“Oke,” Kevin mengendikkan bahu.
Setelah itu barulah perasaan Sajaka sedikit lebih tenang. Ia hanya akan menunggu surel dari Kevin dan secepatnya pulang sekolah akan ia periksa.
Lima belas menit kemudian kegiatan belajar dan mengajar di setiap kelas telah dimulai. Ponsel Sajaka di atas meja layarnya menyala. Ada notifikasi surel masuk dari Kevin.
Sungguh, kali ini hanya dengan melirik notifikasi masuk di layar ponsel menyala saja mampu mengombang-ambing perasaan Sajaka. Ia menjadi sangat gelisah. Ditambah pelajar pagi itu adalah matematika. Biasanya ia paling cepat belajar dan mengerjakan soal. Tidak dengan pagi itu. Sajaka seorang kehilangan jiwa Einstein-nya.
Sadina yang duduk di sampingnya saja terheran-heran. Sajaka tampak begitu cemas. Pelipisnya juga muncul keringat. Sadina jadi c