Aku selalu percaya bahwa hidup adalah tentang menang dan kalah. Bahwa mereka yang lemah akan tersingkir, dan hanya yang terkuat yang akan berdiri di puncak. Itulah prinsip yang selalu kupegang. Dan aku? Aku yakin aku adalah pemenangnya.
Aku menyesap kopiku perlahan, membiarkan aromanya memenuhi ruangan apartemenku yang luas. Di seberang meja, Anya duduk dengan rambut tergerai, sibuk dengan ponselnya. Dia masih secantik dulu—mata teduh yang pernah membuatku tergila-gila, bibir yang selalu membuatku ingin mencium setiap katanya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Dulu, ketika aku mengejarnya, ada gairah yang membara di antara kami. Aku ingat bagaimana ia menatapku dengan ragu saat pertama kali aku mulai mendekatinya. Saat itu, dia masih istri Bayu, sahabatku. Tapi aku tidak peduli. Aku