Sebenarnya Adis hanya merasakan pusing ringan saja. Dia pucat karena kurang makan dan kurang tidur. Bukan hal yang serius. Namun, ketika Beno menawarkan dia untuk istirahat di ruangannya, mana mungkin dia menolak.
Saat ini Adis sudah berbaring di sebuah kamar yang ada di ruangan Beno. Dia sengaja menyediakan kamar di sana, karena seorang workaholics seperti dia perlu tempat untuk istirahat di dalam kantor.
Kamar itu tidak terlalu besar, hanya berukuran 5 * 6 saja. Namun, penataannya yang begitu apik, membuat kamar itu tampak luas. Hanya ada tempat tidur, sebuah almari kecil, meja kecil di samping tempat tidur, tempat menjemur handuk, serta sebuah laci entah apa isinya.
"Ini coklat hangatnya. Kamu bangun dulu," Beno membawa secangkir minuman coklat yang sudah hangat itu.
"Nanti aja."
"Sekarang! Biar kau cepat baikan."
"Sebenarnya aku tak apa-apa sih, cuma laper aja kayaknya."
"Lapar? Jadi kamu sampai pucat seperti itu hanya karena lapar. Ya Tuhan, kenapa sekarang kamu yang koret sama diri kamu sendiri. Tunggu di sini."
"Lo dodol apa gimana sih. Mana mungkin gue selera makan setelah kejadian kemarin. Lo pikir mudah melepaskan lo sama tunangan Lo yang belum tentu baik itu. Sudah kubilang dia punya cowok lain, tapi kau malah tak percaya."
"Yang kau lihat itu sepupunya. Makanya kalau nggak tahu apa-apa itu cari tahu dulu. Diam disini jangan kemana-mana."
Beno menampakkan wajah kesal, lalu dia segera pergi ke mejanya. Dia memesan 5 kotak pizza premium untuk Adis. 30 menit kemudian, pesanan Beno datang. Entahlah, rasanya ada yang nyeri di ulu hatinya saat tahu aja sampai pucat seperti itu hanya karena belum makan sejak kemarin.
"Bangunlah, ini kubelikan pizza untukmu."
Adis menoleh, menatap 5 kotak pizza yang ada di tangan Beno.
'Sekarang udah jadi mantan, tapi kenapa kau royal? Ah … ingin rasanya memutar waktu,' keluh Adis pada dirinya sendiri.
"Aku masih sedikit pusing. Enggan untuk bangun."
"Ya udah makan aja sambil tidur."
"Gimana mau makan? Belepotan lah kalau makan sendiri."
"Terus?" Beno hanya mengerutkan alisnya.
"Ya aku pengen tiduran aja. Kalau kamu ingin memasukkan makanan itu kedalam mulutku, kamu tahu kan caranya? Sudah lupa ya?"
Adis kesal, dia sudah berusaha untuk memancing tetapi ternyata laki-laki itu sama sekali tak peka.
Beno membuang nafas kasar. Akankah dia menyuapi Adis? Ada pergolakan batin sekarang. Antara dia menyuapi adis atau membiarkan Gadis itu kelaparan. Atau dia harus menyuruh langit untuk datang ke ruangannya? Ah, tapi kenapa rasanya Beno tidak rela jika Langit harus ke ruangan ini sekarang.
Setelah perdebatan batinnya yang cukup ketat, akhirnya dia memutuskan untuk menyuapi Adis.
Dia mengambil sepotong pizza, lalu diambil potongan kecil kira-kira cukup untuk satu kali suapan, dan mengarahkannya ke mulut Adis.
"Buka mulut."
Adis tersenyum, lalu membuka mulutnya lebar. Akhirnya, dia bisa kembali disuapi oleh tangan yang dulu selalu menjadi penguat baginya.
"Mau minum!" ucap Adis lirih. Biarlah. Mumpung dia belum resmi menjadi suami orang, boleh kan Jika Adis sedikit bermanja?
Beno membungkukkan badannya, mencoba untuk membantu Adis duduk. Tangannya dia letakkan dibawah tengkuk Adis. Kini, wajah mereka sangat dekat. Beno menghentikan pergerakannya. Dia menatap Adis Dengan jarak yang sangat dekat. Dia bisa kembali merasakan deru nafas Sang mantan kekasih. Aroma parfum lembut dan manis itu, masih sama dengan yang dulu.
"Wijaya!!!!"
Terdengar sebuah teriakan membahana dari ruangan kerja Beno. Kebetulan mereka memang tidak menutup pintu kamar, sehingga Rossi bisa dengan jelas adegan yang kelihatannya romantis itu.
Beno langsung melepaskan tangannya dengan cepat, lalu buru-buru menghampiri Rossa yang sedang berdiri tak jauh darinya dengan muka dan mata memerah.
Sementara Adis, dia hanya kaget sejenak. Kemudian, dia santai. Biarlah dua makhluk itu berdebat, itu menguntungkan baginya.
"Jadi ini kelakuan kamu kalau aku nggak ada! Iya!"
Rossi berteriak keras. Ditatapnya wajah Beno dengan penuh amarah. Rasanya dia ingin menampar wajah laki-laki yang selalu memanjakannya itu. Tangannya mengepal, dia menoleh kearah Adis, yang malah duduk dengan santai sambil menyeruput coklat hangat buatan Beno.
"Sayang, tenangkan diri dulu. Nanti aku akan menjelaskan semuanya. Yang jelas, apa yang kamu pikirkan itu tidak sesuai dengan faktanya. Ayo duduk dulu! Kita bicara dengan kepala dingin."
"Tak ada kepala dingin untuk membicarakan kelakuan kalian di belakangku! Kau lihat dia … bahkan dia enak-enakan duduk di kamar kamu sambil menyeruput minuman? Dia fikir dia siapa?"
Rossi berteriak kencang. Adis tetap berusaha untuk tenang, meskipun dia sedang dibicarakan oleh mereka berdua. Dia akan semakin pusing dan pucat jika ikut memikirkan perdebatan mereka berdua.
"Dia sedang sakit. Aku terpaksa membawa dia ke kamarku."
"Apa fungsi ruang kesehatan? Hah? Apa?"
Rossi tetap tak terima. Saat ini Beno tak bisa menjawab apa-apa. Karena faktanya memang ada ruang kesehatan dan dia lebih memilih untuk membawa Adis ke kamarnya. Supaya Adis bisa merasa lebih nyaman, dia bisa tetap mengawasi Adis. Dari dulu, Dia adalah orang yang paling panik ketika melihat adis sedang sakit. Ternyata itu masih sampai sekarang. Dia tetap saja khawatir meskipun saat ini status mereka hanya sebagai mantan kekasih.
"Ross, Aku tahu kamu cemburu. Tapi, kau juga harus berpikir logis dong. Mana mungkin aku mau kembali sama mantan. Kau tahu sebesar apa rasa benciku terhadap mantanku. Kau juga tahu, bahwa aku tak akan membaca novel yang sama berulang-ulang, karena aku tahu endingnya akan seperti apa."
Beno meraih tangan Rossi yang amarahnya mulai mereda. Dia menggenggam tangan itu erat, dan menatapnya dengan tatapan yang dalam. Meskipun rosi belum sepenuhnya bisa mendepak adis dari dalam hatinya, tetapi Beno tetap berusaha untuk mempertahankannya. Karena Rossi sudah hadir sebagai pengobat rasa sakitnya karena penghianatan Adis.
Adis menelan ludahnya saat mendengar kata-kata Beno.
'Sabar, sabar, sabar, memang seperti itu kenyataannya. Aku harus sabar,' ucap Adis pada dirinya sendiri.
"Serius kamu enggak akan balik lagi ke dia?"
"Serius. Kamu harus percaya sama aku."
"Ya udah kalau begitu sekarang kamu pecat dia! Kalau kamu hanya menginginkan sekretaris yang cakap, kamu bisa pakai jasa aku. Kau tahu kan secakap apa aku?"
"Rossi, aku tak bisa memecatnya tanpa alasan yang jelas. Perusahaanku perusahaan yang bonafit. Bagaimana kalau sampai terdengar di luar bahwa ada sekretaris yang dipecat hanya karena rasa cemburu?"
Sekarang Rossi yang harus menahan emosinya. Ya, dia harus main cantik. Rossi lagi-lagi memaksakan sebuah senyum palsu.
"Baiklah, jika memang itu alasannya. Semoga kamu memang bisa dipercaya. Aku cuma mau membicarakan soal pertunangan kita, tetapi karena keadaan nya seperti ini, moodku hilang. Suruh gadis itu pindah ke ruang kesehatan segera. Aku permisi."
Rossi meninggalkan ruangan Beno begitu saja dengan perasaan jengkel.
Beno membuang nafas lega. Paling tidak, hubungannya dengan Rossi aman-aman saja setelah kejadian tadi.
Untuk menghindari fitnah, akhirnya mau tidak mau Beno harus menelepon langit, memintanya untuk menemani Adis.
***
"Tadi kamu kepergok berdua di kamar ini sama Beno?"
Langit duduk di tepi tempat tidur, sambil menatap Adis yang saat itu sedang makan pizza dengan lahapnya.
"Iya. Gitu aja cemburu. Lebay," ucap Adis, lalu kembali menggigit pizza yang masih tersisa di tangannya.
Langit tertawa kecil. Dia memandang Adis yang katanya sakit tetapi tetap lahap menghabiskan pizza, tidak tampak seperti orang sakit sama sekali.
"Adis, lain kali jangan seperti itu. Kamu tahu kan kalau mereka akan bertunangan? Sekarang saatnya kamu menyerah. Jangan lagi menunjukkan pada Beno kalau kamu masih menyukainya. Sikapmu yang seperti itu malah membuat Beno semakin ilfil sama kamu. Lupakan! Acuh saja, kalau memang dia masih ada hati sama kamu Dan kalau memang dia adalah jodoh kamu, pasti dia akan kembali."
"Cieee … yang udah jomblo 1 tahun sok-sokan nasehatin," cibir Adis dengan mulut yang masih penuh dengan Pizza.
"Kamu jomblonya lebih lama, pasti sudah lupa rasanya kan?"
"Mana mungkin lupa. Nggak akan lupa."
"Bahas yang lain yuk?"
"Bahas apa? Bahas kita?"
Adis menaikturunkan Alisnya. Kebiasaan bikin hati kebat-kebit. Mana dia santai lagi, seolah tak baru saja melakukan sesuatu.
"Setelah kupikir-pikir dan kuamati, kau ini bener-bener PD boros. Kau sepertinya sekarang sudah sehat. Ayo keluar! Aku tahu kamu hanya memanfaatkan kesempatan aja kan? Iya kan?"
Langit menatap adis dengan tatapan menyelidik
Adis tertawa, entah untuk yang ke berapa kali. Langit memang selalu menebak dengan Benar. Jadi malu kan Adis.
Ternyata, Beno mendengar percakapan mereka. Dia berdiri di depan pintu, menatap mereka berdua dengan tatapan yang tajam.
"Kau sudah baikan? Urus materi yang sudah masuk di meja kamu. Itu bahan yang akan kita presentasikan ke snazzy. Jaga baik-baik dan pelajari baik-baik materinya."
Beno membanting map yang berisi kertas-kertas ke atas meja dengan kasar.
Beberapa detik kemudian, dia kembali melesat menuju ke tempat duduknya.
"Yaaah, ketahuan." Adis mengerucutkan bibirnya kesal.
"Syukurin. Makanya nggak usah aneh-aneh. Ayo, keluar bareng."
Langit tahu kalau sekarang Adis sudah segar bugar. Dia mencubit lengan baju Adis, dan menyeret perempuan itu agar cepat turun dan melaksanakan tugasnya. Lagi pula, Langit tidak suka kalau Adis terlalu centil terhadap Beno.
"Oe tunggu, jangan main seret. Pizzaku ketinggalan."
Adis masih sempat-sempatnya mengambil keempat pizza yang masih tersisa, dia membawanya dengan susah payah, lalu dia mengikuti langit yang menyeretnya keluar sambil tertawa kecil. Langit benar-benar memperlakukannya seperti kucing yang ditarik dengan tali sama majikannya.
"Nggak ada sopan-sopannya sama sekali. Mengucapkan terima kasih aja nggak. Dasar!"
Beno menoleh ke arah mereka berdua, dan menatap punggung mereka dengan kesal.