“Ta, ikut aku!” Fadi menarik tangan Yuta sedikit, padahal pesta malam itu belum berakhir.
“Mau ke mana?” tanya Yuta curiga. Sikap Fadi terlihat agak berbeda dan pemuda itu tidak berani menatap matanya.
“Istirahat.” Sesuai janjinya kepada Lauritz, Fadi akan membawa Yuta ke kamar kakak sepupunya itu.
“Kenapa kita malah naik, Di?" Kecurigaan Yuta makin bertambah saat Fadi membawanya keluar dari lift di lantai 20, bukannya menuju basemen.
“Kita memang bukan mau ke mobil,” sahut Fadi acuh tak acuh.
Seketika itu juga Yuta langsung menghentikan langkahnya. “Kamu mau bawa aku ke mana?”
Fadi menarik tangan Yuta lebih kuat. Ketika gadis itu berkeras bertahan, dia menyeretnya dengan kasar. “Kamu bilang kamu capek dan mau istirahat, ‘kan?”
“Kamu mau apa, Di?” protes Yuta marah. Dia berusaha merenggut tangannya, tetapi cengkeraman Fadi tidak bergeming sedikit pun.
“Lepasin!”
“Ta, jangan bikin ribut di sini.”
“LEPASIN, DI!”
Beberapa pintu kamar di sepanjang koridor lantai dua puluh itu tetap tertutup. Tidak ada yang keluar. Tidak ada yang mendengar—atau tidak ada yang mau mendengar.
Fadi berhenti di depan pintu paling ujung dan menekan bel.
“Di, aku serius. Aku mau pulang sekarang.”
“Sebentar aja.”
“SEBENTAR APA?”
Pintu terbuka.
Dan Yuta langsung mengenali pemuda yang berdiri di baliknya.
Jas abu-abu. Gelas yang tidak disentuh. Orang yang menurut Fadi tidak ada di dekat pilar.
“Kamu bohong,” bisik Yuta.
Fadi tidak menjawabnya.
“Masuk,” ucap pemuda itu. Suaranya tenang, tanpa ketergesaan sama sekali.
“Aku nggak mau masuk.”
“Ta—”
“AKU NGGAK MAU MASUK, DI!”
Yuta memutar pergelangan tangannya sekuat tenaga, dan kali ini berhasil. Ia mundur tiga langkah ke tengah koridor, kedua tangan terangkat di depan tubuh.
“Kalian ini kenapa, sih?” Suaranya bergetar sekarang, campuran marah dan takut yang tidak bisa dipisahkan lagi. “Di, kamu bawa aku ke kamar orang jam sebelas malam terus nyuruh aku masuk?”
Fadi memalingkan wajah.
“Lauritz cuma mau ngobrol.”
“NGOBROL APA?”
“Ta—”
“Aku tanya ngobrol apa!”
“Cukup, Fadi.”
Suara itu datang dari ambang pintu.
Pemuda bernama Lauritz melangkah keluar ke koridor, dan Yuta secara refleks mundur satu langkah lagi.
Lauritz berhenti.
Ia memperhatikan gerakan mundur itu, lalu—tanpa berkata apa pun—mundur satu langkah juga, kembali ke ambang pintu, sehingga jarak di antara mereka kembali seperti semula.
“Aku tidak akan menyentuhmu,” ucapnya.
“Kamu pikir aku bakal percaya?”
“Tidak.” Lauritz menyandarkan bahunya ke kusen. “Aku tidak akan percaya kalau aku jadi kamu.”
Yuta mengerjap.
Jawaban itu... bukan jawaban yang ia siapkan bantahannya.
“Fadi,” lanjut Lauritz tanpa menoleh, “kamu boleh pergi.”
“Tapi—”
“Kamu. Boleh. Pergi.”
Yuta menoleh ke arah pacarnya.
Dan menyaksikan sesuatu yang, bertahun-tahun kemudian, masih akan ia ingat sebagai momen ketika sesuatu di dalam dirinya patah tanpa suara.
Fadi Batara menunduk.
Lalu berbalik.
Lalu berjalan pergi menyusuri koridor tanpa menoleh sekali pun.
“DI!”
Langkah itu tidak melambat.
“FADI!”
Pintu lift terbuka. Fadi masuk.
Dan sebelum pintu itu tertutup, Yuta sempat melihat wajah pacarnya untuk terakhir kali malam itu—basah, merah, dan sama sekali tidak berani mengangkat mata.
***
Koridor itu sunyi.
Yuta berdiri di tengahnya dengan gaun yang terlalu mewah, sepatu yang membuat tumitnya perih, dan tas kecil yang bahkan tidak muat untuk memuat dompetnya sendiri.
“Kamu punya uang?” tanya Lauritz.
Yuta menoleh dengan tatapan membunuh.
“Bukan urusanmu.”
“Berarti tidak.”
“AKU BILANG BUKAN URUSANMU!”
Lauritz mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang sangat wajar.
“Ponselmu?”
Yuta membuka tas kecilnya.
Kosong.
Tentu saja kosong. Fadi yang memegang ponselnya sejak tadi, karena katanya gaun ini tidak punya saku dan tas Yuta terlalu kecil.
Sesuatu yang panas naik ke matanya.
“Jangan menangis di koridor,” ucap Lauritz. “Ada CCTV.”
“TERUS KENAPA KALAU ADA CCTV?”
“Karena kalau kamu menangis di sini, besok pagi videonya akan ada di internet, dan yang akan disalahkan orang-orang bukan Fadi.” Ia mengangkat bahu. “Melainkan kamu.”
Yuta membuka mulut untuk membantah.
Lalu menutupnya kembali.
Karena Lauritz benar, dan Yuta membenci betapa benarnya pemuda itu.
***
“Masuk, atau turun.”
Yuta menoleh.
Lauritz menunjuk pintu kamar dengan ibu jarinya, lalu menunjuk lift dengan telunjuknya.
“Kalau kamu masuk, aku duduk di sofa dan kamu di kamar, dan pintunya kamu yang kunci dari dalam.” Ia berbicara dengan nada seseorang yang sedang membacakan pilihan menu. “Kalau kamu turun, aku panggilkan mobil dan sopir untuk mengantarmu pulang. Tapi aku tidak ikut, karena kamu jelas tidak mau berada di ruangan tertutup denganku.”
Yuta menatapnya lama.
“Kenapa kamu ngasih pilihan?”
“Karena Fadi tidak.”
Kalimat itu mendarat lebih keras daripada yang seharusnya.
“Kenapa kamu minta Fadi bawa aku ke sini?” tanya Yuta pelan.
Lauritz tidak langsung menjawab.
“Karena aku mencium sesuatu,” ucapnya akhirnya.
“…apa?”
“Tidak apa-apa. Lupakan."
"Jangan suruh aku lupa," potong Yuta. "Kamu bikin pacarku ninggalin aku di koridor hotel jam sebelas malam. Aku berhak tahu alasannya."
Lauritz memandanginya cukup lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak pintu itu terbuka, ekspresi pemuda itu berubah menjadi sesuatu yang bukan ketenangan.
Sesuatu yang jauh lebih mirip kebingungan.
“Aku juga sedang berusaha mencari tahu,” jawabnya.
“Kamu nggak tahu?”
“Tidak.”
“Kamu bikin semua ini tanpa tahu alasannya?”
“Ya.”
Yuta menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa—tawa yang keluar salah, terlalu tinggi, hampir menjadi sesuatu yang lain.
“Kalian orang kaya emang gila semua ya.”
“Sepertinya begitu,” jawab Lauritz.