Perkataan Lauritz awalnya membuat Yuta melongo. Namun, setelah beberapa saat keterkejutannya berubah menjadi kekesalan. Wajahnya tampak tidak terima dengan keinginan Lauritz yang tidak masuk akal. "Apa-apaan kamu?"
"Kenapa kamu tiba-tiba marah?" balas Lauritz tenang.
"Kenapa kamu sembarangan memutuskan akan bawa aku pulang?" tuntut Yuta tidak terima.
Lauritz tersenyum tidak peduli. "Mau aja."
"Aku enggak mau ikut sama kamu!" bantah Yuta geram.
"Enggak ada pilihan, kamu harus ikut."
"Kamu enggak punya hak buat bawa aku!"
Alih-alih terganggu dengan penolakan Yuta, Lauritz malah mendengkus geli. "Penculik juga enggak punya hak membawa orang yang diculik, tapi tetap dilakukan karena dia enggak butuh izin."
Sikap Yuta makin waspada mendengar kata ‘penculik’. "Memangnya kamu penculik?"
"Bukan," jawab Lauritz santai. "Tapi prinsipnya sama."
"ITU SAMA SEKALI BUKAN JAWABAN YANG MENENANGKAN!"
"Aku memang tidak sedang berusaha menenangkanmu."
Yuta mengerang dan menjatuhkan diri ke sofa kamar hotel itu.
Semalaman.
Ia sudah semalaman di sini, tidur di kamar dengan pintu terkunci dari dalam sesuai janji, dan Lauritz memang benar-benar tidur di sofa ruang tamu suite itu tanpa sekali pun mengetuk.
Pagi ini, hal pertama yang dikatakan pemuda itu setelah mengucapkan selamat pagi adalah bahwa Yuta akan ikut pulang ke rumahnya.
"Dengar." Yuta menegakkan punggungnya. "Aku punya kos. Aku punya kerjaan. Hari Senin aku harus masuk."
"Sekarang hari Sabtu."
"ITU BUKAN INTINYA!"
"Kamu akan tetap masuk hari Senin. Aku yang mengantar."
"Aku nggak minta diantar!"
Lauritz mengangkat cangkir kopinya. "Kamu juga tidak minta ditinggal di koridor semalam."
Mulut Yuta terkatup.
Itu pukulan yang tidak adil, dan pemuda itu jelas tahu.
***
"Kenapa," ucap Yuta akhirnya, "kamu peduli?"
"Aku tidak peduli."
"Terus kenapa kamu maksa?"
Lauritz meletakkan cangkirnya.
"Berapa harga kamar kosmu sebulan?"
"Apa hubungannya?"
"Jawab saja."
"Delapan ratus ribu."
"Deposit?"
"Satu bulan."
"Kamu punya tabungan berapa?"
"Kamu ini kenapa sih—"
"Yuta." Lauritz menoleh. "Fadi memegang ponselmu. Ponselmu berisi mobile banking, kontak keluargamu, dan seluruh percakapan kerjamu."
Yuta membeku.
"Semalam kamu tidak bisa menelepon siapa pun. Bukan karena kamu tidak punya siapa-siapa," lanjut pemuda itu, "melainkan karena kamu tidak hafal satu pun nomor mereka."
Yuta membuka mulut untuk membantah.
Dan sadar bahwa ia tidak hafal nomor ibunya sendiri.
"Aku hafal nomor mama aku," ucapnya lemah.
"Sebutkan."
Yuta menyebutkan enam digit pertama, lalu berhenti.
Ruangan itu sunyi.
"Nah," ucap Lauritz.
"Berhenti bilang 'nah' seolah kamu menang."
"Aku memang menang."
"KAMU—"
"Aku menang argumennya, bukan menang atas kamu." Ia berdiri dan berjalan ke jendela. "Dua hal yang berbeda, dan aku ingin kamu ingat bedanya, karena selama beberapa hari ke depan kamu akan sering marah kepadaku."
***
Yuta tetap menolak selama empat puluh menit berikutnya.
Ia menolak dengan alasan pekerjaan. Ia menolak dengan alasan kos. Ia menolak dengan alasan bahwa ia bahkan tidak punya baju ganti.
Lauritz menjawab semuanya dengan tenang, satu per satu, dan pada akhirnya Yuta kehabisan alasan bukan karena dikalahkan, melainkan karena lelah.
"Aku punya satu syarat," ucapnya akhirnya.
"Sebutkan."
"Ponselku."
Lauritz mengangkat sebelah alisnya.
"Fadi masih pegang ponselku," lanjut Yuta. "Aku mau ponselku balik. Hari ini juga."
"Selesai."
"Jangan bilang 'selesai' kayak itu gampang."
"Itu memang gampang."
"Kamu bahkan belum nelepon dia."
Lauritz mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor, dan menempelkannya ke telinga.
Diangkat pada dering pertama.
"Fadi." Jeda. "Ponselnya." Jeda. "Sekarang." Jeda. "Di lobi, lima belas menit."
Ia menutup telepon dan memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Yuta menatapnya.
"Itu... itu kasar banget."
"Kamu mau aku sopan kepada orang yang meninggalkanmu di koridor?"
Yuta tidak menjawab.
***
Ponsel itu tiba tiga belas menit kemudian, diantar oleh seorang pengawal, di dalam kantong kertas hotel.
Tidak ada Fadi. Tidak ada catatan. Tidak ada apa pun.
Yuta menyalakannya di dalam mobil.
Dua ratus tiga puluh satu notifikasi. Sebagian besar dari grup kerja.
Dan tiga pesan dari Fadi, semuanya dikirim pukul dua pagi.
Fadi: maaf ta
Fadi: aku terpaksa
Fadi: nanti aku jelasin
Yuta membaca ketiganya.
Lalu ia menutup layarnya, menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, dan memandangi jalanan Jakarta yang lewat.
"Kamu tidak membalas?" tanya Lauritz dari kursi seberang.
"Enggak."
"Kenapa?"
Yuta memandangi bayangan wajahnya sendiri di kaca.
"Karena dia nulis 'aku terpaksa'," jawabnya pelan. "Bukan 'aku salah'."
Lauritz tidak berkomentar.
Tetapi Yuta melihat, dari pantulan di kaca jendela, bahwa pemuda itu mengangguk satu kali—pelan sekali, seperti seseorang yang baru saja mencatat sesuatu.