Malam melarut perlahan, memeluk gang sempit tempat Nina tinggal dalam keheningan yang dalam. Hanya lampu dapur yang menyala lebih lama dari biasanya, cahayanya kuning keemasan, memancar lembut dari jendela kecil. Itu satu-satunya titik terang di halaman belakang yang kini gelap. Di dalam, Nina berdiri di depan kompor, tangannya mengusap counter bersih. Udara terasa tipis, dipenuhi keheningan yang tak biasa. Tidak ada suara ketukan pintu belakang yang familiar. Malam ini, sepi.
Ia mengenakan daster kuning yang sama, kain katun lembut yang jatuh pas di lekuk tubuhnya, tanpa celemek yang menutupi. Rambutnya hitam legam, digerai bebas di punggungnya, masih basah dan beraroma sampo herbal. Beberapa helai menempel lembut di tengkuknya. Ada harapan samar yang tak ingin ia akui, melayang di udara tipis. Ia tahu siapa yang biasanya datang, dan ketidakhadiran itu menciptakan ruang kosong yang terasa terlalu besar.
Tok. Tok. Tok.
Akhirnya terdengar. Tapi bukan dari pintu belakang. Bukan jalur rahasia mereka. Ketukan itu datang dari pintu depan. Sebuah irama yang lebih formal, lebih berani. Nina mengernyit. Siapa yang berani melanggar privasinya malam-malam begini? Jantungnya berdenyut sedikit lebih cepat, respons yang tak ingin ia akui.
Ia melangkah perlahan ke ruang tengah. Lantai kayu tua berderit pelan di bawah kakinya yang tanpa alas. Setiap langkah terasa berat, menariknya mendekati sebuah pertanyaan yang tidak ia inginkan jawabannya. Ia berhenti sebentar di ambang pintu ruang tengah, memejamkan mata sesaat, membiarkan kegelisahan kecil itu mereda.
Ia membuka pintu, hanya selebar celah. Tomo berdiri di sana, seperti bayangan yang muncul dari kegelapan. Posturnya sedikit kaku, lebih formal. Tangan kosong, tanpa kantong sayur atau bungkusan kopi. Jaket denim lusuh yang sering ia kenakan masih melekat, menutupi kaus polos di dalamnya. Udara dingin dari luar menyusup masuk, membawa aroma samar bensin dan malam.
"Malam, Bu," sapanya pelan, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. Matanya lurus menatap Nina, ada sesuatu di sana—semacam keberanian yang baru ditemukan.
Nina melipat tangan di d**a, ekspresinya datar. Pandangannya menelusuri wajah Tomo, mencari petunjuk di balik sorot matanya yang sedikit gugup namun penuh tekad. "Biasanya pagi," katanya, nadanya datar. "Tumben malam-malam? Ada apa?" Ia ingin tahu alasannya, mencoba menyembunyikan rasa penasaran.
Tomo menggaruk kepala, salah tingkah, pandangannya melayang ke samping sebentar. Kemudian kembali menatap mata Nina. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, muncul di bibirnya. "Saya cuma lewat, Bu." Jeda singkat. Ia berkedip sekali, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, "Tiba-tiba kepikiran kopi dan ... orang nya." Kalimat itu melayang di antara mereka, polos namun begitu berani. Jujur, sederhana, dan sedikit nekad.
Nina terdiam, membiarkan kata-kata itu meresap, menguji berat maknanya. Pandangan mereka bertabrakan dalam keheningan yang terasa begitu tebal, seolah ada percakapan tak kasat mata di antara dua jiwa. Matanya yang tajam mengunci mata Tomo, mencari celah, keraguan, atau kejujuran sejati. Ia merasakan denyut samar di dadanya. Tak ada kata yang terucap, namun komunikasi itu begitu kuat. Akhirnya, ia mempersilakan Tomo masuk dengan anggukan kecil. Tomo menurut, melangkah melewati ambang pintu dengan hati-hati.
Di dapur, aroma sabun cuci piring dan jejak kopi pagi yang baru dibersihkan masih samar tertinggal. Nina duduk di salah satu kursi kayu, tidak menawarkan apa-apa. Kehadiran Tomo di sana terasa berbeda, lebih pribadi. Keheningan menciptakan suasana yang lebih intim, lebih telanjang.
"Kamu serius datang cuma karena kepikiran kopi?" tanya Nina, alisnya terangkat tinggi, sebuah senyum tipis menggantung di sudut bibirnya, menguji Tomo.
Tomo menatapnya, tampak gugup namun matanya memancarkan kejujuran. Ia menghela napas pelan. "Nggak, Bu. Sebenarnya… saya kepikiran Bu Nina." Pengakuannya begitu polos, yang justru membuat Nina terhenyak.
Nina membalas tatapan itu tanpa senyum. Lurus. Tajam. Lama. Matanya menyusuri setiap detail di wajah Tomo, mencari yang tersembunyi. Ada begitu banyak tembok yang bisa ia bangun, namun kali ini ia membiarkan keheningan itu berlama-lama. Akhirnya, ia berdiri, gerakannya lambat, meraih gelas dari rak atas.
"Air putih aja, ya? Kopi malam-malam bikin jantung deg-degan," katanya ringan, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, sedikit serak di akhir kalimat. Matanya menatap Tomo, sebuah pengakuan samar tentang kegelisahan yang ia rasakan. Jantungnya memang berdegup lebih cepat, dan ia tidak suka itu.
Tomo menerima gelas itu, jari-jarinya menyentuh dinginnya kaca. Ia menyesapnya sedikit, lalu terdiam. Ia membiarkan kata-kata Nina meresap, memahami pesan tersembunyi. Matanya tak lepas dari Nina.
"Kamu pernah pacaran sama janda?" tanya Nina mendadak, suaranya memecah keheningan dengan nada yang lebih serius dan menantang.
Tomo tersedak pelan air putih di mulutnya. Ia berdeham, menatap Nina dengan mata membulat. "Belum pernah, Bu."
"Kalau begitu, jangan terlalu sering datang ke sini, Mas. Nanti kamu suka. Bahaya." Ada peringatan di nadanya, namun juga sebuah tantangan, sebuah keraguan di balik kata-katanya.
Tomo menurunkan gelasnya perlahan ke meja. Pandangannya tak lepas dari Nina, tatapannya kini lebih tegas. "Kalau sudah terlanjur suka… gimana, Bu?" Sebuah pertanyaan polos, namun menggantungkan beban berat di udara.
Nina menghela napas panjang, memalingkan wajah ke jendela gelap. "Janda itu bukan genre yang gampang dimengerti, Mas. Kadang kami hangat, kadang kami dingin. Kadang kami butuh seseorang, kadang kami ingin semuanya menjauh. Kami punya masa lalu yang tak bisa dihapus, tembok yang tak mudah dirobohkan, dan kebebasan yang terlalu berharga untuk ditukar dengan ilusi kebahagiaan." Suaranya terdengar jauh, mengungkapkan kerentanan yang jarang ia tunjukkan.
Tomo mengangguk pelan, mencoba memahami setiap kata. Ia tidak menjawab, tahu bahwa saat ini kata-kata hanya akan merusak momen. Hanya duduk diam, membiarkan keheningan bekerja.
"Masih mau datang besok pagi?" tanya Nina akhirnya, memecah keheningan yang canggung, menoleh menatap Tomo.
"Mau, Bu." Jawaban Tomo tegas, tanpa keraguan.
"Walau saya bilang jangan terlalu sering?" Nina mengujinya lagi, bibirnya sedikit menyungging.
"Malah pengen lebih sering, Bu." Tomo membalas, tatapannya penuh tekad, senyum tipis di bibirnya.
Kali ini, senyum tipis muncul di bibir Nina. Sebuah keretakan kecil di benteng emosinya, menyiratkan kesenangan tak terduga. Matanya berbinar sekilas, sebuah kilatan 'hidup' yang Tomo belum pernah lihat.
Malam itu, Tomo tidak berlama-lama. Ia pulang tanpa pelukan, tanpa sentuhan, tanpa kepastian fisik. Namun ia membawa sesuatu yang lebih berharga: izin diam-diam untuk tetap datang, sebuah tanda bahwa ia telah berhasil menembus sedikit lapisan pertahanan Nina.
Pagi berikutnya, ketukan itu datang lebih awal. Pukul 05.30. Cahaya subuh yang masih samar menyusup.
Nina membuka pintu tanpa daster. Ia mengenakan kaus longgar putih pudar dan celana pendek selutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Rambutnya terikat tinggi dengan cepol asal-asalan. Aroma sabun dan kesegaran pagi menguar dari dirinya.
"Pagi," sapa Tomo canggung, menyodorkan kantong sayur hijau yang sedikit basah oleh embun. Matanya menatap Nina, mencoba mengartikan penampilan barunya.
"Taruh saja di meja. Saya belum bikin kopi," kata Nina, suaranya serak khas bangun tidur. Ia melangkah mundur, memberi Tomo ruang untuk masuk.
Tomo mengikuti masuk, melangkah hati-hati. Dapur terasa hangat. Aroma sayuran segar berpadu dengan sisa kopi semalam. Nina berdiri di dekat jendela, menyibak tirai tipis, membiarkan cahaya pagi jatuh ke pipinya.
"Kamu yakin mau terus kayak gini?" tanya Nina tiba-tiba, memecah keheningan pagi, tanpa menoleh.
Tomo mendekat, tidak terlalu dekat. "Saya nggak tahu kita ini apa, Bu. Tapi saya tahu, saya nyaman. Sangat nyaman. Lebih dari yang pernah saya rasakan dengan siapa pun."
Nina tersenyum samar. "Nyaman itu jebakan, Mas. Seringkali ia datang sebelum kita menyadarinya, lalu mengikat kita tanpa kita punya pilihan."
Tomo menggeleng pelan, pandangannya lurus ke punggung Nina. "Saya tahu, Bu. Tapi saya juga tahu, kalau saya berhenti datang ke sini… saya bakal lebih tersiksa. Rasanya seperti menarik napas dalam air."
Sunyi mengalir sebentar, sarat dengan pengakuan tak terucap. Nina meraih cangkir keramik dari rak. Kali ini hanya satu.
"Cuma satu, Bu?" tanya Tomo, suaranya sedikit kecewa.
"Saya lagi pengen egois," jawab Nina, tatapannya menggoda saat ia menoleh. "Bikin buat diri sendiri dulu."
Tomo tidak tersinggung. Ia duduk diam di bangku dapur, tangannya bertumpu di paha. Ia tahu, tidak semua bentuk kasih sayang harus disambut segera. Kadang, keheningan adalah bahasa paling jujur. Ia menunggu, mengamati Nina.
Cangkir Nina sudah setengah kosong, uap tipis masih mengepul, saat akhirnya ia bicara lagi. Aroma kopi pekat memenuhi dapur.
"Kamu tahu kenapa aku nggak menikah lagi?" tanya Nina, suaranya tiba-tiba serius, menatap pantulan dirinya di jendela.
Tomo mengangkat bahu. "Kenapa, Bu?"
"Karena aku terlalu suka hidup seperti ini, Mas. Bangun pagi tanpa suara siapa-siapa. Dapur cuma buat aku. TV kecil. Musik radio. Semua tenang. Bebas. Seperti burung yang lepas dari sangkar yang terlalu lama mengurungnya." Ada kerinduan mendalam di suaranya.
"Lalu kenapa aku boleh masuk ke dalam ketenangan itu, Bu?" tanya Tomo, nada suaranya lembut, namun penuh ingin tahu.
Nina mengangkat alis, menantang Tomo. "Karena kamu tahu kapan harus diam, Mas. Kamu tahu kapan harus memberi ruang, dan kapan harus sekadar hadir tanpa menuntut."
Tomo tersenyum kecil, merasakan gelombang kebahagiaan samar. "Berarti aku boleh datang terus, Bu?"
"Boleh. Tapi jangan berharap dapur ini akan berubah jadi ruang keluarga," kata Nina, memperingatkan, tatapannya tegas namun matanya berbinar.
Tomo berdiri, mendekat selangkah. "Kalau berubah jadi ruang hati, Bu?" Bisikannya lembut, namun penuh harapan.
Nina tertawa. Tawa yang lama tak terdengar di dapur itu, kini renyah, hidup, dan bebas. Sebuah suara yang memenuhi ruangan, mencairkan dinginnya pagi, dan membuat hati Tomo menghangat. "Gombalmu murahan, Mas. Tapi lumayan bikin pagi ini hidup."
Ia meneguk sisa kopinya hingga tandas, lalu menatap Tomo tajam, namun dengan kehangatan tak bisa ia sembunyikan. Tatapannya kini lebih lembut, sebuah undangan tak terlihat.
"Jangan jatuh cinta ya, Mas."
Tomo melangkah mundur. Ia menatap wajah Nina yang setengah serius, setengah menantang. "Kalau sudah terlanjur, Bu?"
Nina menunjuk pintu belakang dengan dagunya, namun tidak menyuruh Tomo pergi. Ada jeda panjang, diisi gema pertanyaan Tomo yang tak terjawab. Dan Tomo tahu, itu bukan usiran. Itu hanya caranya Nina memberi ruang—dengan tetap menutupnya perlahan, seperti daun pintu yang tak terkunci, bukan menguncinya rapat-rapat.