'Aku akan menuliskan hal itu dengan jelas,' kataku. 'Tidak akan kusebut masalah selesai.'
Ia kemudian berkata, setelah bantuan mendesak dibagikan dan cara distribusi dipastikan, ia bersedia membuka percakapan resmi dengan orang-orang yang ingin ikut mendengar. Itu belum berarti mereka akan menerima tawaran pindah. Mereka ingin mendengar informasi lengkap, bertanya, lalu meminta waktu mempertimbangkan.
Aku menyetujui tahap itu. 'Kami akan datang untuk menjelaskan dan menjawab. Tidak akan ada batas waktu yang dibuat untuk memaksa keputusan.'
'Jangan bicara atas nama kami,' katanya.
'Aku akan berbicara atas nama timku saja.'
Pertemuan ditutup dengan rencana pertemuan berikutnya setelah pihak Kyaa menentukan siapa yang ingin hadir dan kapan mereka siap. Tidak ada daftar peserta yang kami minta. Tidak ada tanda tangan. Yang ada hanya kesediaan untuk melanjutkan percakapan dengan syarat yang lebih jelas.
Kyaa meminta agar undangan pertemuan berikutnya disampaikan melalui dirinya, bukan disebar oleh tim ke tempat tinggal warga. Ia ingin orang-orang dapat memilih hadir tanpa merasa diawasi. Aku menyetujuinya dan meminta Jayen mencatat cara komunikasi itu. Ia bertanya apakah kami memerlukan jumlah peserta untuk menyiapkan ruang. Aku menjawab kami bisa menanyakan perkiraan tanpa nama setelah waktu ditentukan; kebutuhan teknis tidak memberi alasan untuk mengumpulkan identitas sebelum diperlukan.
Sebelum meninggalkan lokasi, Jayen membacakan kembali ringkasan yang akan dikirim kepada tim di pesawat: bantuan telah diserahkan, kebutuhan lanjutan belum diketahui, dan tidak ada keputusan relokasi. Kyaa mendengar ringkasan itu dan membetulkan satu kata yang menurutnya bisa terdengar seolah bantuan berikutnya sudah dijanjikan. Jayen mengganti 'akan dikirim' menjadi 'akan dimintakan'. Aku berterima kasih kepadanya. Perbedaan kecil itu mencegah kami menjual kepastian yang belum kami miliki.
Dalam perjalanan kembali, Jayen menyebut itu kemajuan. Aku mengingatkannya bahwa kemajuan bukan berarti hasilnya harus sesuai harapan Frontier. Ia tertawa kecil, lalu berkata ia akan menuliskannya sebagai 'pembicaraan berlanjut, keputusan belum ada.'
Aku menyetujui kalimat itu. Ketika kembali ke pesawat, aku menyampaikan kepada tim bahwa tahap pertama misi ini bukan tentang membawa orang ke Mars. Ini tentang memastikan mereka dapat mengatakan ya atau tidak tanpa kelaparan, senjata, atau janji palsu yang mendorong jawaban mereka.
Di ruang komunikasi, aku mengirim laporan terbaru kepada Baron. Kali ini aku melampirkan permintaan tambahan bantuan dan syarat warga tentang transparansi. Aku tidak tahu apakah ia akan menganggapnya sebagai keberhasilan. Namun, aku tahu apa yang harus kutulis bila ia bertanya: belum ada yang setuju pindah, dan pembicaraan akan berlanjut hanya jika mereka menghendakinya.
Untuk saat ini, itu satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan dengan jujur.
Aku tidak akan menyebut keterbukaan sebagai keberhasilan sebelum tindakan kami membuktikannya.
Hari ke-4 misi dimulai dengan balasan Baron. Jayen membacakannya pelan-pelan di ruang komunikasi. Jenderal itu menyetujui bantuan tambahan diminta melalui Kesatuan, tetapi ia menginginkan perkiraan jumlah orang yang mungkin berangkat ke Mars. Aku menyuruh Jayen menunda jawaban. Kyaa belum mengadakan percakapan resmi, dan kami tidak mempunyai hak untuk menghitung warga sebagai calon penumpang.
'Kalau kita menolak semua pertanyaan tentang jumlah, mereka akan bilang kita menghambat perencanaan,' kata Jayen.
'Kita boleh memberi perkiraan logistik setelah warga memilih membicarakan perjalanan. Sekarang yang kita tahu hanya jumlah persediaan kita sendiri.'
Ia mengangguk dan mengirim balasan bahwa permintaan jumlah calon penumpang belum dapat dijawab. Aku juga meminta agar laporan tambahan membedakan jumlah penerima bantuan dari jumlah orang yang mungkin mempertimbangkan Mars. Dua hal itu tidak boleh dicampur dalam tabel yang sama.
Tak lama kemudian, pesan Kyaa masuk. Ia meminta bertemu di tempat sebelumnya untuk menjelaskan kebutuhan mendesak yang telah ia dengar dari beberapa keluarga. Ia belum menyebutnya sebagai rapat relokasi. Aku menyetujui waktu yang ia usulkan dan meminta Anna membawa daftar persediaan, bukan formulir kesediaan pindah.
Dalam pertemuan kecil itu, Kyaa menjelaskan bahwa satu kiriman pangan hanya menolong sementara. Ia tidak ingin kami membagi makanan berdasarkan siapa yang paling cepat datang atau siapa yang mengenal tim. Ia meminta cara yang lebih adil, tetapi menegaskan bahwa ia tidak bisa menentukan sendiri siapa yang paling membutuhkan.
'Kalau kalian memutuskan dari luar, orang akan curiga kalian memilih keluarga yang mau ikut ke Mars,' katanya.
'Itu masuk akal,' jawabku. 'Bagaimana kalian biasanya membagi bantuan ketika jumlahnya terbatas?'
Ia mengatakan mereka akan berdiskusi dengan orang-orang yang mengetahui keadaan keluarga masing-masing. Ia tidak memberikan nama atau alamat. Aku tidak memintanya. Kami membahas kemungkinan mengirim beberapa wadah dalam jumlah yang sama ke lokasi penyimpanan yang ditentukan warga, lalu mereka memutuskan pembagian sendiri.
Anna menjelaskan jumlah yang bisa dipisahkan dari stok pesawat. Angkanya masih terbatas. Kyaa bertanya apakah bantuan tambahan sudah pasti datang. Aku menjawab belum. Permintaan baru dikirim ke Kesatuan, tetapi belum ada konfirmasi. Aku bisa menyampaikan kabar apa adanya dan tidak lebih.
'Jadi, yang ada sekarang tidak cukup untuk semua kebutuhan,' katanya.
'Benar.'
Ia tidak tampak puas, tetapi aku mendengar ia menghargai jawaban yang tidak dibungkus janji. Ia bertanya apakah bantuan itu dapat diberikan tanpa sesi foto. Aku memastikan tidak ada dokumentasi gambar. Catatan jumlah tetap diperlukan untuk menjaga transparansi, tetapi tidak perlu merekam wajah atau nama penerima.
Kyaa berkata ia akan menyampaikan cara tersebut kepada warga yang ia temui. Jika mereka bersedia, ia akan menghubungi kami dengan jumlah wadah dan tempat yang dapat diterima. Aku mengingatkan bahwa mereka tidak harus menerima seluruh usulan kami. Ia menjawab, 'Bagus. Jangan datang membawa keputusan yang sudah selesai.'
Pertemuan usai setelah ia memeriksa kembali jumlah di daftar. Ia membawa salinan untuk dibahas, tetapi tidak menandatangani apa pun. Aku membiarkannya pergi tanpa meminta perkiraan waktu jawaban.
Di pesawat, Jayen menanyakan bagaimana kami bisa meminta tambahan bantuan tanpa mengetahui jumlah warga. Aku mengatakan kami dapat meminta dukungan untuk kapasitas logistik berdasarkan kebutuhan yang diketahui, bukan berdasarkan dugaan tentang jumlah orang yang mau pindah. Jacklyn menyarankan agar permintaan mencakup perlengkapan kesehatan dasar serta air, bukan hanya makanan.
Ia menegaskan bahwa ia belum memeriksa siapa pun dari wilayah itu. Daftar perlengkapan yang ia susun adalah kemampuan tim, bukan diagnosis terhadap penduduk. Aku meminta kalimat tersebut ikut dicatat. Kami tidak akan menyebut penyakit tertentu tanpa pemeriksaan dan izin.
Sore hari, pesan dari Kesatuan menyatakan permintaan tambahan sedang ditinjau. Tidak ada tanggal pengiriman. Aku membaca pesan itu lewat Jayen dan mencatat batasnya. Kami dapat membantu sesuai stok yang tersedia, tetapi tidak dapat menjanjikan pasokan rutin.
Menjelang malam, Kyaa mengirim kabar bahwa beberapa warga bersedia membahas pembagian bantuan pada hari berikutnya. Ia belum memastikan siapa yang akan hadir. Aku menjawab bahwa kami akan menunggu daftar jumlah wadah dan lokasi, tanpa meminta nama. Untuk pertama kalinya, ada langkah yang disepakati selain percakapan satu lawan satu, tetapi belum ada keputusan tentang Mars.
Sebelum beristirahat, aku meminta Jayen menyiapkan dua salinan daftar stok. Satu akan tetap berada di pesawat, satu lagi bisa dibawa Kyaa untuk dibandingkan dengan barang yang diterima. Aku tidak ingin salinan itu menyebut jumlah keluarga atau siapa yang mendapat bagian. Jayen bertanya apakah kami perlu mencatat waktu penyerahan. Aku menjawab ya, selama catatan itu berkaitan dengan barang dan bukan identitas warga.
Jacklyn lalu menjelaskan bahwa daftar perlengkapan kesehatan harus dipisahkan dari daftar pangan. Ia tidak ingin seseorang mengira obat atau pemeriksaan hanya tersedia jika mereka berbicara tentang Mars. Aku meminta semua anggota tim mengulang aturan itu sebelum giliran tugas dimulai. Anna menyarankan agar kotak kesehatan tetap tertutup sampai ada permintaan. Itu disepakati.
Malam itu aku meninjau pertanyaan yang mungkin muncul dalam pembicaraan berikutnya. Jayen mencatat bahwa kami belum mengetahui berapa lama bantuan tambahan akan tertunda. Aku tidak menuliskan perkiraan. Aku hanya menandai hal yang harus ditanyakan kepada Kesatuan: kapan keputusan logistik dibuat, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah bantuan dapat terus disalurkan tanpa perundingan relokasi. Besok, Kyaa berhak mendapat jawaban yang sama jelasnya seperti yang kami berikan kepada Baron.
Sebelum tidur, aku mengecek bahwa balasan kepada Kyaa tidak menyiratkan bahwa kami akan datang tanpa undangan. Pesannya hanya berisi kesediaan menunggu dan daftar stok. Aku meminta Jayen menyimpan salinan komunikasi itu di arsip misi. Ia berkata sudah melakukannya, lalu membaca kembali catatan hari itu: belum ada rapat relokasi, belum ada calon penumpang, dan bantuan tidak bersyarat. Aku menyetujui setiap kalimat sebelum ia menutup berkas.
Aku mematikan sambungan setelah memastikan tidak ada pesan baru yang perlu segera dijawab.