Hari-hari berlalu begitu saja, seolah-olah aku dan Anya berada dalam rutinitas yang tak terhindarkan. Namun, semakin lama, semakin aku merasakan ada sesuatu yang salah, meskipun kami masih tinggal bersama di apartemen yang sama. Kami masih makan malam bersama, masih berbicara tentang hal-hal kecil, tetapi ada jarak yang tumbuh di antara kami, jarak yang tidak bisa kututupi dengan segala kemewahan dan kebiasaan.
Anya bukanlah Anya yang dulu. Tatapannya seringkali kosong, seperti ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya. Ia tidak lagi tertawa lepas seperti saat kami pertama kali bertemu. Suaranya tak lagi melantunkan candaan ringan yang dulu selalu membuatku tersenyum. Aku merasa seolah-olah ia mulai menjauh dari diriku, tetapi aku tidak tahu mengapa.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah a