POV Mannaf
Saat aku terbangun perlahan membuka mataku,ku lihat sekeliling tampak di d******i warna putih dan berbau obat-obatan.Tangan kananku juga terdapat jarum infus.Aku mencoba mengingat kenapa aku bisa sampai di ruangan ini,tapi rasanya aku tak sanggup malah kepalaku terasa sakit banget.
Tak jauh dari posisiku,ku lihat ada seorang ibu paruh baya,dia terlihat sedih dan khawatir.
Setelah ibu itu melihatku membuka mata,dia tampak senang.Akupun bertanya padanya.
"Apa yang terjadi, kenapa saya disini? Siapa anda?"aku bingung karena keberadaannya bersama ibu paruh baya itu tapi aku tak mengenal ibu tersebut.
"Tenang sayang,ini ibu nak.Apa kau tak mengenali ibu?"dia terlihat sedih tampak berkaca-kaca,perlahan bulir air matanya menetes di pipinya."Tunggu sebentar,aku panggilkan dokter!"ucapnya lagi.
Tak lama dokter masuk beserta suster yang memeriksaku.Beberapa pertanyaan dari dokter tentang apa yang aku rasa dan semaunya di catat oleh suster yang mendampinginya.Dokter menanyakan namaku,tapi aku tak mengingatnya.
Sepasang suami istri juga ada di ruangan ini.Dokter menunjuk mereka dan aku di tanya apakah mengingat mereka.Jujur di ruangan ini tak ada yang aku kenal.Setelah aku menjawab pertanyaan dokter secara langsung mereka semua seolah memperkenalkan diri masing-masing.Disini aku seperti diantara orang asing, entahlah aku tak ingat orang di sekelilingku.
Dokter menyarankan agar aku banyak istirahat dan makan yang teratur serta tidak di perbolehkan memaksa mengingat hal yang terjadi.Jadi intinya aku harus nurut pada orang di sekelilingku terutama sepasang paruh baya itu yang ternyata orang tuaku.
Setelah dokter keluar,ibu mengambilkan makanan yang telah tersedia di atas meja.Aku tak menolak karena aku juga merasa lapar.Ibu menyuapiku dengan telaten."Habiskan makanannya ya, setelah itu minum obatnya biar cepat pulih."lagi-lagi aku tak menurut.
Saat bangun dari tidur siang ku,tak tahu entah kapan datangnya,ada gadis muda yang sedang ngobrol dengan ibu di sofa.Setelah melihatku terjaga gadis itu mendekat dan menyapa.
"Hei,,,gimana keadaanmu?Apakah butuh sesuatu?"ucap gadis itu menampilkan senyumnya.
"Alhamdulillah baik-baik aja,kamu siapa?"rasanya aku tak mengenalnya.
"Man,,kamu lupa dia Hana gadis yang belakangan ini dekat denganmu,bukankah beberapa bulan ini kamu menjalin hubungan dengannya?Pasti kamu juga lupa ya? Bagaimana jika bulan depan kalian tunangan saja?"jawab ibu menjelaskan tentang gadis itu.
Jadi gadis itu Hana,yang katanya pacarku.Sungguh aku sama sekali tak mengingatnya.Ok lah mungkin itu memang kenyataannya,aku tak tahu kebenarannya karena aku tak mengingat."Tunangan?Tapi Bu, apa itu tidak terlalu cepat?Biarkan kita jalani aja dulu"aku pikir suatu hubungan perlu di pertimbangkan karena itu berhubungan tentang masa depan.
"Aku rasa tidak,bukankah hal baik memang harusnya di segerakan?Gimana menurutmu Han?Apa kamu keberatan?"
"Aku sich terserah Man aj tante."jawab Hana dengan menundukkan wajah dan tampak malu-malu.
"Kamu dengarkan sendiri kan,Hana tak masalah dalam hal ini.Nanti aku akan bicarakan dengan ayah dan menemui orang tua Hana.Tenang saja kami akan mempersiapkan semuanya.