"Dari mana saja kamu?"
Langkah Sajaka terhenti. Baru saja beberapa langkah ia lewati ruang tengah yang dikira sepi. Ternyata sang ayah yakni Deka menunggu di sana. Deka berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapan Sajaka memerhatikan penampilan putra bungsunya dengan seksama.
"Apa yang kamu kerjakan di luar sampai baru pulang jam segini?" tanya Deka lagi.
Pandangan Sajaka masih belum sepenuhnya tertuju pada Deka. Ubin lantai seolah lebih menarik perhatian Sajaka.
"Sajaka, Papa bertanya sama kamu."
Tetap saja tidak didapatkan jawaban. Sajaka hanya mendongak, menatap langsung netra Deka. Namun dari tatapan sayu itu, Deka cukup mengetahui putranya kelihatan sangat lelah. Jam dinding menunjukan angka 10 ketika Deka menoleh. Jika ada Selin di situ, pasti masalah ini akan panjang lebar sampai