Jika hatimu ikhlas sesungguhnya kesedihanmu itu petunjuk menuju perbaikan yang memantaskan bagi kebahagiaanmu.
Meskipun tahu Mannaf dalam keadaan amnesia,tapi Riska ingin memastikan dan melihat secara langsung meskipun itu tak bisa merubah keadaan.
Saat Riska memasuki ruang perawatan,Mannaf lagi menonton tv yang acaranya menayangkan komedi.Riska berjalan perlahan mendekat sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Tentu saja saat itu Mannaf menampilkan wajah yang ceria karena cerita yang lucu dari acara tv tersebut,sehingga tak menyadari jika Riska datang.
Riska mengucapkan salam kembali agak mengeraskan suaranya.
"Assalamualaikum."
Barulah Mannaf menoleh sambil menjawab salam.
"Wa'alaikumsalam,siapa kamu?Ada perlu apa disini? kening menampilkan wajah bingung merasa tak mengenal.
"Aku Riska kak,apa kak tak mengingatku?Bagaimana keadaan kakak?"
"Riska?Riska siapa?Aku tak merasa mengenalmu,bahkan aku baru bertemu saat ini."
"Aku pacarmu kak,sambil memperlihatkan beberapa foto kebersamaan mereka yang ada di hp.Apa kakak ingat sekarang?"tanya Riska berharap Mannaf mengingat nya.
"Kamu jangan mengada-ada,mengarang cerita kata ibuku aku akan bertunangan bulan depan dengan Hana.Kamu jangan mengaku-aku jadi pacarku.Pasti kamu berbohong."ucap Mannaf menampilkan wajah terkejut sekaligus bingung.
"Kak,aku jujur,aku tak mengarang cerita.Lagi pula tak ada niat dan tak ada untungnya membohongimu kak,lihatlah gelang ini juga pemberianmu,terdapat ukiran nama kita disitu,"ucap Riska sambil memperlihatkan gelang yang di pakainya.
Mannaf yang melihat gelang dan foto-foto dirinya bersama Riska menjadi bingung dan mencoba mengingat tapi malah merasakan sakit di kepalanya yang tak tertahan.
Melihat Mannaf yang kesakitan Riska segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
Setelah dokter datang ke ruang perawatan tersebut,Riska keluar dengan wajah sedih,takut bercampur rasa bersalah.
Melihat dokter memasuki ruang perawatan Mannaf dan Riska yang keluar menimbulkan pertanyaan dari Ridho dan Adit.Ridho mendekati Riska langsung menanyakan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi Ris,kenapa dokter datang tergesa-gesa padahal jadwal seharusnya sudah tadi jam tujuh."
"Maafkan aku kak,ini salahku.Bukan maksud untuk memaksanya mengingatku,aku hanya ini menjelaskan jika aku kekasihnya.Dia sama sekali tak mengingatku,malah aku di tuduh mengarang cerita."ucap Riska sambil berderai air mata.
"Apa saja yang kau katakan padanya?"
"Aku hanya bilang kalau aku pacarnya dan memperlihatkan bukti foto kebersamaan kita.Tapi dia malah bilang bulan depan akan tunangan dengan Hana."
"Apa?Hana?Siapa itu?Apa kamu mengenalnya Dit?"
"Aku tak begitu mengenalnya tapi aku sudah pernah beberapa kali bertemu,dia anak dari teman tante Rika.Apa mungkin Mannaf di jodohkan dengannya ya?Pantas saja kemarin Hana beberapa kali menjenguk Mannaf."
"Riska sebaiknya kita pulang,tak akan baik berlama-lama di sini,tante Rika pasti akan segera datang kesini.Aku khawatir kamu di salahkan terus.Lagi pula Mannaf butuh waktu beristirahat,Mannaf tak mampu menerima semua kenyataan yang tak di ingatnya.Semuanya butuh proses,biarkan otaknya mencerna dengan perlahan."
"Tapi kak,gimana keadaan kak Mannaf sekarang?Aku memperburuk keadaan.Nanti di kira aku lari tanggung jawab."ucap Riska tampak sedih dan bersalah.
"Sudahlah,do'akan saja semua akan baik-baik saja,lagi pula dokter bisa mengatasinya.Terus kamu mau di sini di salahkan dan di maki-maki tante Rika sebagai wujud tanggung jawabnya gitu? Pasti tante Rika juga akan marah dengan Adit juga karena membiarkan kamu bertemu Mannaf.Apa kamu tak berfikir sampai kesitu?"ucap Ridho panjang lebar.
"Kalau begitu baiklah kak,tak ada pilihan lain.Makasih kak Adit,sudah memberi kesempatan untuk bertemu kak Mannaf.Makasih juga kak Ridho yang sudah membantu dalam hal ini.Maaf merepotkan kak Adit dan juga kak Ridho,aku permisi kak.Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam,ok tak masalah."ucap Adit dan Ridho bersamaan.
"Ini sudah malam,biar aku antar.Aku keluar dulu nanti aku kesini lagi !"ucap Ridho sambil berjalan mengikuti Riska hingga jalan berdampingan.
Riska yang menyadari Ridho mengikutinya berucap"aku bisa pulang sendiri kak,kakak tak perlu mengantar.Lagi pula ini belum terlalu malam dan jalanan masih ramai kok".
"Apa kamu yakin?Bagaimana bisa aku membiarkan kamu pulang menangis sepanjang jalan,apa yang akan orang pikirkan,melihat kau menangis pasti akan menimbulkan orang untuk berbuat jail bahkan bisa berbuat buruk terhadapmu.Lagi pula apa kamu bisa mengemudikan motor di perjalanan sambil menangis begitu,apa nanti tidak salah arah?"
"Makasih kak atas pengertiannya,apa yang harus aku lakukan?Aku bingung kak,hal yang aku rasa bisa membuka jalan ingatannya malah memperkeruh keadaan."hiks hiks.
"Ris,tenangkan hati dan pikiranmu.Berdo'a saja semoga semua berjalan lancar.Jangan terlalu bersedih dan menyalahkan diri sendiri.Percayalah pasti akan ada jalan.Kita harus memahami jiwa Mannaf terlebih dahulu,berikan suasana yang nyaman untuk menyampaikan sesuatu hal secara perlahan,semua butuh proses.Untuk saat ini Mannaf tak mampu menerima semua kenyataan secara instan."
"Tapi kak,aku tidak punya kesempatan untuk mendekatinya,apa kakak lupa?Orang tuanya melarangku.Disamping itu dia tak mengingatku jadi mustahil bisa dekat seperti dulu.Lagi pula bulan depan dia tunangan, otomatis waktuku sudah terbatas."
"Ris, jangan putus asa begitu.Tak ada yang mustahil,Alloh bisa membolak-balikkan hati seseorang dalam sekejap.Apa kau meragukanNya?Ris,yakinlah kebenaran akan selalu terungkap."
"Baik kak, terima kasih atas support dan nasehat yang banyak membantuku.Aku merasa berhutang budi padamu kak."
"Hei,,, kamu masih kelas satu SD?"tanya Ridho sambil mencolek kening Riska.
"Apa hubungannya kak?"tanya Riska menampilkan wajah bingung.
"Lha tadi membahas budi, budi.Itukan pelajaran kelas satu SD.jika kamu lupa
"ini budi.
ini ibu budi
ini adek budi.he he he
Riska ikut tertawa sambil mencubit pinggang Ridho,"kakak bisa aj." he he he
Melihat Riska tertawa tanpa sadar Ridho bergumam,meskipun Riska mendengarnya.
"lha gitu kan bersinar"
"bersinar apanya kak?"
"senyumnya masak matahari kan sekarang malam"ucap Ridho cengengesan.