya?” Nina menjawab, suaranya hampir tak terdengar, sebuah bisikan yang nyaris tak terdengar.
“Kalau rumah itu kamu… apa aku boleh nyicil masuk?”
Nina menatap mata Tomo. Jelas. Tenang. Tapi di balik ketenangan itu, ada riak kecil yang tidak bisa lagi ia pungkiri, sebuah gejolak yang perlahan tumbuh. Matanya menari, melihat ketulusan dan keberanian dalam sorot mata Tomo.
“Nyicil masuk, ya?” ulang Nina pelan, bibirnya sedikit berkedut, sebuah senyum tipis yang menggoda mulai terbentuk. “Cicilan berapa tahun, Mas Tomo?”
Tomo tertawa kecil, gemas, mendengar nada bermain-main dari Nina. “Nggak tahu, Bu. Tergantung pemilik rumahnya mau kasih DP berapa.” Matanya menyiratkan keseriusan di balik candaan.
“Wah, DP-nya harus kuat. Rumah ini udah pernah rusak. Udah pernah dibangun ulang sendiri, Mas. Prosesnya nggak main-main. Fondasinya butuh kesabaran ekstra.” Nina mengucapkannya dengan nada serius, tapi ada kehangatan yang tak bisa ia sembunyikan.
Tomo mengangguk, senyumnya meyakinkan, matanya menunjukkan tekad. “Saya nggak minta langsung tinggal. Saya cuma mau bantu bersihin teras dulu, Bu. Nyiram bunganya. Menyapu halaman. Pelan-pelan.”
Nina tersenyum. Kali ini, tulus. Ia berjalan ke arah kompor, menyalakannya dengan suara klik yang renyah, lalu membuka laci tempat perkakas masak. Tomo segera mendekat.
“Kalau gitu, bantuin saya masak dulu. Terasnya nanti saja. Ada banyak bumbu yang harus diracik.”
Tomo segera menggulung lengan bajunya, matanya berbinar. Dapur itu kembali hidup. Suara sendok beradu, tawa pelan yang pecah, aroma bumbu yang mulai tercium, dan wajan yang mulai panas. Tapi di tengah semua itu, ada hal yang tak mereka ucapkan—bahwa mereka berdua, sedang belajar membangun rumah tanpa rencana yang jelas, tapi dengan rasa yang semakin dalam dan nyata, bata demi bata.