“Di, aku mau ganti baju aja,” rengek Yuta sepanjang perjalanan dari tempat kos mereka menuju hotel. Gadis itu merasa gaun yang dipakainya hari ini terlalu berlebihan. Bukan saja karena potongannya yang cukup terbuka di bagian bahu dan punggung, tetapi modelnya pun terlalu mewah. Yuta merasa penampilannya akan terlalu mencolok, padahal dia bukan bintang di acara hari ini.
“Enggak boleh, Ta!” Fadi menggeleng tegas.
“Kenapa kamu ngotot banget suruh aku pakai baju ini?” keluh Yuta jengkel. Dia paling sebal dengan sikap Fadi yang sering memaksakan kehendak.
Hari ini, Yuta diminta menemani sang kekasih mendatangi acara ulang sepupunya yang diadakan di salah satu hotel mewah Jakarta. Berhubung sepupu Fadi Batara berasal dari kalangan selebritas juga, tentu akan banyak orang hebat yang hadir. Fadi bahkan sudah menyebut tiga nama yang biasanya cuma Yuta lihat di layar televisi.
“Kamu harus kelihatan bagus,” ucap Fadi lagi sambil membetulkan spion. “Ini bukan acara kampung, Ta.”
Yuta menoleh tajam. “Maksudnya aku biasanya kelihatan kampungan?”
“Bukan gitu.”
“Terus gimana?”
“Ta, aku lagi nyetir.”
“Jawab dulu.”
Fadi menghela napas panjang, dan itu satu-satunya jawaban yang Yuta dapatkan sepanjang sisa perjalanan.
***
Hotel itu jauh lebih besar daripada yang Yuta bayangkan.
Karpet di lobinya tebal sampai suara langkah kaki hilang. Pilar-pilarnya dilapisi sesuatu yang memantulkan cahaya. Dan di depan pintu ballroom, ada dua orang yang memeriksa nama tamu di tablet dengan senyum yang jelas sudah dilatih.
Yuta menarik ujung gaunnya ke bawah untuk yang kesepuluh kali.
“Berhenti narik-narik.”
“Ini kependekan.”
“Itu memang modelnya.”
“Di.”
“Ta, tolong.” Fadi meraih tangannya dan menahannya. “Sekali ini aja, jangan bikin ribut.”
Sesuatu di dalam dada Yuta terasa ditekan.
Sekali ini aja.
Fadi sudah mengucapkan kalimat itu empat kali bulan ini.
***
Di dalam, Yuta merasa seperti seseorang yang salah masuk pintu.
Semua orang di ruangan itu tampak saling mengenal. Mereka bertukar cium pipi, tertawa dengan volume yang tepat, dan memegang gelas dengan cara yang membuat Yuta sadar bahwa dirinya memegang gelasnya dengan cara yang salah.
Fadi meninggalkannya dua kali dalam dua puluh menit pertama.
Yang pertama untuk menyapa seseorang. Yang kedua untuk berfoto.
Yuta berdiri di dekat meja minuman, memandangi es di gelasnya yang perlahan mengecil.
“Sendirian?”
Yuta menoleh.
Seorang perempuan seumurannya berdiri di sana dengan gaun hitam sederhana—satu-satunya orang di ruangan ini yang pakaiannya lebih sederhana daripada Yuta.
“Iya,” jawab Yuta.
“Pacar?”
“Hm?”
Perempuan itu mengangkat dagunya ke arah kerumunan. “Kamu dibawa pacar, kan?”
“Kok tahu?”
“Karena kamu berdiri kayak orang yang lagi nungguin izin buat pulang.”
Yuta tertawa untuk pertama kalinya malam itu.
“Aku Nadine.”
“Yuta.”
“Kamu kenal siapa di sini?”
“Cuma pacarku.”
“Sama.” Nadine menyeruput minumannya. “Saranku, jangan jauh-jauh dari pintu.”
Yuta mengerutkan kening. “Kenapa?”
Nadine menoleh, dan senyumnya berubah sedikit.
“Nggak apa-apa,” jawabnya. “Cuma kebiasaan.”
***
Fadi kembali pukul sepuluh lewat.
Ada yang berubah dari wajahnya. Yuta tidak bisa menunjuk bagian mana persisnya—hanya saja pemuda itu tersenyum terlalu banyak, dan tidak satu pun senyumnya sampai ke mata.
“Kamu udah makan?” tanya Fadi.
“Belum lapar.”
“Makan dulu.”
“Di, aku capek.”
“Ya sudah, nanti aku bawa kamu istirahat.”
Yuta menoleh cepat. “Istirahat? Kita pulang?”
“Sebentar lagi.”
“Di.”
“Sebentar lagi, Ta.”
Fadi mengambil gelas dari tangan Yuta dan meletakkannya di meja, lalu menggenggam tangannya.
Telapak tangan pemuda itu berkeringat.
Fadi tidak pernah berkeringat.
***
Sepupu Fadi yang berulang tahun akhirnya muncul pukul sebelas, disambut tepuk tangan dan lampu sorot dan tiga fotografer sekaligus.
Yuta ikut bertepuk tangan karena semua orang bertepuk tangan.
Dan di antara kerumunan itu, ia menangkap sesuatu.
Seorang pemuda berdiri agak jauh dari pusat perhatian, bersandar ke pilar, memegang gelas yang jelas belum disentuh sama sekali.
Ia tidak melihat ke arah panggung.
Ia melihat ke arah Yuta.
Bukan tatapan genit yang biasa Yuta terima di acara-acara semacam ini. Bukan juga tatapan menilai.
Pemuda itu menatapnya seperti seseorang yang sedang mencoba mengenali bau yang samar-samar familiar.
Kening Yuta berkerut. Ia memalingkan wajah.
Ketika ia menoleh lagi tiga puluh detik kemudian, pemuda itu sudah tidak ada di sana.
***
“Di.”
“Hm?”
“Siapa cowok yang berdiri di deket pilar tadi?”
Fadi menoleh terlalu cepat. “Yang mana?”
“Yang tinggi. Jasnya abu-abu.”
Wajah Fadi berubah.
Sepersekian detik, tapi Yuta melihatnya.
“Nggak ada siapa-siapa di pilar, Ta.”
“Ada.”
“Kamu capek.”
“Di, aku lihat orangnya.”
“Yuta.” Fadi menoleh sepenuhnya, dan nada suaranya sudah berubah. “Kamu capek. Ayo istirahat.”
Yuta menatap pacarnya.
Dua tahun. Dua tahun ia mengenal Fadi Batara, dan selama dua tahun itu ia sudah hafal semua versi wajah pemuda ini: yang sedang berbohong soal hal kecil, yang sedang merajuk, yang sedang pura-pura tidak cemburu.
Yang sekarang berdiri di hadapannya bukan salah satu dari itu.
Yang sekarang berdiri di hadapannya adalah wajah orang yang takut.
“Di.”
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-napa.”
“Kamu keringetan.”
“AC-nya kurang dingin.”
Yuta melirik ke sekeliling ruangan yang jelas-jelas sangat dingin sampai beberapa tamu perempuan menyampirkan pashmina di bahu mereka.
“Di—”
“Ayo.” Fadi menggenggam tangannya lagi, kali ini lebih erat. “Aku antar kamu istirahat.”
Dan untuk alasan yang tidak bisa Yuta jelaskan sama sekali, kalimat itu membuat tengkuknya dingin.